Sisi Lain

Uje; The Water Carrier

Senin 18 Jamadilakhir 1434 / 29 April 2013 17:21

 

uje oke

UJE—Ustadz Jefrry Al-Buchory—adalah sebuah galaksi lain di dunia dakwah Indonesia. Ia tidak setenar KH Zainuddin MZ. Juga tidak seterkenal Aa Gym. Pun mungkin jauh dari sosok seperti Ust Ihsan Tandjung yang bersahaja karena kedalaman ilmunya. Ia juga tidak seperti Dr. Hidayat Nur Wahid dari kalangan tarbiyah. Uje adalah Uje. Ia sederhana. Ceplas-ceplos. Ia gaul. Namun ia berdakwah.

Kepergiannya diingat oleh negeri ini dengan penuh duka cita. Uje pergi begitu saja. Ketika ia pergi, ketika puluhan tokoh di Indonesia mengucapkan bela sungkawa dan kesaksian tentang Uje, kita semua baru sadar, bahwa Uje—jika tidak berlebihan—adalah salah seorang yang selama ini menjadi ‘pengangkut air’ dalam dunia dakwah kita. Uje menjadi penyulam yang sering kali luput; anak muda dan dunia artis. Toh, pun begitu Uje sangat khas. Uje adalah Uje, dan The Water Carrier. Simak sosok dan perjalanan Uje di SISI LAIN islampos berikut ini.

Innalillahi, Ustadz Jeffry Al-Buchory Meninggal Dunia

“Inna lillaaahi wa inna ilaihi roojiuun, sesungguhnya semuanya milik Allah dan sesungguhnya semua kembali kepada Allah. Telah pulang ke Rahmatullah sahabat kita Ustadz Jefry AlBukhori, yg akrab kita panggil Uje. Allahummagfirlahu warhamhu… semoga Allah mengampuni semua dosa almarhum, memaafkan semua kesalahan almarhum…aamiin”.

Uje; Dari Dugem Jadi Ustadz Muda Yang Disegani

Dari situlah UJE mulai berdakwah lewat majelis taklim, mushola, mesjid dan perlahan-lahan bisa seperti sekarang ini, dikenal oleh masyrakat banyak dikagumi oleh seluruh kalangan. Dari proses yang sangat sulit, UJE akhirnya bisa berubah secara perlahan atas dukungan, kesabaran, ketabahan dari orang-orang di sekelilingnya yang selalu mendampinginya.

Pesan Uje Saat Masih Hidup: ‘Kalau Hati Galau Jangan Bawa Motor’

Sayang, takdir berkata lain. Uje meninggal dunia pada Jum’at (26/4) dini hari dalam kecelakaan tunggal. Motor Kawasaki E-6n bermesin 650 cc yang ditunggangi Uje hilang kendali dan menabrak pohon hingga rusak parah. Saat kejadian, Uje sudah menggunakan perlengkapan standar berkendara seperti helm.

Steve Jobs, Syeikh Buthi, & Uje

Lihatlah, semua kaum Muslimin di negeri ini haru dalam duka terhadap Uje. Tokoh-tokoh Islam dan orang-orang biasa memberikan kesaksian bahwasanya Uje adalah orang yang baik—sesuatu yang sangat berharga dalam Islam. Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, belum pernah ada seorang pun tokoh di Indonesia yang diiringi, dan dishalatkan dengan jumlah yang demikian banyaknya. Uje sudah membuktikan bahwa media—bahkan sekuler—juga tak melulu memperhatikan soal keberpihakan dan rating, tapi juga tetap menghormati apa yang dilakukan oleh seseorang yang teguh dengan perjuangan Islam. Pun prosesi pemakaman KH Zainuddin MZ pada 5 Juli 2011, tidak sebesar Uje. Walaupun, jelas, amal dan salah, hanya Allah SWT yang berhak menilai.

Ketua KISPA Ust Ferry Nur Ucapkan Bela Sungkawa Kepada Uje

USTADZ Jefry Al Buchori adalah seorang yang sholeh, insya Allah. Terbukti dari banyaknya kalangan yang mengucapkan bela sungkawa atas wafatnya beliau. Salah satunya adalah Ust Ferry Nur, ketua KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina) sebuah lembaga yang konsern terhadap Palestina.

‘Uje Tak Merasa Seorang Ustadz’

Salah satu sumber dari kalangan non-Muslim mengatakan “kehilangan Uje merupakan kehilangan seorang panutan dan idola yang ramah dan menyenangkan, dakwah yang dibawanya pun cenderung universal, bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh semua orang.”

Din Geram Banyak Warga Lakukan Ritual Syirik Di Makam Uje

Terkait kenangan dengan almarhum, Din mengaku sering melakukan kerjasama dengan Uje. Dia mengenangnya karena dia salah satu ustaz yang beda, karena sering memberikan tausiah dengan mencampuradukan ajaran agama dengan seni. “Itu yang orang sebut ustaz gaul, karena dia kalau sedang tauziah menggunakan bahasa-bahasa gaul,” tambah Din.

‘Oke Coy…’, ‘Ya Kan, Fren?’ Sapaan Gaul Uje Kalau Berceramah

Pada 2006 silam, saat Uje berceramah di kota Tegal, sapaan dengan gaya gaul tersebut ternyata cukup ampuh meredam siatuasi. Ribuan anak muda yang riuh berdiri tidak jauh dari panggung tempat Uje berkotbah, dan mereka secara perlahan duduk. “Ya bagus duduk saja seperti itu. Jangan saling dorong. Kalau yang masih muda sih gak pa pa, karena masih kuat fisiknya. Kasihan ibu-ibu yang sudah tua, tidak kuat. Juga di depan ada anak-anak kecil. Oke coy,” sapa Uje ketika itu.

Kisah Hidup Uje (1) Masa Kecil Nakal Tapi Berprestasi

Berada di lingkungan keluarga yang taat agama membuat Uje menyukai pelajaran agama. Sewaktu kelas 5 SD, Uje pernah ikut kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. Selain agama, pelajaran yang juga disukai adalah kesenian. “Entah mengapa, aku suka sekali tampil di depan orang banyak. Oh ya, setelah kenaikan kelas, dari kelas 3 aku langsung melompat ke kelas 5. Jadilah aku sekelas dengan kakakku yang kedua,” kata Uje.

Kisah Hidup Uje (2) Mulai Kenal Dunia Malam

Menurut Uje, masa SMA adalah masa paling suram baginya. Uje merasa tak pernah teman sebaya. Usianya memang masih 15 tahun ketika itu, namun ia bergaul dengan pemuda berusia 20 tahunan. Pacaran pun dengan perempuan yang lebih tua. Di sekolah ini Uje hanya bertahan setahun. Pindah ke SMA lain, keseharian Uje tak jauh berbeda. Malah makin parah.

Kisah Hidup Uje (3) Lupa Diri Karena Ketenaran

Uje semakin merasa bahwa pilihannya tak salah setelah dinobatkan sebagai Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang diadakan TVRI tahun 1991. Uje bangga bukan main, karena merasa menang dari orang tua. Kesombongan Uje makin menjadi. “Aku makin merasa inilah yang terbaik buatku, ketimbang pilihan orangtuaku,” terangnya.

Kisah Hidup Uje (5) Bertemu Pipik Sang Bidadari

Pipik sangat berarti buat Uje. Menurut Uje, Pipik sangat mengerti, peduli dan perhatian padanya. Padahal, Uje sempat hampir menikah dengan orang lain. “Ternyata Allah sayang padaku. Allah menunjukkan, wanita yang nyaris kunikahi itu bukan untukku. Pipik bagai bidadari yang datang dengan cinta yang besar. Ia memberi keyakinan, menikah dengannya akan membawa perubahan besar dalam hidupku,” Uje mensyukuri.

Kisah Hidup Uje (6 – Habis); Hidup Di Jalan Dakwah

Sampai sebelum akhir hayatnya, Uje mengaku masih terus berproses berusaha menjadi orang yang lebih baik. “Semoga, kisahku ini bisa jadi bahan pertimbangan yang baik untuk menjalani hidup. Pesanku, cintailah Tuhan dan orangtuamu, serta pilihlah teman yang baik,” pungkasnya.

Redaktur: Saad Saefullah



Peluang