islampos
Media islam generasi baru

Rencana Mati, Rencana Hidup

Foto: SuratKabar.ID
0

“Ya Allah aku bersumpah padamu!” kata Abdullah ibn Jahsy di malam perang Uhud, “Bahwa besok pagi aku akan bertemu musuh. Aku akan membunuh mereka, dan mereka akan membunuhku. Lalu mereka akan membedah perutku, mengiris hidung-hidungku dan mencarah telingaku. Lalu, aku akan menghadap-Mu dan Engkau bertanya kepadaku, “Demi siapa ini semua?”, dan aku akan menjawab, “Untuk-Mu.”

Dengan menitikan air mata, Sa’d ibn Abi Waqqash yang mengisahkan doanya bersama Abdullah ibn Jahsy berkata, “Kami mendapatkan apa yang kami mohon. Tapi Abdullah lebih baik daripada doaku. Aku berdoa kepada Allah agar bertemu musuh yang kuat, lalu aku mengalahkannya dan mengambil rampasannya. Dan dia berdoa untuk menghadap Allah dalam keadaan yang paling diridhai-Nya. Dia mendapatkannya. Dia mendapatkannya…”

Mencita-citakan kematian? Merencanakannya dengan doa dan upaya? Ya, sebaiknya memang begitu. Karena kita, di jalan cinta pejuang diperintahkan untuk bertaqwa, dan jangan mati kecuali dalam keadaan muslim yang mulia. Maka alangkah bermakna seorang shahabat yang menolak rampasan perang dan berkata, “Tidak Ya Rasulullah, bukan untuk ini. Aku berperang agar ini!” Ia menunjukkan satu titik di nadi lehernya. “Kalau dia jujur kepada Allah”, kata sang Nabi, “Dia akan mendapatkan apa yang dicintakannya.” Dan benar, di perang berikutnya ia mendapatkannya. Sebuah anak panah menancap tepat dititik yang dulu dia tunjuk dengan jarinya.

Umar Ibn Al-Khattab suatu hari juga berdoa dengan pinta yang membuat Hafshah kaget. “Ya Allah, matikan aku sebagai syahid di tanah Nabimu.”

“Ayah… Apakah engkau ingin syahid di Madinah ini, di haram Nabi SAW? Mengapa bukan di medan jihad Syam atau Persia? Apakah itu berarti musuh-musuh Allah akan kembali menyerang dan menghancurkan kota penuh berkah ini?”

“Hafshah puteriku… Allah Maha Kuasa untuk mengabulkan permohonan hamba-Nya tanpa mengubah karunia-Nya bagi yang lain.” Dan Umar benar-benar syahid di mihrab kekasihnya, dengan tikaman Abu Lu’lu’, pendendam besar dari Persia. []

Sumber: Jalan Cinta Para Pejuang/Salim A. Fillah/Pro-u Media

loading...
loading...