• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Minggu, 5 April 2026
Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos

Hakikat Ikhlas

by Rifki M Firdaus
8 tahun ago
in Tsaqofah Ramadhan, Ramadhan
Reading Time: 1 min read
A A
0
Ilustrasi: Liputan7

Ilustrasi: Liputan7

KETAHUILAH bahwa setiap sesuatu bisa ternoda oleh yang lain. Jika sesuatu itu bersih dan terhindar dari kotoran, maka itu dinamakan khalish (yang bersih). Pekerjaan membersihkan disebut ikhlash.

Allah berfirman: “(berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya.” (an-Nahl: 66)

Lawan ikhlas adalah syirik. Siapa yang tidak ikhlas adalah musyrik, hanya saja syirik itu ada beberapa tingkatan. Ikhlas dan lawannya senantiasa datang kepada hati. Jadi tempatnya adalah hati dan hal itu hanya berkenaan dengan tujuan dan niat.

Disebutkan bahwa hakikat niat itu mengacu kepada respon berbagai hal yang membangkitkan. Bila faktor pembangkitnya hanya satu maka perbuatan itu disebut ikhlash dalam kaitannya dengan apa yang diniatkan.

ArtikelTerkait

Yang Biasanya Dibeli oleh Anak-anak 90-an ketika Lebaran

7 Tips bagi Penderita GERD saat Lebaran agar Tetap Sehat dan Nyaman

Puasa Syawal Dulu Atau Puasa Qadha Ramadhan?

Apa Jawaban Taqabbalallahu Minna wa Minkum?

Siapa yang bershadaqah dengan tujuan riya’ (pamrih kepada manusia) semata-mata maka dia (secara bahasa) disebut sebagai orang yang mukhlish. Siapa yang tujuannya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah maka dia juga disebut orang yang mukhlish.

Tetapi sudah menjadi tradisi bahwa istilah ikhlash itu khusus berkenaan dengan tujuan semata-mata mencari taqarrub kepada Allah dan pelakunya disebut mukhlish, sebagaimana istilah ilhad berarti kecenderungan tetapi sudah menjadi tradisi istilah ini ditanami sebagai penyimpangan dari kebenaran. Siapa yang pembangkitnya semata-mata riya’ (pamrih kepada manusia) maka dia terancam kehancuran.

Mari kita belajar untuk ikhlas. Karena amal tanpa ikhlas adalah sia-sia.[]

Sumber: Intisari Ihya ‘Ulumuddin al-Ghazali Mensucikan Jiwa/ Disusun Oleh: Sa’id Hawa/ Penerbit:Robbani Press

Tags: hakikatIkhlas
Previous Post

Pembalasan Singa yang Terluka

Next Post

Tak Ikhlas saat Shalat, Apa Dampaknya?

Rifki M Firdaus

Rifki M Firdaus

Please login to join discussion
Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.