islampos
Media islam generasi baru

Susun Solusi Problema Bangsa, Kiai se-Jawa Timur Kumpul

0

MOJOKERTO—Prihatin dengan kondisi bangsa Indonesia dewasa ini, puluhan kiai dari berbagai pondok pesantren di Jawa lakukan pertemuan di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah, Pacet, Mojokerto, Sabtu (21/1/2017).

Para kiai tersebut yang tergabung dalam wadah Forum Peduli Bangsa (FPB), tengah menyusun cara memecahkan persoalan bangsa, terutama persoalan ekonomi.

Guna menumbuhkan kemandirian ekonomi pesantren, para kiai membuat kesepakatan yang kemudian diberi nama Deklarasi 211. Deklarasi ini dimaksudkan agar pesantren bisa berkontribusi terhadap perekonomian di lingkungan pesantren, masyarakat, serta berbangsa dan bernegara.

Sejumlah tokoh yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain, pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang KH Sholahudin Wahid (Gus Solah), Rois Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, mantan Menteri Pendidikan Muhammad Nuh, dan mantan anggota DPR RI Marzuki Ali.

“Kondisi bangsa mereka [para kiai] merasa prihatin, sehingga perlu ada upaya-upaya jalan keluar kebangsaan, solusi kebangsaan supaya bangsa ini lebih bersatu,” kata Rois Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin, lansir Republika, Sabtu (21/1/2017).

Menurutnya, para kiai akan mengumpulkan dan merumuskan ide agar bangsa Indonesia lebih bersatu, aman, dan tenteram. Rumusan tersebut nantinya akan diusulkan kepada pemerintah.

“Nanti seperti apa usulannya itu mereka [para kiai yang menyusun]. Saya mendukung upaya-upaya untuk bangsa positif semuanya, positif untuk pemberdayaan ekonomi umat Muslim,” imbuhnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kembali semangat kebersamaan berbangsa dan bernengara. Agar nantinya tidak ada salah pengertian antarsesama warga Indonesia.

Ma’ruf Amin menambahkan, forum pertemuan tersebut membahas upaya pesantren dalam mengambil peran untuk memberikan kontribusi pada kehidupan berbangsa dan bernegara terutama pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya umat Islam. Para kiai berembug mencari solusi memecahkan masalah supaya pesantren berkontribusi menjadikan umat Islam bulan umat yang hanya menjadi beban negara. Melainkan bisa mandiri bahkan berkontribusi kepada bangsa dan negara.

“Hasilnya ada kesepakatan dan mereka akan melakukan perumusan-perumusan, langkah-langkah apa di dalam membuat masyarakat itu bisa mandiri bahkan bisa berkontribusi kepada bangsa dan negara. Dan akan membuat juga usulan-usulan bagaimana bangsa ini utuh, bersatu, saling pengertian dan tidak terjadi kesalahpahaman antara satu kelompok dengan yang lain,” jelasnya.

Kemandirian ekonomi telah dicontohkan oleh Ponpes Riyadlul Jannah. Ponpes ini memiliki sejumlah lini usaha, antara lain 50 rumah makan yang tersebar di sejumlah kota di Jatim, produk pertanian yang telah dipasok ke sejumlah supermarket di Surabaya, dan lainnya. Ponpes Riyadlul Jannah juga memberdayakan masyarakat sekitarnya di bidang pertanian.

Sementara itu, pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, KH Sholahudin Wahid atau Gus Solah mengatakan, pertemuan tersebut hanya membahas peran pesantren di bidang ekonomi dan pendidikan. Saat ditanya wartawan terkait isu toleransi, ia mengaku isu tersebut tidak dibahas.

“Kami cuma ngomong pengembangan ekonomi. Tapi saya sampaikan juga kalu kita bisa melakukan sesuatu yang baik untuk membantu menyelesaikan, jadi Pak Ma’ruf mengatakan ini sudah mengambil prakarsa untuk mengadakan semacam susunan nasional mencari penyelesain terhadap kemelut atau kerumitan pada saat ini. Jangan kita pertajam lagi, enggak ada untung,” terangnya.

Ia menekankan, yang menjadi fokus saat ini bagaimana pesantren bisa lebih aktif dalam kegiatan ekonomi. Di sela-sela pertemuan tersebut juga ditandatangani perjanjian kerjasama antara Ponpes Riyadlul Jannah dengan Direktorat Pesantren Kemenag untuk mencoba mengembangkan semangat wirausaha di lingkungan pesantren.

Dalam forum tersebut, KH Ma’ruf Amin juga berpesan kepada para kiai pengasuh pondok pesantren agar lebih aktif ke lapangan, tidak berdiam diri di pondok. Aktifnya para kiai di lapangan bertujuan melindungi umat dari upaya-upaya pemurtadan dan pemikiran-pemikiran liberal. Selain itu, untuk menyatukan umat supaya tidak tercerai berai, untuk melayani umat, serta untuk menguatkan umat. []

loading...
loading...