ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Memetik Momentum Yerussalem

0

Oleh: Muhammad Arsyad Arifi
Aktivis Pemuda Muhammadiyah DIY, arsyadarifi@gmail.com

 

KEJADIAN paling fenomenal sepanjang milenium ketiga saat ini adalah pengakuan sepihak Yerussalem sebagai ibukota Israel oleh Amerika Serikat. Sebagai anggota Dewan Keamanan PBB dan negara adidaya Amerika Serikat tentunya memiliki suatu kekuatan intervensi yang besar atas dunia ketiga atau meminjam istilah Prof. Dr. Amien Rais sebagai negara satelit. Keputusan yang fenomenal tersebut tak lepas dari peran presiden barunya, Donald Trump yang sangat kontroversial sejak kemunculannya di berbagai kampanye pilpres kemarin. Dalam kampanyenya ia mempropagandakan akan mengusir seluruh kaum muslim di seluruh belantara Amerika. Tentunya penolakan terjadi di mana-mana, termasuk oleh warganya sendiri yang beragama kristen dan yang memiliki akal sehat.

Ketika terpilih menjadi presiden, meletus demonstrasi di berbagai negara bagian. Warga turun ke jalan-jalan di kota-kota besar, termasuk di Los Angeles, Philadelphia, Denver, dan Minneapolis. Mereka meneriakkan yel-yel Trump “bukan presiden saya” (BBCIndonesia,11/11/16) Begitu terpilih, berbagai kebijakan yang meresahkan dunia dilakukan, misalnya memblacklist beberapa negara Islam dan melarang penduduknya untuk masuk ke Amerika.

Ketika kini ia memutuskan dan mengklaim Yerussalem menjadi ibukota Israel dan melanggar resolusi PBB tentang hal itu, para pemimpin dunia banyak yang mengecamnya. “Kami tidak setuju dengan keputusan AS untuk memindahkan kedutaannya ke Yerusalem dan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel sebelum kesepakatan status akhir. Kami percaya bahwa ini tidak membantu dalam hal prospek perdamaian di wilayah ini.” tukas Perdana Menteri Inggris, Theresa May.

Selain itu Uni Eropa juga menentang kebijakan tersebut dan disampaikan oleh Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, “Keputusan sepihak seperti itu melanggar resolusi internasional dan tidak akan mengubah status hukum kota Yerusalem, karena berada di bawah pendudukan.” Serta penolakan paling keras muncul dari Presiden Turki, Reccep Tayyip Erdogan, yang mengatakan bahwasannya Al-Quds adalah “garis merah” bagi umat Islam. Maka dari itu HAMAS pasukan Palestina, mengatakan bahwasannya Trump membuka gerbang neraka bagi umat Islam dan HAMAS juga menyerukan intifadah terhadap Israel dan Donald Trump.

Jokowi juga mengecam keputusan Trump ini waktu menyambut ICMI di Istana Bogor, Kamis (7/12) “Indonesia mengecam keras pengakuan sepihak Amerika Serikat terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel. Dan meminta Amerika Serikat mempertimbangkan kembali keputusan tersebut,” Berbagai ormas dan partai silih berganti berdemo di kedubes Amerika. Beberapa hari yang lalu NU dan PKS menggelar demo didepan kedutaan dan presidium alumni 212 juga tengah menyiapkan massa untuk unjuk rasa.

Seolah kita dihadapkan kepada suatu konfrontasi yang luar biasa yang dipropagandakan oleh Amerika. Akan tetapi dapat kita lihat dalam beberapa kasus yang telah berlalu, seperti kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama. Dalam kasus tersebut berjuta-juta umat Islam dari berbagai kelompok dapat menyatukan suara menyerukan dipenjaranya Ahok. Dr. Lathifah Ibrahim Khaddar mengatakan bahwasannya dalam kancah politik, ada musuh bersama bisa menghasilkan tujuan bersama. Skala konfrontasi yang besar juga menimbulkan

Suatu persatuan yang besar. Klaim sepihak Trump terhadap Al-Quds, menimbulkan kemarahan umat Islam seluruh dunia. Kesamaan reaksi tersebut dapat menimbulkan suatu kesamaan tujuan dan bersatunya umat Islam. Inilah titik bangkit umat Islam!

Maka dari itu ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai umat Islam,

1. Merangkul Satu Sama Lain dan Mengesampingkan Khilafiyah

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali-Imran [3] :103)

Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari menyatakan bahwasannya persatuan merupakan Maqashid Syari’ah (tujuan syari’at) terpenting di agama Islam. Demi tercapainya tujuan ini, kita hendaknya mengesampingkan khilafiyah yang bersifat furu’i seperti qunut, tahlilan, isbal, berjenggot, dan imamah. Dengan bersikap demikian kita bisa saling merangkul dan merapatkan barisan menjemput kemenangan atas Al-Quds.

2. Shalat Shubuh Berjaamaah

Seorang ulama besar Pakistan, Syaikh Maulana Tariq Jamil Menyampaikan pengalaman dakwahnya ketika pergi ke daerah perbatasan Yordania-Israel. Disana, saat selesai menunaikan ibadah shalat shubuh di masjid, ada seorang tentara Israel yang melihat sebentar ke dalam masjid, setelah melihat lantas prajurit Israel tersebut pergi dari masjid, maka Syaikh Maulana Tariq Jampil menghampiri tentara tersebut, dan bertanya apa yang dilakukan tentara tersebut.

“Saya Hanya Ingin melihat jumlah orang islam yang shalat shubuh berjama’ah di masjid” jawab tentara itu.

“Kenapa ?” tanya Syaikh Maulana Tariq Jamil.

“Karena menurut kitab suci kami, saat di seluruh dunia jumlah jama’ah shalat subuh menyamai jumlah jama’ah shalat jum’at maka Israel akan hancur “ jawab tentara itu lagi.

Selain itu, jika jumlah jamaah shalat Shubuh sepertihaalnya jumlah shalat jum’at hal ini menandakan tebalnya iman kaum muslimin. Jika iman telah tebal dicabutlah penyakit wahn dari kita, yakni rasa takut kaum muslimin akan kematian, musuh dan serta kecintaan terhadap dunia.

3. Berjihad di Jalan Allah

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْـجِهَادُ فِـي سَبِيْلِ اللهِ

“Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah” Shahih: (HR. at-Tirmidzi (no. 2616))

Menurut al-Hafizh Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (w. 852 H), “Jihad menurut syar’i adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk

memerangi orang-orang kafir.” Mungkin dalam konteks kasus Trump ini, definisi ini bisa digunakan dalam taraf normatif. Akan tetapi bagaimana cara kita berjihad ?

جَاهِدُوْا الْمُشْرِكِيْنَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ

“Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta, jiwa, dan lisan kalian.” Shahih: HR. Ahmad (III/124), an-Nasa-i (VI/7)

Berjihad disini adalah sesuai kelebihan masing-masing. Bagi yang memiliki kekuasaan bisa mengecam dan mengancam Trump dan Israel secara hubungan multirateral. Sedangkan yang bisa menulis hendaklah berjihad dengan menulis dan terjun dalam perang media. Selain itu yang memiliki harta bisa menginfakkan hartanya untuk meringankan beban para korban pendudukan Israel di Palestina. Bagi yang memiliki akses untuk berjihad dan bergabung dengan pasukan keamanan PBB atau HAMAS silahkan, jika itu merupakan cara terakhir untuk berjihad. Jihad disini sesuai kapabilitas masing-masing individu. Jihad bisa berbagai cara, dan apapun yang bisa diupayakan terbaik menurutnya itulah jihad baginya.

Beberapa hal diatas adalah segelintir cara untuk menyambut kemenangan Islam atas Al-Quds, Yerussalem. Kita harus mengupayakannya seaksimal mungkin, karena kemenangan tak akan terwujud tanpa adanya persatuan. Wallahua’lam bishawab. []

 

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun
loading...
loading...