ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Bohong untuk Bercanda, Bolehkah?

Foto: Clearbraces.ie
0

Saat ini banyak orang yang menjadikan kebohongan sebagai sesuatu yang lucu dan dimaksudkan untuk mengundang tawa orang lain. Waspadalah karena sebenarnya hal ini justru dapat membuat kita celaka, sebagaimana hadits Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam:

“Celakalah orang yang berbicara, padahal ia berbohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Mengapa demikian? Bukankah maksudnya hanya iseng saja? Mengapa Islam tidak memperbolehkan bercanda?

Eit, jangan salah tangkap, yang tidak diperbolehkan hanyalah perkataan dustanya, canda itu sendiri diperbolehkan. Bahkan Rasulullah pun suka bercanda dengan keluarga dan sahabat beliau.

“Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR Ahmad, sanad shahih)

Ya tentu saja bercanda dibolehkan namun dusta dilarang karena dalam Islam setiap muslim diajarkan untuk senantiasa bersikap jujur. Bahkan Allah mengutuk orang-orang yang suka berbohong dan sangat ringan mengatakan kedustaan seolah-olah hal tersebut adalah kebenaran:

“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta” (QS Adz Dzaariyaat:10)

Oleh sebab itu, sebagai muslim kita perlu meninggalkan perkataan bohong sekalipun canda, ini adalah bukti kesempurnaan iman kita:

“Seorang hamba tidak beriman dengan sempurna, hingga ia meninggalkan berkata bohong saat bercanda dan meninggalkan debat walau ia benar.” (HR. Ahmad)

Kita pun dilarang bercanda dengan cara berpura-pura mengambil barang orang lain, “Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jaminan surga akan diperoleh orang-orang yang senantiasa jujur bahkan saat bercanda sekalipun, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).[]

Sumber:Ummi

loading...
loading...