ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Zakat kepada Saudara?

Foto: Photos of the week - Sf.co.ua
0

Ustadz, apakah boleh memberikan zakat kepada saudara? Bagaimana hukumnya?

 

BISMILLAH was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, dikutip dari Konsultasi Syariah. Zakat boleh diberikan kepada saudara dengan 2 syarat,

Pertama, Dia termasuk kategori 8 ashnaf (golongan) yang berhak mendapat zakat

Delapan golongan yang berhak menerima zakat meliputi: fakir, miskin, gharim (orang yang terbelit utang), muallaf, atau Sabilillah, seperti mereka yang hendak belajar agama.

Kedua, Dia bukan termasuk orang yang wajib dinafkahi oleh muzakki (wajib zakat).

Seperti saudara wanita yang belum menikah, sementara orang tua tidak memberi nafkah, yang wajib menafkahi adalah saudara lelakinya yang sudah baligh atau sudah bekerja.

Dalam Fatawa Nur ‘ala ad-Darb pernah ditanya tentang hukum memberikan zakat kepada saudara. Jawabannya,

إذا كانت أختك مستقلة في بيتٍ وحدها، عاجزة ما عندها ما يقوم بحالها، لك أن تعطيها الزكاة، أما إن كانت عندك في بيتك تنفق عليها، فلا، لا تعطها زكاتك، فهي واقعة في نفقتك عليها

Jika saudari anda tinggal terpisah, di rumah sendiri, sementara dia tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, maka anda boleh memberikan zakat untuknya. Namun jika dia tinggal bersama anda, dan anda yang memberi nafkah, tidak boleh anda berikan zakat anda kepadanya. Karena dia dicukupi dengan mendapat nafkah dari anda. (Fatwa Nur ‘ala ad-Darb, 15/318)

Keutamaan memberikan zakat kepada saudara

Nilai amal dari zakat yang diberikan ke saudara tidak hanya berupa amal zakat. Namun ini juga bisa mempererat persaudaraan. Sehingga ada unsur silaturahmi di sana. Karea itu, memberi zakat ke saudara, zakat sekaligus silaturahmi.

Dari Salman bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaa,

إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِى الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

Sedekah kepada orang miskin nilainya sedekah. Sedekah kepada kerabat, nilainya dua, sedekah dan silaturahim. (HR. Nasai 2594, Ibnu Hibban 3344 dan dishahihkan Syuaib al-Arnouth). Wallahu a’lam. []

loading...
loading...