Tugu Titik Nol Islam Nusantara di Tapanuli Diresmikan Presiden

Foto: Suara Merdeka
0

SIBOLGA–Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Hendri Susanto Tobing mengatakan bahwa kedatangan Presiden Jokowi merupakan momentum luar biasa karena dapat memonumentalkan peradaban titik nol agama di Indonesia.

“Doa kami terjawab atas kedatangan Presiden Jokowi ditandai meresmikan titik nol peradaban penyebaran agama di seluruh Indonesia, mulai dari Barus,” kata Hendri, dilansir Antara, Kamis (23/3/2017).

Dia mengungkapkan, berdasarkan sejarah penyebaran agama di seluruh Indonesia, terutama Muslim, Nasrani, Hindu, dan Budha berasal dari Tapanuli Tengah yang dibuktikan dengan situs itu.

“Untuk muslim ada situs Mahligai, Situs Papan Tinggi yang menyebarkan Islam kira-kira abad kelima masehi. Diikuti perkembangan selanjutnya yang masuk melalui Timur Tengah melalui Tapanuli Tengah ke seluruh nusantara,” jelas Hendri.

Dia mengungkapkan, Barus ini dulunya merupakan bandar yang besar sehingga banyak saudagar dari Timur Tengah masuk dan menyebarkan agama ke seluruh Nusantara.

Monumen yang memiliki tiga tiang penyangga bola dunia ini memiliki filosofi adat batak yang menjadi kearifan lokal masyarakat adalah Adat Dalihan Na Tolu.

BACA JUGA:
Bantu Lindungi Warisan Budaya Islam, Saudi Sumbang Dana 20 Juta Dolar
TV Palestina Ungkap Terowongan Rahasia Israel
Pemandu Wisata Wanita Bersertifikasi Pertama di Saudi, Ayesha Khaja

Hendri mengungkapkan Dalihan Na Tolu yang berarti tungku yang berkaki tiga merupakan filosofi kedua dalam kehidupan masyarakat Batak esensinya terbagi tiga, yaitu Somba marhula-hula (Tulang), Elek marboru (Boru), dan Manat mardongan tubu (Semarga) yang tentunya memiliki hak dan kewajiban terstruktur dan bersifat tetap.

Somba Marhula-hula merupakan istilah pertama yang bermakna bahwa kita harus menghormati hula-hula kita yang merupakan saudara laki-laki dari pihak istri.

Istilah kedua adalah Elek Marboru yang bermakna kelemah-lembutan dalam bersikap terhadap boru perempuan yang merupakan saudara perempuan kita.

Dan istilah ketiga adalah Manat Mardongan Tubu yang berarti bahwa kita harus akur terhadap saudara yang semarga. []