ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Zakir Naik Banyak Ditanya Soal Memilih Pemimpin, Mengapa?

foto: feedback
0 585

YOGYAKARTA–Kedatangan Zakir naik di Indonesia, disambut penuh antusias oleh masyarakat di seluruh negeri, baik itu Muslim maupun non-Muslim. Terbukti, ribuan kuota peserta yang disediakan panitia pun dinilai masih belum bisa menampung antusiasme masyarakat yang ingin mengenal Islam lebih dalam.

Mungkin juga, para peserta ingin mendengar langsung penjelasan Zakir Naik soal isu yang saat ini hangat dibicarakan Negara ini, yakni memilih pemimpin. Hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan wartawan maupun audiens yang berkesempatan bertemu Zakir Naik di beberapa pertemuan.

Seperti kala Zakir Naik melakukan silaturahmi dengan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan, dalam kesempatan itu para wartawan bertanya soal maksud dari surah Al-Maidah ayat 51, “Apakah itu larangan bagi seorang Muslim menjadikan non-Muslim sebagai pemimpinnya?.”

Menurut Zakir Naik, pesan yang disampaikan Al-Quran surah Al-Maidah bukan hanya sekedar larangan menjadikan non-Muslim menjadi pemimpin umat Islam. Tetapi juga larangan menjadikan mereka sebagai teman setia dan pelindung.

BACA JUGA:
Dakwah Zakir Naik di Bekasi Undang Seribu Non-Muslim
Di UMY, Zakir Naik Ajak Mualaf ini Berbakti pada Orangtua Meski Non-Muslim
Soal Poligami, Zakir Naik: Satu Istri Saja Kalau Tidak Bisa Adil

Kemudian pertanyaan kedua disampaikan dalam kuliah umum Zakir Naik di Gymnasium UPI, Bandung pada Minggu (2/4/2017). Seorang perempuan non-Muslim bertanya juga kepada Zakir Naik soal memilih pemimpin non-Muslim yang telah berjasa banyak dalam pembangunan kota, jalan, termasuk membangun masjid, dan tidak korupsi.

“Apakah kita akan menutup mata dan telinga hanya karena orang itu non-Muslim, lantas di mana toleransi?” kata perempuan itu.

Zakir Naik lantas menanggapi pertanyaan itu, “Dia membangun masjid tapi dia sendiri tidak shalat, lalu apa gunanya membangun masjid bagi orang lain jika dia sendiri tidak shalat? itu namanya munafik. Kesuksesan bukan pada membangun gedung, jalan, atau masjid, tapi ada pada keimanan pada Allah SWT,” tanggap Zakir Naik.

Dan terakhir, hal yang sama pun terjadi kala Zakir Naik mengisi kuliah umum di UMY, Yogyakarta pagi tadi, Senin (3/4/2017). Seorang mahasiswa bertanya soal pemimpin, dan Zakir Naik kali ini menggunakan sebuah analogi untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Jika anda adalah bos yang mempunyai pegawai. Pegawai itu anda gaji sebesar Rp 10 juta per bulan. Tapi pegawai itu tidak pernah datang ke kantor, dalam sebulan hanya dua kali. Bukannya mengerjakan pekerjaan di kantor, pegawai ini malah bekerja untuk orang lain, mendermakan uangnya di tempat lain. Pegawai seperti ini tentu saja tidak akan dipekerjakan lagi,” kata Zakir Naik.

Menurutnya, contoh tadi sama seperti non-Muslim yang tidak mendengarkan bos tertinggi manusia, Allah SWT, yang memberi kesehatan, kekayaan, dan yang menciptakan kehidupan. Lalu kita menyembah yang lain atau syirik.

“Ketidakadilan terbesar adalah menentang penciptamu, yang tidak bisa dihapuskan dengan memberikan derma,” tuturnya.

Namun, Zakir Naik menganalogikan, jika ada pegawai yang patuh pada atasannya, walau dia tidak menderma di luar, tentu akan mendapatkan pertolongan dari bosnya.

“Bagi saya, jika ada non-Muslim yang 100 kali lebih baik dalam segala hal dari seorang Muslim, tapi Muslim itu punya iman, percaya kepada Allah SWT, bahkan jika saya kehilangan setiap Rp 10-20 juta setiap hari karena memilihnya, saya akan tetap memilihnya (Muslim),” pungkasnya. []

Sumber: Kumparan

Comments
Loading...