Waktu, antara Luang dan Sempit

0

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

(QS. Al ‘Ashr: 1-3).

WAKTU, dengannya Allah bersumpah dalam alquran surat Al Asr. Rentang waktu lah yang membatasi hidup manusia hingga sampai pada kematiannya. Kadang waktu terasa sangat singkat, kadang bahkan terasa begitu lambat dan lama. Tak jarang manusia lalai terhadap waktu yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Dalam bukunya yang terkenal, Al-Hikam (Kata-kata Bijak), syekh Ahmad Ibnu ‘Ataa’illah As-Sakandari mengatakan:

“Menunda perbuatan baik sampai Anda memiliki waktu luang adalah indikasi jiwa yang belum matang.”

Dengan kata lain, tidak ada yang disebut “Saya tidak punya waktu.” Perbuatan yang sedang kita bicarakan seperti doa, mengingat Tuhan, refleksi, semua butuh waktu. Namun, terkadang seseorang menunda dan mengatakan, “Saya akan melakukannya besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau bulan Ramadhan berikutnya.”

Ibnu ‘Ata’illah menggambarkan sikap ini sebagai indikasi jiwa yang belum matang, yaitu orang ini menunjukkan kebodohan diri karena sebenarnya dia dapat melakukan semua hal yang ingin dia  lakukan jika memiliki kemauan. Pemanfaatan waktu akan sangat membantu seseorang dalam menjalani aktivitasnya.

Namun, ini masalah prioritas. Anda meninggalkan rumah di pagi hari dan anda memiliki sejumlah jam tertentu untuk melakukan sejumlah tugas tertentu. Anda akan melakukan apa yang penting dulu, lalu apa yang kurang penting. Kemudian Anda memutuskan untuk menunda tugas yang tersisa sampai besok dan mengatakan seperti yang Allah firmankan:

“Allah tidak membebani manusia dengan lebih dari yang mampu ia tanggung.” (Al Baqarah [2]: 286)

Jika sudah sepuluh menit, misalnya, dan ada banyak hal yang harus dilakukan termasuk shalat, maka shalat harus jadi prioritasnya. Terkadang urusan duniawi diprioritaskan hari ini, besok, minggu depan, bulan depan, dan urusan keagamaan selalu ditunda. Bahkan shalat yang diwajibkan tidak dilakukan oleh beberapa orang karena mereka mengklaim bahwa mereka tidak punya waktu.

Penundaan semacam itu tidak dapat diterima. Setiap Muslim harus memanfaatkan waktu dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Ada cukup waktu untuk melakukan semuanya. Allah akan memberkati waktu dan pekerjaan anda jika anda memanfaatkan waktu dan mengaturnya. Memanfaatkan waktu tidak hanya penting untuk mengelola urusan duniawi, juga penting untuk mengelola urusan agama.

Jika anda terbiasa membaca sebagian dari alquran atau beberapa zikir (zikir) setiap hari pada waktu tertentu dan anda harus pergi keluar untuk bekerja, gunakan waktu saat naik bus atau kereta api dengan membaca Alquran dan berzikir.

Jika orang pada umumnya memanfaatkan waktu untuk urusan duniawi, seorang muslim harus memanfaatkan waktu juga untuk urusan keagamaan. Kita harus menetapkan prioritasnya dan mulai dengan apa yang lebih penting. Hak Allah harus dilakukan dengan cara terbaik.

Ini tidak berarti bahwa kita peduli terhadap hak-hak orang dan mengabaikan hak Allah. Kita harus memanfaatkan waktu dan menyeimbangkan antara kedua hak tersebut.

Penundaan adalah indikasi jiwa yang belum dewasa yang telah ditipu oleh Setan. Allah SWT berfirman:

“Sampai, ketika kematian mendekati mereka, dia berdoa: “Ya tuhanku!Kembalikanlah aku ke dunia. Agar aku dapat berbuat amal saleh yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) sampal pada hari mereka dibangkitkan. (Al-Mu’minun [23]: 99-100).

Semoga Allah memberikan kita keluasan waktu dan keberkahan di dalamnya. []

SUMBER: ABOUT ISLAM

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun