ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Tak Hanya Mematikan, Suhu Ekstrem 1911 Bikin Warga AS ‘Gila’ karena Kepanasan

0

Advertisements

MUSIM panas adalah musim yang paling dinanti-nantikan warga dunia yang memiliki empat musim. Namun berbeda cerita ketika musim panas berubah menjadi gelombang panas. Bencana kepanasan. Itulah yang akan dirasakan. Seperti bencana gelombang panas yang terjadi di Amerika Serikat (AS) pada Juli 1911.

Di sepanjang pantai timur AS, suhu meningkat hingga melebihi 40 derajat celsius dan berlangsung selama 11 hari. Tak hanya merenggut nyawa penduduk, peristiwa tersebut juga membuat banyak orang hampir gila!

Bisa dibayangkan panas seperti apa yang para warga rasakan. Diam di dalam ruangan adalah tindakan konyol karena pada saat itu belum ditemukan AC dan kipas angin. AC untuk perumahan baru ditemukan 16 tahun berikutnnya yakni pada tahun 1927.

BACA JUGA: Kenakan Baju Khas Mesir saat Siaran, Fuchs: Ini Cocok untuk Cuaca Panas

Di ujung jalan Pike Street, di Manhattan, seorang pria muda melompat dari dermaga dan terjun ke dalam air setelah berjam-jam mencoba tidur siang di sudut yang teduh. Sebelum melompat, ia berkata: “Aku tak tahan lagi!”

Orang-orang memilih tidur di taman dibanding di rumah mereka sendiri karena suhu sangat panas dan lembap.

Jalanan AS penuh kekerasan. Warga berlarian seperti orang gila karena kepanasan. Bahkan seorang pemabuk menyerang polisi dengan pisau daging lantaran tak tahan menahan suhu ekstrem.

Di Providence, pulau Rhode, suhu meningkat 11 derajat dalam setengah jam. New York dan Philadelphia menjadi pusat kekacauan, sementara di New England, rel kereta melengkung, pengiriman surat ditunda, dan orang-orang meninggal di bawah matahari.

Jumlah korban tewas diperkirakan mencapai dua ribu orang hanya dalam beberapa minggu.

Ventilasi yang buruk serta tempat tinggal sempit memperparah keadaannya. Orang tua, muda dan anak-anak kecil menjadi korban gelombang panas. Bayi-bayi menangis sepanjang malam atau tidak bisa bangun sama sekali alias meninggal dunia.

Mereka tidak hanya meninggal karena serangan panas langsung, tetapi juga kelelahan saat berusaha melarikan diri dari udara yang terik. Selain itu, sekitar 200 orang meninggal akibat tenggelam di laut, kolam, sungai, dan danau, dalam upayanya menyegarkan tubuh.

Hewan-hewan ternak juga tak luput dari suhu panas ekstrem, kuda-kuda mati dan dibiarkan membusuk di sepanjang jalan.

Saat udara panas mencapai puncaknya, para penduduk meninggalkan apartemen mereka dan tidur di rumput yang dingin. Mereka tidur siang di bawah pohon di taman Central Park dan mencari keteduhan di Battery Park.

BACA JUGA: Muslim Afar Ethiopia Timur, Berpuasa di Tengah Panas Kekeringan dan Langka Hujan

Di Boston, sekitar lima ribu orang memilih menghabiskan malam di Boston Common dan menghindari risiko mati lemas di rumah mereka sendiri.Di Hartford, Connecticut, orang-orang berkeliling dengan kapal feri demi mendapatkan angin. Perusahaan bir lokal menyumbangkan satu tong air untuk taman.

Pemerintah kota juga telah berusaha melakukan apa yang mereka bisa untuk mengatasi serangan panas. Termasuk menyiram air ke jalanan.

Sekitar tanggal 13 Juli terjadilan badai besar yang menghantam AS hingga membuat suhu kembali ke tahap normal dan gelombang panas pun berakhir. Namun, lima orang meninggal akibat tersambar petir. []

SUMBER: NATIONAL GEOGRAPHIC

Artikel Terkait :

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline