ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Virus Sekulerisme yang Kian Meresahkan

Foto: Pixabay
0

Oleh: Nunung Nurlaela, SEI., MSI
Dosen STEI Hamfara Yogyakarta, Blogger, Penulis, Ibu rumah tangga lima anak, ummunawazim@gmail.com

 

Sekulerisme adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Salah satu penyakit yang makin menggerogoti kaum muslimin saat ini. Paham sekuler menyatakan bahwa agama tak memiliki tepat di ruang publik. Agama cukuplah ada di benak individu-individu saja. Tak boleh mengurusi urusan umat, apalagi urusan negara.

Sekulerisme semakin menggejala sampai detik ini. Ia adalah virus jahat yang kian menyebar ke tubuh kaum muslimin. Korbannya tidak pandang bulu dan tak pandang usia. Mulai dari kalangan atas sampai kalangan bawah. Para cendikiawan muslim, intelektual, pendakwah, pendidik, sampai anak-anak kecil. Dampak sekulerisme yang semakin menguat menggerogoti akidah umat. Bagaimana hasilnya?

Kita bisa lihat contoh dalam beberapa aspek; sistem pendidikan di negeri yang mayoritas muslim ini bagaimana siswa didiknya digiring kearah sekulerisme, kebebasan beragama, berbicara, bertingkah laku. Anak-anak digiring untuk jauh dari aturan agamanya. Dipaksa untuk mengikuti perayaan agama lain atas dalih toleransi. Disodorkan oleh tayangan-tayangan yang sama sekali tak mendidik, tak menjadikan mereka generasi yang salih dan bertakwa. Justru sebaliknya, anak-anak diarahkan untuk menikmati kehidupan sebatas materi, kebebebasan dalam segala hal.

Dalam aspek sosial tak kalah mewabahnya. Seorang yang ingin taat pada syariat, namun dipandang sebelah mata, aneh, dinyiyirin dan di bully habis-habisan. Hingga Kriminalitas akibat hal ini semakin menggurita. Dalam Peradilan pun demikian, umat tak bisa melaksanakan sistem sanksi dalam Islam.

Kemudian dalam hal politik, dan pemerintahan, agama tak boleh mencampuri kehidupan bernegara. Makna politik yang disalahartikan, jangan bawa-bawa agama dalam politik karena poltik itu kotor. Padahal politik adalah hal yang tak bisa dipisahkan dari agama, pun sebaliknya. Politik dalam Islam artinya adalah mengurusi urusan rakyat.

Mari kita renungkan bersama pertanyaan berikut ini,

Salahkah bila umat islam ingin menerapkan aturan agamanya?

Salahkah bila umat Islam ingin taat kepada Allah sebagai konsekuensi dari kalimat syahadat yang diucapkannya?

Negeri ini mayoritas muslim. Namun, karena sekulerisme yang sudah sangat meresahkan. Pertanyaan diatas tadi tak patut dilontarkan dan tidak dipedulikan, justru semua usaha untuk itu dibendung dengan dalih isu SARA. Umat Islam yang taat adalah ekstrim, bahkan disebut teroris. Umat Islam yang ingin berdakwah karena sebuah kewajiban, dituduh memecah belah.

Sungguh pertarungan ideologi dan juga pergolakan perang pemikiran adalah suatu hal yang pasti terjadi. Setiap ideologi pastinya ingin diterapkan dan berkuasa. Ideologi kapitalisme, sosialisme dan juga ideologi Islam.
Sekulerisme adalah asas bagi ideologi kapitalisme yang saat ini sedang berkuasa. Ia memisahkan agama dengan kehidupan di segala aspek. Sudah menjadi watak para pengusung ideologi ini tak rela jika umat Islam bangkit dan memperjuangkan ideologinya.

Dalam ideologi Islam, agama dan kehidupan adalah menyatu. Dimana seorang muslim sadar betul bahwa di dunia adalah untuk ibadah kepada Allah dan taat dengan aturan Allah. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Hidup dan matinya tak lepas dari Islam. Tak ada pemisahan antara agama dan kehidupan negara. Penyatuan inilah yang akan membangkitkan umat. Hal inilah yang ditakuti oleh musuh Islam hingga tak hentinya menebar benih sekulerisme ke tubuh umat Islam.

Islam adalah sebuah idologi yang benar dan paripurna. Dengan Islam sajalah, umat akan bangkit dan Berjaya kembali. Sudah kita ketahui buktinya, bahwa selama 14 abad Islam memayungi 2/3 dunia. Tidak hanya muslim, non muslim pun turut meraskan keadilan dan kesejahteraan.

Marilah, para orang tua, kita sama-sama bentengi anak-anak kita dengan aqidah Islam yang kokoh. Jangan biarkan virus sekulerisme ini membinasakan generasi kebangkitan Islam. Selamatkan anak-anak dari sekulerisme. []

*judul dengan penyesuaian.

OPINI ini adalah kiriman pembaca Islampos. Isi dari OPINI di luar tanggung jawab redaksi Islampos. Kirim OPINI Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri.

 

loading...
loading...