• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Sabtu, 4 April 2026
Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos

Eet Syahrani

by Dini Koswarini
6 tahun ago
in Wacana
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Foto: Instagram | Majalah Hai

Foto: Instagram | Majalah Hai

Oleh: Saad Saefullah

KELAS 5 SD, tahun 1988. Kami berenam duduk melingkar di saung kebun milik Dani Wira. Satu pohon coklat, dan empang yang luas, dan Sabtu sore yang hujan. Kami berbicara ingin jadi apa. Giliran saya, hanya ada dua cita-cita di kepala. Jadi gitaris seperti Eet Syahrani. Dan jadi penulis karena terinspirasi oleh Hilman sampe sering kebawa mimpi.

Eet waktu itu baru saja muncul dengan “Bis Kota”-nya mengiringi Iyek (Achmad Albar). Top banget. Kemudian, dia menggantikan Ian Antono di God Bless. Makin kesengsem saja saya. Kalau Anda merasa jago gitar, tapi nggak pernah tau siapa itu Eet, mending ke laut aja, karena Eet pasti lebih jago daripada Anda. Kakak saya laki-laki, wajahnya mirip Eet, jago juga bermain gitar dan memainkan “Bis Kota”. Saya suka melongo kalau melihat dia main di depan saya.

Hilman, saya pertama kali baca Lupus di Majalah HAI bekas, beli di Pasar Jumat seharga 200 perak. Sejak itu saya juga menulis di buku tulis. Pas edisi awal PSBB, saya membaca semua karya Hilman yang ada di rumah, terutama Olga dan Lupus tentu saja.

ArtikelTerkait

O Ternyata Ini 3 Arti Istilah “Nggak Ada Obat”!

Damaskus Jatuh, Basyar Al-Assad Dilaporkan Kabur; Akhir 50 Tahun Kekuasaan Keluarga Assad?

Ga Bisa Baca Hadist

Gendong Ala Drakor

Seiring usia, keinginan jadi kayak Eet menguap. Bukan apa, kelas 3 SMA, saya malah jadi nge-fans sama Ahmad Dhani. Tapi keinginan menulis tak pernah padam.

Waktu itu, saat melingkar itu, semua sahabat masa kecil menyatakan mendukung saya menulis. Mereka menceritakan ide-ide dan saya kebagian menuliskannya. Cerita pertama kami adalah tentang pendekar, karena waktu itu kami baca Wiro Sableng “Empat Brewok dari Gua Sanggreng” di mushola kampung saat orang pada tarawih.

Tapi selain para sahabat, tak ada yang percaya saya bisa jadi penulis. Tahun 1988, di kampung kecil, tak akan ada yang yakin, engkau bisa hidup dari melakukan hal seperti itu.

Akhir kelas 3 SMA, tahun 1995, hampir saja saya ingin jadi guru. Teman sebangku mengatakan ia ingin jadi penulis. Tahun 2005, ia jadi seorang guru, dan saya hidup dari menulis.

Saya ga kaya banget dari menulis. Tapi saya hidup. Sampai saat ini, menulis adalah anugerah dari Allah SWT yang membuat saya diamanahi istri dan tiga orang anak. Tahukah Anda, kalau Anda ingin jadi penulis, Anda bisa memulainya sekarang juga. Menulis adalah satu jendela yang selalu terbuka untuk siapa saja. Saat hendak menulis, kata William Forester, “Mulailah dengan perasaanmu. Setelah itu, menulislah dengan pikiranmu.”

Hiduplah dengan cita-cita, maka engkau akan selalu menemukan tujuan. Seberat apapun keadaanmu. []

Tags: eet syahraniehilman hariwijayaNote
Previous Post

Israel Menahan Imam Besar Masjid Al Aqsa

Next Post

Ya Rasulullah, Sesungguhnya Saya Mencintai Engkau!

Dini Koswarini

Dini Koswarini

Please login to join discussion
Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.