Sosok-sosok Para Sahabat Rasulullah

0

Oleh: Feby Putra
febyliverpool123@gmail.com

SAHABAT Rasulullah memiliki posisi istimewa yang tidak bisa di bandingkan dengan generasi sesudahnya, itu karena berjumpa langsung dengan Rasullah SAW.

Tak sedikit yang bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya kondisi mereka. Orang-orang yang tegar, kukuh oleh dera siksa, hinaan, pengucilan dan segala bentuk intimidasi dari orang-orang kafir, demi mempertahankan aqidah.

Para sahabat yang telah beriman akan menjaga komitmen mereka,apa pun resiko nya. Tidak ada yang mereka harapkan selain syahid dihadapan Allah SWT. Berikut sosok-sosok sahabat Rasullah:

Abu Ubaidah ibn Jarrah

“Bagi setiap umat ada kepercayaan nya, dan orang kepercayaan dari umat ini adalah Abu ubaidah ibn jarrah.”
-Nabi Muhammad SAW-

Wajahnya bersih lagi elok, pandangan matanya mempesona, tubuhnya kurus tinggi, kulit pipinya tipis,menyenangkan bagi yang melihat dan menentramkan hati yang menjumpainya.

Di samping itu dia lemah lembut dalam pergaulan, sangat rendah hati dan orangnya pemalu. Namun bila dalam keadaan genting dan butuh perhatian, sungguh-sungguh dia menjadi seekor singa nan garang. Dia laksana mata pedang yang berkilat-kilat karena ketajamannya. Dia orang terpercaya dari umat Muhammad al quraisy. Orang-orang biasa memanggilnya abu al-jarrah.

Abdullah ibnu umar berkata tentangnya. “Ada tiga perkara orang quraisy yang bercahaya wajahnya, yang baik budi pekerti dan pemalu. Bila bicara tak pernah dusta, dan bila di ajak bicara tak pernah mendustakan apa yang di bicarakan, mereka adalah Abu bakar ash-shiddiq, usman bin affan dan Abu ubaidah ibn Jarrah”.

Abu ubaidah ini termasuk golongan as-sabiqun awwalun (golongan pertama yg masuk islam). Dia memeluk islam sehari setelah abu bakar as-shidiq. Bahkan as-shidiq lah yang mengajaknya bersama abdurahman ibn Auf, ustman bin affan dan Arqam bin abil Arqam. Mereka berempat menyatakan keislamannya di hadapan Rasullah, merekalah sendi-sendi pertama yang menjadi pondasi bangunan islam nan agung dan kokoh.

Al-kisah, abu ubaidah terjun dalam kancah perang badar tanpa gentar akan maut. Keberaniaannya menakutkan kaum musyrikin Mekah. Maka jagoan-jagoan mereka yang berkuda selalu menghindar bila bertemu muka dengannya.

Tapi ada satu orang yang berani menghadang setiap langkah abu ubaidah. Abu ubaidah sendiri pun selalu menjauh menghidarkan diri. Makin gencar orang tersebut, makin jauh abu ubaidah menghindar. Dengan demikian, orang itu menjadi perisai hidup yang mampu bagi kawan-kawan musyriknya.

Akhirnya abu ubaidah merasa kesal dan tak mampu lagi bersabar lebih lama. Diayunkan pedangnya kuat-kuat menebas kepala orang itu sampai tubuhnya terbagi menjadi dua. Dia terjatuh tersungkur tak bergerak-gerak lagi.

Wahai pembaca yang budiman jangan berusaha menebak siapa lawan abu ubaidah yang satu ini. Saya telah mengatakan kepada pembaca bahwa ujian yang harus disandangnya itu teramat besar. Barangkali kepala anda terasa pecah bila saya katakan bahwa orang yang tewas mengenaskan di tangan abu ubaidah tersebut ialah: Abdullah ibn jarra, ayahandanya sendiri.

Sungguh, sekali-kali Abu ubaidah tidaklah membunuh ayahnya melainkan membunuh kemusyrikan yang ada pada diri ayahnya. Memang hal demikian tidak menakjubkan bila terjadinya bukan pada Abu ubaidah. Kekuatan imannya, keikhlasan batinnya serta amanah terhadap umat sudah mencapai puncaknya yang paling tinggi.
Abu ubaidah ini meninggal dunia karena tertular penyakit sampar sampai merengut nyawanya. Sebelum menghembus napas terakhir dia berpesan kepada seluruh pasukannya.

“Saudara-saudara, aku ingin meninggalkan pesan yang bila kalian mengikutinya niscaya akan selalu dalam kebaikan. Pertama, laksanakanlah shalat 5 waktu. Kedua, berpuasalah pada bulan ramdhan. Ketiga, lakukan lah ibadah haji. Keempat, berumrahlah. Kelima, saling berwasiat satu sama lain. Keenam, patuhlah kepada pemimpin. Ketujuh, jangan teperdaya oleh dunia. Sesungguhnya andai ada manusia yang hidup sampai usia seribu tahun, dia tetap akan menemui kematian seperti yang kalian saksikan ini.”

Abdullah Ibnu Mas’ud

“Barangsiapa ingin merasa senang membaca al-quran dengan indah sebagaimana di turunkan pertama kali, hendaknya membaca seperti bacaan Ibnu Ummu ‘Abad.” -Nabi Muhammad SAW-

Waktu itu Abdullah ibn mas’ud adalah seorang remaja yang mendekati masa baligh. Dia berkerja mengembala kambing milik seorang tokoh quraisy yang bernama uqbah ibn mu’its. Digiringnya kambing-kambing itu di daerah perbukitan di luar Mekah, jauh dari lingkungan manusia. Orang-orang memanggilnya ibnu ummu ‘Abad. Namanya sendiri adalah Abdullah, dan ayahnya bernama mas’ud.

Remaja ini juga pernah mendengar kabar tentang seseorang nabi yang muncul di tengah-tengah kaumnya, tetapi ia tidak ambil pusing terhadap hal itu. Ini semua bisa dimengerti, mengingat usianya masih muda dan keterasingannya dari kehidupan sosial Mekah. Hari demi hari, dia hanya mengembala kambing milik Uqbah, datang pagi dan pulangnya malam.

Suatu hari Abdullah bin mas’ud melihat dua lelaki yang kelihatannya berasal dari golongan terhormat. Mereka berdua berjalan menuju ke arahnya. Keduanya terlihat lesu dan kelelahan. Bibir mereka kering karena menahan haus. Setelah dekat dengannya, kedua lelaki itu memberi salam lalu berkata, ”wahai anak pemuda, tolonglah perahkan susu kambingmu untuk melenyapkan dahaga dan membasahi urat-urat tubuh kami.”

Abdullah ibnu mas’ud menjawab,”Aku tidak bisa melakukannya sebab kambing-kambing ini bukan milikku. Aku diberi amanah oleh pemiliknya untuk memlihara mereka.”

Kedua lelaki itu ternyata tidak gusar oleh penolakan Abdullah ibn mas’ud, bahkan mereka tampak kagum dan gembira. Kemudian salah seorang dari mereka berkata, ”tunjukan padaku kambing gibas yang belum di kawinkan pejantan.”

Setelah kambingnya di tunjukan, lelaki itu lalu menambatkannya dan mengusap-usap puting susunya sambil membaca doa dengan nama Allah SWT. Si gembala muda ini memandangnya dengan heran. Ia berkata dalam hati, “mana mungkin kambing betina yang masih muda dan belum pernah dikawinkan bisa menghasilkan susu?” Namun rupanya dia salah duga. Di lihatnya puting susu kambing itu membengkak dengan cepat, bahkan sebentar kemudian air susunya memancar deras.

Lelaki yang satunya lagi mencari batu cekung dibagian tengahnya untuk menampung susu perahannya, lalu meminumnya bergantian dengan kawannya. Abdullah bin mas’ud juga dapat bagian. Gembala muda ini belum percaya dengan peristiwa yang di alaminya. Tahukah anda siapa kedua laki-laki tersebut? Ternyata kedua lelaki itu ialah baginda Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shidiq.

Zaid Ibnu Sahl

“Tak ada mahar yang lebih mulia daripada mahar abu thalhah untuk ummu sulaim. Maharnya adalah keislamanya.” -Wanita-wanita Madinah-

Zaid ibn sahl yang dijuluki abu thalhah dari bani najjar mengetahui bahwa ummu sulaim telah menjanda karena suaminya wafat. Gembira sekali dia saat mendengar berita ini. Hal tersebut tidak berlebihan mengingat ummu sulaim adalah seorang wanita yang sangat cerdas dan sempurna segala sifatnya.

Abu thalhah kepikiran untuk cepat-cepat meminangnya sebelum kedahuluan dengan laki-laki lain. Abu thalhah merasa yakin ummu sulaim akan mengutamakan dirinya daripada peminang yang lain. Ya, sebab dia seorang lelaki terhormat, dermawan, lagi tangkas. Dia termasuk jagoan Bani Najjar dan pemanah Yastrib yang sangat diperhitungkan.

Pergilah Abu Thalhah ke rumah Ummu Sulaim. Sepanjang perjalanan dia mendadak teringat bahwa Ummu Sulaim telah mengikuti kata-kata para ulama di Mekah, yang bernama Mush’ab ibn Umair dan beriman kepada Muhammad. Namun dia berkata kepada dirinya,”Apa urusan ku dengan hal itu? bukankah suaminya meninggal itu juga memeluk agama nenek moyang?”

Sesampai di tujuan, Abu thalhah mintak izin untuk masuk. Ummu Sulaim mengiizinkannya. Putranya, yang bernama anas juga ada di sana. Segera di utarakan maksudnya untuk meminang. Abu thalhah menyangka Ummu Sulaim hanya beralasan saja karena sudah punya calon lain yang lebih terhormat dan lebih banyak harta. Dia bertanya,”Demi tuhan apa yang menghalangimu untuk menerima diriku, wahai Ummu Sulaim?
Ummu Sulaim berbalik bertanya, ”Lalu apa yang mengahalangi?”

“Putih dan merah, perak dan emas?” terka Abu Thalhah.

“Perak dan emas?” ulang Ummu Sulaim

“Ya.”

Akhirnya ummu sulaim berkata, ”Kujadikan engkau saksi bersama Allah dan Rasulnya, ya Abu Thalhah. Kalau engkau mau masuk islam, maka aku akan menerima sebagai suami tanpa pakai emas dan perak. Kujadikan Islam sebagai mahar.

Suatu kali, pada masa pemerintahan Utsman ibn Affan, kaum muslimin hendak berjihad dengan mengarungi samudra. Abu thalhah juga mempersiap kan diri untuk ikut. Melihat itu anak-anak berkata, ”Allah merahmatimu, wahai ayah. Ayah sudah tua, sudah cukup banyak berjuang kepada Rasullah, Abu Bakar dan Umar. Sebaiknya ayah beristirahat saja. Biarkan kami yang berjihad sebagai ganti.”

Abu thalhah spontan menukas dengan firman Allah:

“Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringan atau pun berat…..”

Allah mengajak kita semua, yang muda maupun yang tua, tidak membatasi usia sama sekali! Tatkala berada di atas kapal bersama pasukan muslim, Abu Thalhah terserang penyakit yang membawa pada ajalnya. Kaum muslim segera mencari sebuah pulau untuk mengembumikannya,tetapi tidak berhasil. Sampai tujuh hari berlalu, Abu thalhah tetap membujur di tengah-tengah mereka. Keadaan jenazahnya tidak rusak sama sekali. Dia terlihat seakan-akan sedang tidur. []

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun