ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Norak

Foto: Tempo
0

Oleh: Tere Liye

Seorang istri Jenderal Polisi menampar petugas Avsec di Bandara Sam Ratulangi Manado, 5 Juli 2017. Apa pasalnya? Emak-emak istri jenderal ini tidak melepas jam tangan saat melintasi pemeriksaan x-ray.

Diperingatkan oleh petugas, dia marah. Ditamparnya petugas wanita tersebut, kayak lagi nampar babu-nya. Kalian sudah lihat videonya? Jelas sekali di video tersebut kelakuan ajaib ini.

Kasus ini harus dibawa ke lembaga hukum. Titik. Tidak bisa cuma cincay selesai dengan maaf-maafan. Karena masalah ini bukan soal emak-emak ini dengan petugas Avsec, bukan. Masalah ini tentang keselamatan penerbangan nasional. Emak-emak ini bisa minta maaf ke petugas, masalah diantara mereka berdua selesai, tapi secara nasional, masalah ini harus dibawa ke pengadilan. Jika selesai di belakang, lemah, lemaaah banget penegak hukum di negeri ini. Sialnya, jangan-jangan kasus ini memang akan selesai di belakang. Maka saya memutuskan menulisnya, agar semakin banyak yang tahu.

Saya bosan sekali dengan kelakuan oknum pejabat, istri pejabat, di bandara. Beberapa tahun lalu, saya sudah menulis tentang ini. Siapa sih paling nyolot di bandara itu? Orang-orang itu saja sebenarnya. Tampar-menampar ini sudah sering. Muak bacanya. Tapi ada loh yang lebih heboh, ada pejabat levelnya cuma ecek-ecek saja, dia menutup bandara karena kesal. Apa penyelesaian kasus ini? Lemaaah banget penegak hukum. Padahal crazy, saat dia melakukan itu, penumpang di atas langit sana gimana coba? Pesawat mau mendarat gimana? Kalau di LN, kelakuan begini masuk pasal terorisme tingkat tinggi, pelaku dikirim ke penjara Guantanamo sana.

Entah apa yang ada di kepala orang-orang sombong ini. Kenapa dia harus menampar petugas? Apa dia merasa keren sekali naik pesawat?

Kalau mau sombong2an, bukan cuma kalian saja yg bisa naik pesawat, Tuan, Nyonya. Saya misalnya, cuma penulis yg buku2nya lebay, dalam setahun, saya minimal naik 100 kali penerbangan. Jika jadwal saya ketat sekali, sehari bisa 4x naik pesawat berpindah2 kota. Maka bayangkan, betapa tersiksanya saya bertemu dengan kawanan ini di bandara. Saya butuh kecepatan, biar tidak ditinggal pesawat, eh ada yang nyolot.

Saat pemeriksaan X-Ray, mereka susaaah sekali disuruh lepas jam tangan, ikat pinggang. Duuhh, coy, kalau situ memang sering naik pesawat, situ bahkan tdk akan pakai jam tangan, ikat pinggang lagi persis saat masuk bandara. Biar semua cepat, ringkas. Kawanan ini masih mending jika nurut lepas, ada yang ngotot dulu, bertengkar dulu, menantang petugas. Saya berkali-kali, berkali-kali menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Dia kira itu drama telenovela, serial India, bukan! Saya ajarkan Matematika, dek, jika ada 1 orang menghambat pemeriksaan selama 2 menit, bayangkan jika ada 10 orang yg juga begitu, melepas ikat pinggang, melepas jam tangan, lelet banget, itu berarti 20 menit. Lu kira lu doang yang naik pesawat? Yang di belakang ada yang harus bergegas mengejar boarding.

Petugas bandara itu memang “bukan siapa-siapa” dibanding istri jenderal. Tapi mereka punya tugas penting sekali. Lebih penting dari istri Jenderal. Saya juga beberapa kali tidak setuju dengan cara petugas bandara.

Misalnya, di pintu masuk paling depan bandara Bandung, penumpang harus memperlihatkan kode booking tiket, itu di bandara-bandara top LN sudah tidak lagi dipakai–karena tidak banyak manfaatnya. Tapi mau bagaimana, kalau petugas bandara Bandung minta begitu, harus dipenuhi, ya harus dipenuhi sesepele apapun. Apalagi jika itu termasuk yang sangat krusial, seperti pemeriksaan benda logam yang dibawa ke atas pesawat. Wah, bandara-bandara di Indonesia masih mending, di bandara-bandara top LN, kita harus lepas sepatu, mengeluarkan laptop, dll baru bisa lewat.

Semarah-marahnya kita, ingatlah, petugas bandara ini juga manusia. Mereka lelah setiap hari menemui beragam tingkah penumpang. Maka hargailah mereka. Jangan mentang-mentang. Kalau kita minta ditegur dengan sopan, mbok ya kita duluan yang respek dan sopan sama mereka.

Jelas sekali, tidak melepas jam tangan saat melewati pemeriksaan X Ray menunjukkan KITA-lah yang tidak respek duluan. Termasuk petugas ground handling, hargai mereka. Termasuk juga jika maskapai telat misalnya, jangan marahin petugas di loket. Karena mereka itu cuma petugas level bawah, panggil manajernya, panggil direktur, panggil pemiliknya (kalau berani), nah itu baru bisa dimarahin habis-habisan.

Kementerian Perhubungan harus marah soal ini. Tunjukkan marwa korps kalian. Kehormatan. Martabat. Mereka harus membawa kasus ini secara hukum. Jangan biarkan kalian lemah, tidak bisa melindungi petugas kalian. Dan sudah saatnya juga petugas Avsec ini mengeluarkan tajinya. Sekali ada yang bertingkah di bandara, bandel, ngeyel, seret dia ke ruang khusus. Proses. Emak-emak bergaya ini, juga oknum pejabat2 lain, keluarga pejabat2nya, coba saja kalau ke bandara Changi Singapore, terkencing-kencing patuh sekali dengan peraturan sana. Kenapa mereka takut di Singapore? Karena petugas bandara sana galak. Belajarlah dari fakta ini. []

Sumber: Fanpage TereLiye

loading...
loading...