ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Tiga Orang dalam Gua

0

Advertisements

Oleh: Tugiarti
Anggota Kelas Menulis Islampos, Penulis tinggal di Lampung

 

ORANG yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dilarang putus harapan. Setiap masalah yang hadir pasti ada solusinya. Meskipun menurut akal sehat tidak mungkin. Tapi bagi Allah sangatlah mudah. Manusia hanya perlu berusaha. Hasil akhir, Allah yang menentukan.

Azzamkan beramal sholeh hanya mengharap wajah-Nya. Amalan sholeh dapat digunakan sebagai perantara -wasilah-. Dalam rangka memohon pertolongan Allah. Merendah kepada Allah agar permohonan diijabah.

Seperti yang dikisahkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaih Wassalam kepada para sahabat. Tentang tiga lelaki dalam gua.

Mula-mula, tiga orang laki-laki sedang berjalan. Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Mereka berteduh dalam gua. Qodarullah, gunung runtuh. Batu besar jatuh, tepat menutupi mulut gua. Terperangkap dalam kegelapan. Tak setitik cahaya pun menembusnya.

Salah satu diantara mereka bertutur, “Perhatikanlah amalan kalian. Adakah amalan yang dilakukan hanya karena Allah. Mari kita berdo’a kepada Allah. Mudah-mudahan dengan perantara amalan tersebut, Allah menolong kita”.

Diawali dengan laki-laki pertama menyeru, “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai ayah dan ibu yang renta. Pun padaku ada anak kecil. Aku adalah penggembala kambing. Ketika aku memulangkan mereka, aku perah susunya. Terlebih dahulu aku berikan kepada kedua orang tua. Setelahnya aku meminumkan ke anakku.

Related Posts
1 of 4

Suatu hari aku menggembala ke tempat yang jauh. Setibanya di rumah, ayah dan ibu telah tidur. Aku berdiri disamping keduanya. Memegangi wadah susu. Aku tidak suka, jika harus membangunkannya. Begitu pula bila anakku mendahului minum susu. Anakku terus merengek. Demikianlah sikapku hingga terbit fajar. Jika Engkau berkenan, yang aku lakukan hanya mencari wajah-Mu. Bukalah satu celah hingga kami bisa melihat ke langit”.
Maka Allah menggeser batu besar. Terbuka celah untuk menatap langit.

Dan berucap lelaki yang kedua.

“Ya Allah, sesungguhnya pamanku memiliki anak perempuan. Aku mencintainya. Layaknya cinta jejaka kepada dara. Aku mengajaknya berzina. Dia menolak. Sampai aku datangkan kepadanya seratus dinar. Aku berusaha dan jumpainya dengan seratus dinar ditangan.

Ketika aku telah duduk diantara dua kakinya. Dia berkata, ‘ya hamba Allah, takutlah kepada Allah. Janganlah kau lakukan kecuali telah halal’. Maka aku pun berdiri dan pergi. Jika yang aku lakukan benar-benar mengharap wajah-Mu, longgarkanlah batu yang menghalangi”.

Dengan izin Allah, batu besar bergeser lagi.

Lelaki ketiga berkata, “ya Allah, sesungguhnya aku mempekerjakan seseorang. Upahnya sebanyak takaran beras. Ketika hendak dibayar, dia pergi meninggalkannya. Kemudian upahnya aku kelola hingga semakin besar.
Beberapa lama berlalu. Dia datang dan menanyakan upahnya. Lalu aku katakan, ‘pergilah ke penggembala sapi, itu semua milikmu’. Dia pun pergi dengan membawa semuanya. Jika Engkau mengetahui yang aku lakukan semata-mata mengharap wajah-Mu. Bukakanlah pintu untuk kami keluar”.

Allah mengijabahi pinta mereka. Batu besar kembali bergeser. Akhirnya mereka bisa keluar dengan selamat. Waallahu musta’an. []

tugiarti@kelasmenulis_05022018.

Artikel Terkait :

loading...
loading...

Sponsored

Maaf Anda Sedang Offline