islampos
Media islam generasi baru

Syawal, Ujian Sesungguhnya Seorang Muslim

Foto: LASD.org -
0

Oleh: Jayadi Oemar Bakrie

UNTUK menghadapi persiapan ujian nasional. Sebuah sekolah mengadakan latihan ujian atau biasa dikenal dengan istilah try out, sebanyak hampir empat kali latihan.

Ujian Nasionalnya bulan Mei, namun latihan ujian atau Try Out pertama dimulai dari bulan Januari. Setelah itu, ada jam tambahan belajar diluar jam KBM (Kegiatan belajar mengajar) atau biasa dikenal dengan Les/ pengayaan (sekarang dikenal dengan istilah penajaman materi).

Begitu pula dengan bulan berikutnya. Menginjak bulan ke dua yakni bulan Februari. Try Out ke dua diadakan. Bahkan ada yang beberapa sekolah menganggap bahwa try out ke dua ini setara dengan latihan ujian nasional tingkat kecamatan. Setelah itu diadakan pula Les yang materinya lebih dominan untuk membahas tentang soal-soal yang baru saja diujikan di try out kedua.

Begitu seterusnya, saat menginjak bulan ke tiga dan bulan ke empat. Latihan yang hingga empat kali ini, sengaja disiapkan untuk menghadapi latihan ujian nasional di bulan ke lima.

Selama empat kali latihan ujian itu pula, ada saja siswa yang kadang masih malas. Ada yang berhalangan hadir, entah itu saat latihan ujian berlangsung atau saat kegiatan Les. Justru dari sini kita dapat menilik tentang seberapa sungguh siswa dalam mengikuti kegiatan latihan ujian dan kegiatan Les.

Ujian nasional yang hanya mengujikan tiga mata pelajaran dan berjalan selama hanya tiga hari ini. Namun persiapannya begitu matang. Sangat hati-hati, bahkan saking hati-hatinya, instansi pemerintah tingkat kabupaten sampai membentuk panitia khusus peneliti tingkat kesalahan siswa pada soal. Tujuan pembentukan panitia ini yang nantinya menghasilkan sebuah review kecil yang menjabarkan jenis-jenis soal yang selalu dikerjakan salah oleh siswa dan jenis-jenis soal yang selalu dikerjakan dengan benar oleh siswa selama mengadakan latihan ujian sebanyak empat kali tersebut.

Hal ini tentu sangat membantu guru, untuk lebih mempersiapkan dengan matang lagi dalam upaya mencapai hasil yang maksimal pada siswa mengenai ujian nasional nanti.

Jika kita pahami dengan seksama, mengapa ujian nasional yang berlangsung hanya tiga hari tersebut, sampai harus mengadakan latihan selama hampir empat bulan lamanya?

**

Jika penjabaran di atas adalah sebuah Tsamsil/ perumpamaan tentang puasa. Umat muslim seumpama siswa yang hendak menghadapi Ujian Nasional, bulan Ramadhan adalah latihan ujian. Maka dapat dikatakan bahwa puasa sunnah enam hari di bulan Syawal adalah ujian yang sesungguhnya bagi umat muslim.

Di bulan Ramadhan, perintah puasa diwajibkan termaktub dalam Q.S Al-Baqoroh: 183.

”Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaiman diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

Seketika bulan Ramadhan tiba, seketika itu pula umat muslim berduyun-duyun mengamalkan ibadah puasa, menjadikan perkara yang wajib sebagai ibadah yang semestinya dijalankan, dan menjaga amalan-amalan sunnah lainnya –shalat tarawih, tadarus, dan bersedekah- selama bulan Ramadhan.

Perumpamaan di atas mengenai latihan ujian yang tentu ada saja siswa yang berhalangan hadir entah dengan persepsi alasan masing-masing, pun dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Tentu ada saja beberapa dari kita yang berhalangan untuk melaksanakannya.

Selama empat bulan siswa membina diri untuk taat mengikuti latihan ujian guna menghadapi ujian nasional. Sebuah perjuangan yang tak sebentar yang dikerjakan hanya untuk menghadapi ujian nasional yang hanya berlangsung tiga hari lamanya. Pun dengan berpuasa di bulan Ramdhan, sebulan kita menjalankan ibadah puasa dengan segala amalan-amalan lain yang menjadikan kita tak henti-hentinya mengharap pahala untuk bekal di akherat kelak. Bertujuan melatih kesabaran kita, melatih diri untuk menjadi pribadi yang bertaqwa.

Merujuk ibadah puasa pada zamannya nabi Daud Alaihissalam. Di Zaman Nabi Daud Alaihissalam, ibadah puasa berjalan dengan kaifiyat sehari puasa sehari berbuka. Jika dijumlah maka pada zamannya, Umat nabi Daud Alaihissalam telah melaksanakan ibadah puasa selama enam bulan.

Betapa kita ini umat yang paling istimewa, sangat istimewa. Bahkan kita adalah umat yang namanya disebut-sebut oleh Baginda Nabi Shalallahu’alaiwasallam sebanyak tiga kali menjelang wafatnya beliau.

Jumlah ibadah puasa kita yang hanya satu bulan penuh. Namun jangan kaget sebab ibadah puasa yang hanya satu bulan penuh itu berpahala lebih dari pahala puasanya umat nabi Daud Alaihissalam yang mencapai enam bulan lamanya.

Jika ibadah kita berpahala sepuluh kali lipat, maka selama sebulan kita telah memiliki pahala puasa 300 (30 hari berpuasa dikali pahala 10 kali lipat).

“Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun,” (H.R An-Nasa’i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).

Dalam setahun terdapat 360 hari dan berkat keberkahan bulan Ramdhan ini, kita telah mendapatkan pahala 300 hari. 60 harinya dapat kita peroleh dengan berpuasa sunnah selama enam hari di bulan syawal.

Inilah sejatinya ujian manusia yang sesungguhnya. Enam hari puasa di bulan Syawal. Sebagai pelengkap agar kita memiliki pahala seakan-akan puasa selama setahun.

Jika selama bulan Ramadhan umat muslim berduyun-duyun menjalankan ibadah puasa karena memang perintahnya wajib menjalankan. Jadi bukan sebuah tantangan saat kita menjalankannya, sebab kita dengan pribadi muslim yang lain pun ikut menjalankan perintah wajib ini.

Saat kita menjalankan ibadah sunnah di bulan Syawal, justru seharusnya kita merasa tertantang, sebab meskipun hanya enam hari, di dalamnya terdapat banyak sekali ujian dan cobaan yang akan kita temui.

Ketika yang lain sedang tenang-tenangnya menikmati liburan pasca lebaran, kita masih setia pada puasa. Kue-kue lebaran berjajar di meja ruang tamu, disuguhkan. Kita tetap kuat untuk berpuasa.

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh,” (H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Sejatinya puasa enam hari di bulan Syawal adalah ujian seberapa besar kesungguhan kita untuk beribadah puasa disaat yang lain tidak sedang berpuasa? []

 

loading...
loading...