Suara Pembaca

Tragedi Dul

Jumat 8 Zulkaedah 1434 / 13 September 2013 16:24

islampos tragedi dul Tragedi Dul

Oleh : Henny (Ummu Ghiyas Faris), aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia

KECELAKAAN maut di Tol Jagorawi Ahad dini hari lalu, tercatat enam orang tewas dan beberapa orang luka-luka. Musibah kecelakaan maut yang dialami oleh Abdul Qodir Jaelani (Dul) putra ketiga selebritis di negeri ini Ahmad Dhani dan Maia Estianti menyedot perhatian masyarakat. Anak ketiga Ahmad Dhani itu diduga menjadi penyebab kecelakaan, karena mobil yang dikendarainya terbang ke jalur melawan arah dan menabrak dua mobil. Dul yang merupakan Personel Band The Lucky Laki itu memang mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Diketahui Dul ini terbilang sangat muda 13 tahun, tentu saja Dul belum mendapatkan izin memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Polisi memastikan bahwa Dul tidak mengantongi SIM saat mengalami kecelakaan maut (liputan6.com, 09/09/2013). Dikutip dari tribunnews.com (Minggu, 9/9/2013) Polda Metro Jaya akhirnya menetapkan Ahmad Abdul Qodir Jaelani (Dul) sebagai tersangka kasus kecelakaan maut di ruas Tol Jagorawi di KM 8.200 yang menewaskan 6 orang dan 9 lainnya luka-luka. Banyak pihak yang menilai status tersangka yang disandang oleh Dul, masih terlalu dini. Banyak yang berharap, jika pihak yang berwajib bisa menemukan solusi lain.

Musibah kecelakaan maut ini tentu sangat mengguncang jiwa Dul. Pemerhati anak dan ahli psikologi anak, Kak Seto Mulyadi mengungkapkan bahwa Dul butuh pendamping untuk menyembuhkan kondisi psikisnya. Kedua orang tuanya harus bertanggung jawab penuh atas musibah kecelakaan maut yang menyebabkan 6 orang tewas seketika. Namun, tanggung jawab yang dibebankan kepada anak di bawah umur, merupakan restoratibe justice, sebaliknya orangtua harus menunjukkan kemampuannya dalam memerankan sosok figur dan pelindung bagi kehidupan anak-anaknya. Musibah kecelakaan ini pun mensinyalir bahwa Ahmad Dhani dan Maia Estianty lalai dalam mendidik anaknya.

Perceraian Ahmad Dhani dan Maia Estianty memang telah lama terjadi, namun ternyata hal itu masih menyisakan dampak yang kurang baik kepada anak-anaknya, di mana Dul nyatanya tumbuh menjadi anak yang labil karena tak didampingi dengan kasih sayang yang utuh oleh kedua orangtuanya.

Kisah hidup Dul hanyalah secuil fakta yang berbicara bahwa sistem kehidupan sekular-kapitalistik sangat potensial untuk mengkondisikan anak terdidik menjadi materiilistis. Segalanya standar dalam kehidupannya ditetapkan hanya berdasarkan pada materi. Makin jauh dari nilai-nilai ruhiyah, anak pun jadi termanjakan dengan gelimang harta.

Inilah gaya hidup anak dan remaja saat ini. Mereka terjebak materi hingga tak mampu keluar maupun berbuat apa-apa jika tanpa uang. Pemberian fasilitas pribadi anak berupa mobil pribadi tentu bukan pilihan bijak jika ingin mendidik anak menjadi lebih pengertian, dan tahan banting dalam segala cobaan kehidupan. Belajar hidup susah memang jauh lebih sulit dibandingkan belajar hidup mewah. Wallahu A’lam Bish-Shawwaab. []

Redaktur: Hanifah Qomariah



Peluang