ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Syahid, Hidup yang Mati di Tangan Muslim

0

Advertisements

Oleh: Lina Revolt Ummu Fathul

“Siapa yang ingin melihat orang syahid yang berjalan dimuka bumi setelah mengalami kematiannya, lihatlah Thalhah,” Sabda Rasulullah SAW.

HARI itu, di medan Uhud. Saat yang lain mundur. Karena terpecah belahnya pasukan muslim akibat ketidakdisiplinan pasukan pemanah. Rasulullah SAW berdiri bersama 12 orang Ansar dan 2 orang muahajirin melanjutkan peperangan. Mereka berjuang sekuat tenaga melindungi Rasulullah SAW, dari beringasnya pasukan kafir yang masih membawa dendam badar dalam dada-dada mereka.

Mereka merengsek mengejar pasukan muslim seperti kesetanan, menghabisi siapa saja yang ditemui. Bayang-bayang kekalahan di badar terus melintas dalam pikiran mereka. Mereka mencari Rasulullah SAW dan ingin membunuhnya.

Posisi Rasulullah SAW semakin terdesak. Rasulullah SAW menyeru dengan lantang.
“Siapa berani melawan mereka, kelak dia akan menjadi temanku di syurga.”

“Aku wahai Rasulullah!” seru Thalhah.

“Tidak, jangan engkau, tetaplah berada ditempatmu,” seru Rasulullah SAW.

“Aku ya Rasulullah,” kata seorang prajurit Ansar.

“Ya engkau,” jawab Rasulullah.

Satu-persatu prajurit Ansar menjemput syahidnya. Hingga yang tersisa hanya Rasulullah SAW dan Thalhah bin ubaidah. Musuh berdatangan bagaikan gerombolan laron. Tak peduli banyaknya musuh yang menyerang, Thalhah hadapi dengan gagah berani. Tak peduli rasa sakit yang menusuk tubuhnya.

Semangat berkobar dalam dada pemuda yang diceritakan sangat mirip dengan Rasulullah itu, satu tangannya memegang dan mengayunkan pedang. Sedang tangan yang lainnya memeluk Rasulullah. Tak pelak tubuhnya menjadi tameng bagi Rasullah SAW. Bahkan tubuhnya pun menjadi sasaran empuk pedang, tombak dan anak panah musuh.

Akhirnya perang berakhir. Rasullah SAW selamat. Thalhah roboh penuh luka. Pemuda berperawakan tinggi kekar itu ditemukan tergeletak dengan 79 luka ditubuhnya. Para sahabat mengira Thalhah telah syahid. Namun, ternyata Thalhah masih hidup. Sejak hari itu Thalhah dijuluki Assyahidul hayy (Syahid yang hidup).

“Siapa yang ingin melihat orang syahid berjalan dimuka bumi setelah kematiannya, lihatlah Thalhah,” sabda Rasulullah SAW.

Jika diceritakan tentang perang uhud di hadapan Abu Bakar Ra. Maka beliau menyahut, “Perang Hari itu adalah peperangan thalhah seluruhnya.”

Namanya Thalhah bin Ubaidillah bin Ustman bin Amru bin Kaab bin said. Ayahnya Berasal dari bani Taim. Dia wafat pada masa jahiliah. Sedangkan ibunya bernama ash sha’bah binti Abdullah bin Malik Al Hadhrami, termasuk shahabiyah yang ikut berhijrah.
Thalhah tumbuh bersama orang-orang yang baik hati sehingga akhlaknya terjaga sejak kecil.

Thalhah berkepribadian sangat baik. Meskipun besar di lingkungan penyembah berhala dan kaum yang gemar bermaksiat, tapi Thalhah berbeda dari kaumnya. Pemuda berkulit kemerahan itu lebih suka menyibukkan dirinya dengan berdagang keluar mekkah. Tak heran jika dia menjadi saudagar kaya diusia yang sangat muda.

Thalhah termasuk kedalam assyabiqul awwalun. Dia menyambut seruan Rasulullah SAW diawal mula dakwah. Saat itu Thalhah baru berusia 15 Tahun. Dia masuk Islam setelah mendengar berita dari seorang pendeta yang ditemuinya di Bushra dalam perjalanannya berdagang ke Negeri Syam.

Tiba-tiba sang pendeta berteriak-teriak,

Related Posts
1 of 5

“Wahai para pedagang, adakah di antara tuan-tuan yang berasal dari kota Makkah?”

“Ya, aku penduduk Makkah,” sahut Thalhah.

“Sudah munculkah orang di antara kalian orang bernama Ahmad?” tanyanya.

“Ahmad yang mana?“ Thalhah menjawab.

“Ahmad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Bulan ini pasti muncul sebagai Nabi penutup para Nabi. Tempat munculnya adalah tanah haram, kelak ia akan hijrah dari negerimu ke negeri berbatu-batu hitam yang banyak pohon kurmanya. Ia akan pindah ke negeri yang subur makmur, memancarkan air dan garam. Sebaiknya engkau segera menemuinya wahai anak muda,” sambung pendeta itu.

Peristiwa itu benar-benar membekas dihati pemuda berambut lebat itu. Sepulang dari Syam Dia langsung mencari tahu peristiwa apa yang terjadi selama dia pergi. Keluarganya menceritakan tentang Muhammad dan agama barunya dan sahabatnya Abu Bakar yang juga telah mengikuti nya. Thalhah pun mencari Abu Bakar dan menanyai kebenaran berita yang di dengarnya. Dia pun masuk Islam atas dakwah Abu bakar.

Wafatnya Sang Syahidul Hayy

Setelah Ali bin Abu Thalib dibai’at, Thalhah dan Zubair meminta izin kepadanya untuk pergi ke Makkah. Ali pun mengizinkan mereka. Mereka kemudian bertemu dengan Ummul Mukminin Aisyah. Saat itu, Aisyah sudah mendengar kabar bahwa Utsman terbunuh. Maka, mereka berkumpul di Makkah, hendak menuntut keadilan atas terbunuhnya Utsman.

Tidak lama kemudian, Ya’la bin Munyah dari Bashrah dan Abdullah bin Amir dari Kuffah datang ke Makkah. Mereka semua berkumpul di Makkah juga untuk menuntut keadilan atas terbunuhnya Utsman. Mereka lalu keluar dari mekkah, pergi menuju Bashrah, hendak mencari pembunuh Utsman. Semua itu mereka lakukan karena mereka memandang bahwa mereka telah lalai dalam menjaga Utsman. Ketika itu, Ali berada di Madinah.

Sesampainya mereka di Bashrah, Ali menugaskan Utsman bin Hunaif untuk menanyakan tujuan mereka datang ke Bashrah. Mereka menjawab: “Kami menginginkan pembunuh Utsman.” Utsman bin Hunaif berkata: “Tunggulah hingga Ali datang. Ia melarang untuk masuk ke Bashrah.

Ketika itulah, Jabalah keluar menemui mereka. Jabalah ini adalah salah seorang yang terlibat dalam pembunuhan Utsman. Jababah datang dengan 700 personil pasukan. Dia menyerang Ustman bin Hunaif. Namun mereka dapat dikalahkan.

Mendengar penyerangan terhadap gubernur Basrah yang dipilihnya. Ali mengira Hanaif diserang oleh pasukan Thalhah, Zubair dan Aisyah. Ali keluar dengan jumlah pasukan 10.000 pasukan menuju Bashrah.

Kemudian Ali mengutus Al Miqdad bin Al Aswad dan Al Qa’qa bin Amr untuk berunding dengan Thalhah dan zubair. Maka mereka sepakat untuk tidak berperang. Disisi lain, Abdullah bin Saba bersama pengikutnya (orang-orang yang menghilangkan nyawa Ustman) sangat kecewa dengan keputusan itu. Mereka berupaya merusak kesepakatan tersebut. Lalu Dia membuat strategi licik dengan mengadu domba kedua pasukan. Menjelang shubuh, sekelompok orang menyerang pasukan Thalhah dan Zubair, menewaskan beberapa orang di antara pasukan Thalhah dan Zubair.

Kedua pasukan menjadi salah paham. Pasukan Thalhah dan Zuabir mengira Ali telah berkhianat. Sebaliknya Ali mengira bahwa Thalhah dan Zubair telah berkhianat. Serang-menyerang antar kedua pasukan tak dapat terelakan.

Thalhah berusaha menghentikan peperangan namun tidak berhasil. Begitupun Ali berusaha melerai namun mereka tidak menggubrisnya. Aisyah kemudian mengutus Ka’ab bin Sur dengan membawa mushaf untuk menghentikan perang. Namun, para pengikut Abdullah bin Saba memanahnya hingga tewas. Perang terus berlangsung menjadi coretan hitam dalam sejarah Islam. Perang yang menjadikan sahabat-sahabat Rasullah yang mulia hari itu saling membunuh. Perang itu dinamakan perang Jamal dan terjadi tahun 36 H. Thalhah terkena anak panah beracun tepat mengenai bekas luka lama di betisnya. Dia di bawa ke Bashrah dan akibat luka tersebut Thalhah Wafat di sana. Thalhah wafat pada usia 60 Tahun tahun 36 H dan di makamkan di sebuah tempat dekat padang rumput di Bashrah.

Sungguh Thalhah bin Ubaidah berharap bisa gugur ketika berjuang bersama Rasulullah SAW, saat berperang melawan musuh-musuh Allah. Namun Allah menghendaki lain dari kisah Kehidupan seorang Thalhah. Dia terbunuh ditangan orang Islam sendiri.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah yang ahli syurga Thalhah bin Ubaidah. []

Sumber: Buku 64 Sahabat Teladan utama , terbitan Sygma Daya Insani
nabilmufti.wordpress: thalhah bin ubaidillah syahid yang berjalan di atas bumi

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline