islampos
Media islam generasi baru

Tetangga 2 Milyar Rupiah

Foto: Arif DMR
0

Oleh: Abu Saif Kuncoro Jati

 

SAYA  pernah mengontrak sebuah rumah di kawasan pinggir luar kota Manado. Saat masa kontrak habis, saya pun pindah rumah ke lokasi yang lebih dekat dengan kantor istri. Namun, dikarenakan ada masalah teknis dalam hal tagihan listrik, kami harua terus berkomunikasi dengan pemilik rumah.

Saat membahas tentang kasus tagihan listrik rumah tangga yang mencapai 3 juta lebih, si pemilik rumah menceritakan pada kami bagaimana tindakan beberapa tetangga kami yang memberikan ‘testimoni’ tentang kami.

Tetangga depan rumah kami, sang suami Muslim dan istrinya Kristen Advent, kepada pemilik rumah menuduh saya telah mencurangi meteran listrik dengan mengutak-atik meteran tersebut. Pemilik rumah membela saya dengan mengatakan bahwa saya tidak mungkin bisa mengutak-atik meteran. Saya pun hanya meringis saat mendengat kabar tuduhan tersebut.

Saya pun hanya mengatakan, “Apa tidak ada tuduhan yang lebih elit dan berkelas? Bagaimanapun, saya dan istri adalah pegawai pajak. Jika kami berniat untuk melakukan pencurian, buat apa kami mencuri listrik yang tagihannya per bulan hanya 50 ribu?”

Yang membuat saya heran adalah bagaimana sikap tetangga saya tersebut yang ditunjukkan pada kami. Ia pernah mengirimkan abon ikan roa khas Manado. Kami pun kadang mengirimkan oleh-oleh saat pulang kampung.

Qaadarullah, beberapa pekan setelah melancarkan tuduhan pencurian listrik pada saya, tetangga tersebut mengalami kecurian. Seluruh barang berharganya hilang. Dan perlu saya perjelas, saya bukan pencurinya.

Ada lagi tetangga samping rumah yang merupakan preman. Ia pernah bilang akan melempari rumah kami dengan batu, alasannya karena kami selalu menutup pintu rumah kami. Bagaimana kami tidak menutup pintu rumah jika kami harus menjaga aurat, sementara dia dan kawankawannya kerap kami minum-minum hingga subuh hari? Mereka minum-minum setelah ibadah kolom, semacam kebaktian dari satu rumah ke rumah lain.

Tetangga yang lain, seorang mualaf, malah ada yang mengambil kursi-kursi yang ada di teras kami, padahal gerbang ditutup. Saat pemilik rumah kontrakan meminta kursi itu dikembalikan, ia mengatakan bahwa ia meminjam kursi tersebut (selama dua bulan). Sementara, tetangga lain yang juga mualaf, meski terhitung baik pada kami, tetapi membawa kabur utangnya pada kami. Jumlahnya tidak banyak, tetapi sayangnya saat ia pindah rumah, tidak pamitan sama sekali. Untuk urusan utang, kebanyakan orang Manado seperti ini.

Apakah di lingkungan itu tidak ada tetangga yang wajar? Tentu saja ada. Satu keluarga Kristen dan satu keluarga Muslim dari Jawa yang sering membantu saya, menyelesaikan beberapa pekerjaan bapak rumah tangga.

Belajar dari lingkungan kontrakan yang lama, di lingkungan kontrakan yang baru kami lebih menaruh perhatian soal urusan pertetanggan. Dan hal itu dipermudah dengan lingkungan kami sekarang yang banyak Muslimnya.

Bertetangga itu memang tidak mudah. Terlebih lagi soal pertetanggaan adalah soal akhlaq yang merupakan buah dari aqidah dan ibadah.

Contoh bagaimana seseorang dihargai oleh tetangganya yang bahkan bukan Muslim, adalah Abdullah bin Al Mubarak. Seorang alim zuhud yang mujahid.

Ibnul Mubarak memiliki tetangga seorang Yahudi. Kala itu, Ibnul Mubarak selalu mendahulukan memberi makan sang tetangga sebelum anak-anaknya sendiri. Ibnu Mubarak selalu memberi pakaian kepada si tetangga sebelum memberi pakaian anak-anaknya.

Di kemudian hari, rumah si Yahudi ditawar orang-orang, “Jual rumahmu kepada kami.”

Yahudi itu menjawab, “Saya akan jual rumah ini dengan harga dua ribu dinar. Seribu dinar untuk harga rumah saya dan seribu dinar lagi karena saya bertetangga dengan Ibnu Mubarak.”

Mendengar jawaban si Yahudi itu, dalam doanya Ibnu Mubarak memohon, “Ya Allah, tunjukilah dia ke dalam Islam.”

Dan kemudian, si Yahudi itu -dengan izin Allah- masuk Islam.

Jadi, jika harga pertetanggaan dengan Ibnul Mubarak adalah 1.000 dinar (hampir 2 Milyar Rupiah), kira-kira berapa harga pertetanggaan kita? []

loading...
loading...