islampos
Media islam generasi baru

Drop Out dari Kuliah, Rajesh Manfaatkan Kolong Jembatan untuk Sekolah Anak-Anak Daerah Kumuh

foto: metro.co.uk
0

INDIA—Penderitaan yang dialami anak-anak yang tinggal di daerah kumuh di New Delhi, India membuat hati nurani Rajesh Sharma tergerak.

Dilansir metro.co.uk, Rajesh Sharma mengajarkan anak-anak yang tinggal di daerah kumuh dengan mengandalkan kolong jembatan kereta api sebagai ruangan kelas.

Rajesh sebelumnya adalah seorang mahasiswa di salah satu universitas di India, namun ia terpaksa harus drop out karena alasan keuangan.

Meski dirinya tak sempat bergelar sarjana, namun dengan semangat kemanusiaan ia bertekad untuk berbagi ilmu dengan mengajar kepada anak-anak di daerah kumuh di sana.

Pelajaran dimulai dari pukul 09:00 sampai 14:00 waktu setempat. Kelasnya tersebut dihadiri oleh sekitar 200 anak-anak, beberapa di antara mereka juga belajar di sekolah-sekolah pemerintah yang berada di dekat lingkungan mereka.

Rajesh mengajarkan mata pelajaran bahasa Inggris, Hindi, sains, matematika, sejarah, dan geografi. Saat belajar pun anak-anak tidak memakai kursi, meja, bel atau white board seperti di sekolah pada umumnya. Mereka belajar hanya memanfaatkan papan tulis kayu yang ditempel di dinding bagian jembatan beton kereta api yang masih digunakan.

Rajesh menceritakan awal mula pertemuannya dengan anak-anak di sana. Rajesh menemukan mereka saat ia sedang berjalan-jalan di sekitar area jembatan. Ia melihat anak-anak bermain dalam debu dan lumpur ketika jembatan kereta api itu berada di bawah konstruksi.

Kemudian Rajesh berbicara dengan orang tua mereka dan bertanya,” Mengapa Anda tidak mengirim mereka ke sekolah? “. Mereka menjawab,” Kami ingin mereka mendapatkan pendidikan tapi kami tidak mampu untuk membayar pendidikan dan sekolah pun terlalu jauh. ”

Dengan modal nekat dan tekad, akhirnya Rajesh mulai membuka sekolah untuk anak-anak di daerah kumuh di sana. Pada awal pembukaan sekolah, hanya dihadiri oleh dua atau tiga anak dengan ukuran kelas yang luas.

Saat ini masih belum ada dana dari pemerintah di sana, sehingga pembelajaran bergantung sepenuhnya pada dukungan publik, dengan sumbangan termasuk buku, seragam, sepatu, dan makanan.

Pada hari Sabtu mereka bermain kriket, sepak bola, bulu tangkis, dan permainan lainnya dengan peralatan olahraga hasil dari sumbangan masyarakat umum.

Hari demi hari, Rajesh pun tidak mengajar sendiri, akhirnya ada relawan lainnya yang berasal dari kota.
Dia adalah Umar Imam. Ia merupakan lulusan dari universitas lokal.

Umar mengatakan kepada Pemimpin Weekend,” Mengajar di sana memberikan kepuasan besar kepada saya. Bahkan awalnya, saya hanya mengabdikan mengajar selama 2 jam dalam 3 hari, tapi sekarang saya menambah 4 jam setiap hari.” []

loading...
loading...