• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Jumat, 18 September 2026
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos
[adinserter block="1"] [adinserter block="17"]

Malu Makan saat Ramadhan

by Adam
8 tahun ago
in Wacana
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Foto: FamilyDoctor.org

Foto: FamilyDoctor.org

[adinserter block="3"] [adinserter block="19"]

Oleh: Savitry ‘Icha’ Khairunnisa
Kontributor Islampos, tinggal di Norwegia

MASALAH makan di tempat umum ketika Ramadhan selalu saja jadi topik yang tak pernah usang bagi masyarakat Indonesia tercinta. Soal etis atau tidaknya. Soal siapa yang harus dihormati: yang berpuasa atau yang tidak berpuasa. Dan seterusnya.

Alhamdulillah hal itu nggak jadi masalah bagi keluarga kami. Akibat “salah perhitungan” ketika membeli tiket mudik, maka kami akan menghabiskan bulan Ramadhan sepenuhnya di Norwegia. Bahkan kemungkinan kami akan tiba di tanah air pada malam takbiran atau hari pertama Lebaran.

Keuntungan berpuasa jauh di tanah air adalah ketiadaan godaan bernama makanan yang melimpah, baik di meja makan sendiri, bazar Ramadhan, pusat perbelanjaan, restoran, atau warung.

ArtikelTerkait

O Ternyata Ini 3 Arti Istilah “Nggak Ada Obat”!

Damaskus Jatuh, Basyar Al-Assad Dilaporkan Kabur; Akhir 50 Tahun Kekuasaan Keluarga Assad?

Ga Bisa Baca Hadist

Gendong Ala Drakor

Memang kalau kami jalan ke pusat kota di sini, semua restoran dan kafe buka. Bahkan, para pengunjung juga menikmati makanan dan minuman mereka di luar restoran, sambil menikmati matahari musim panas. Belum lagi banyak orang lalu-lalang sambil menikmati es krim atau minuman dingin.

Tapi ya, sebatas itu saja. Godaan itu tak ada apa-apanya dibandingkan situasi berpuasa di tanah air. Kami juga tak merasa lapar atau haus berlebihan, karena meski namanya musim panas, tapi temperaturnya tak pernah melebihi 20 Celcius. Masih adem dan menyenangkan untuk puasa berdurasi panjang. Alhamdulillah.

Di Indonesia sungguh berbeda. Saya menyebutnya kontras dan ironis. Pemandangan yang sama saya dapati setiap jalan ke pusat keramaian di waktu Ramadhan. Tempat makan tetap buka. Ada yang tertutup tirai, ada yang terbuka blak-blakan. Yang makan di sana pun beragam manusianya.

Kalau ada wanita berkerudung makan siang di bulan puasa, kita otomatis bisa berprasangka baik bahwa dia sedang berhalangan.

Tapi aneh dan ajaibnya (setidaknya demikian yang saya dapati ketika mudik tahun lalu), tak sedikit wanita berkerudung yang makan siang bersama pasangannya (lelaki). Wallaahu a’lam.

Fatih beberapa kali bertanya heran, kenapa banyak orang dewasa yang nggak puasa? Apa mereka nggak malu sama anak kecil yang puasa (seperti dirinya)? Mak jleb!

Ketika kami tinggal di Kuala Lumpur dulu, restoran dan kafe memang tetap buka. Tapi yang makan di sana kebanyakan anak-anak, wanita berkerudung (yang semoga memang sedang berhalangan), dan mereka yang berwajah oriental atau India. Para lelaki berwajah Melayu yang duduk di sana biasanya hanya menemani saja. Itupun mereka tampak agak risih duduk-duduk di restoran di jam puasa.

Tahun ini saya memang tak bisa menyelami langsung. Tapi lewat tayangan TV atau pemberitaan media, saya tahu bahwa situasinya masih belum berubah. Yang paling mutakhir, ya, razia warung Bu Saeni di Serang tempohari. Soal penggerebekan ini saya tak akan bahas, karena sudah banyak ahli yang membahas. Lagipula saya juga cuma tahu informasinya secara sepotong. Jadi tak berani saya berpendapat lebih jauh. Cuma bisa ikut senang dengan rizki Bu Saeni berkat kekompakan netizen yang mengumpulkan donasi sampai seratusan juta untuk beliau. Bagaimana pun caranya, yang namanya rizki nggak akan pernah tertukar.

Dan saya hanya bisa berdoa semoga peristiwa itu bisa diambil hikmahnya oleh kita semua.

***
Jadi, perlukah kita (muslim dan non-muslim yang tinggal di negara mayoritas muslim) merasa malu ketika makan di tempat umum pada bulan Ramadhan?

Menurut saya, sebaiknya perlu. Terlebih di Indonesia yang jumlah muslimnya terbesar di dunia. Dan seluruh rakyat Indonesia, muslim atau bukan, tahu apa makna bulan Ramadhan.

Nggak ada salahnya bukan, kita semua belajar menahan diri untuk tidak terang-terangan makan ketika orang lain sedang berpuasa? Bukan berarti yang tidak berpuasa (non-muslim atau mereka yang punya udzur syar’i atau anak-anak) tidak boleh makan di tempat umum. Hak mereka tentu harus dihormati. Bisa toh, mereka mengonsumsi makanan yang mereka beli itu di tempat tertutup atau pribadi? Saya yakin bisa saja.

Karena di alam demokrasi, hak seseorang juga dibatasi oleh hak orang lain. Dalam hal ini hak orang berpuasa untuk dihormati.

Bukan masalah kekuatan iman, ya. Katanya, kalau imannya kuat, biarpun makanan lewat di depan hidungnya, ya tetap puasa saja.

Ini mungkin berlaku buat muslim minoritas di mana kaum minoritas nggak ngeh apa itu Ramadhan.

Kalau di Indonesia dan negara muslim lainnya?

Masalahnya, di Indonesia ini bukan cuma non-muslim dan muslim yang dapat keringanan saja yang tidak berpuasa Ramadhan. Para lelaki muda, kuat, dan sehat pun banyak sekali yang dengan sengaja meninggalkannya, dengan atau tanpa alasan.

Mungkin yang muslimah juga ada yang begitu, tapi harus ditanya langsung, karena kondisinya nggak segamblang para pria muslim muda, kuat, dan sehat itu.

Ini salahnya di mana, ya? Prihatin juga saya memikirkannya. Perlu edukasi dan pencerahan yang lebih nampaknya.

***

Anyway, saya yakin kita dan keluarga kita tidak termasuk golongan yang meremehkan Ramadhan. Bulan yang datangnya cuma setahun sekali, masak dijalani sama saja dengan 11 bulan lainnya? Saya yakin tidak.

Bersyukurlah kalau kita termasuk kelompok yang memuliakan Ramadhan. Kelompok yang kuat iman sekaligus bertoleransi pada hak orang lain yang tidak berpuasa.

Tugas kita, terutama para ibu (karena sepertinya para pembaca dan komentator status-status saya adalah kaum ibu / calon ibu), adalah memperkuat landasan iman diri sendiri dan keluarga. Ingatlah bahwa kita sedang mempersiapkan generasi penerus yang beriman dan tangguh.

Saya teringat pesan Fatih, “Kalau Bunda lagi ‘libur’, makannya jangan pas ada aku, ya. Nanti aku jadi kepingin”.
Dan saya pun jadi merasa malu kalau makan di depan anak dan suami ketika mereka sedang berpuasa.

Menguatkan fisik dan mental anak-anak kita ini yang harus jadi fokus. Karena merekalah yang masih lentur untuk dibimbing.

Itu saja. Semoga berkenan. []

Tags: bulan puasabulan ramadhanmakannorwegiaNoteRamadhanramadhan norwegia
ADVERTISEMENT
Previous Post

Waktu, Tempat dan Rakaat Shalat Tarawih

Next Post

Saat Jam Sahur, Pemuda Palestina Bentrok dengan Tentara Israel

Adam

Adam

Dengan Ilmu, engkau berani bertindak dan dapat menahan diri untuk diam

Related Posts

Nggak Ada Obat, Potongan Rambut Laki-laki yang Tidak Diperbolehkan dalam Islam

O Ternyata Ini 3 Arti Istilah “Nggak Ada Obat”!

13 Desember 2024
Damaskus

Damaskus Jatuh, Basyar Al-Assad Dilaporkan Kabur; Akhir 50 Tahun Kekuasaan Keluarga Assad?

8 Desember 2024
Kitab Taurat, Hadist, Bani Israil, Zabur

Ga Bisa Baca Hadist

10 Agustus 2024
Sikap Suami yang Harus Disyukuri Istri, , Nikah, Tips yang Harus Dikuasai Istri Agar Suami Betah di Rumah, Sifat Istri yang Mendatangkan Rezeki bagi Suami, Drakor, Istri

Gendong Ala Drakor

10 Agustus 2024
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

by Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

by Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

by Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

No Content Available
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.