ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Si Anak Bodoh dan Anak Pintar

Foto: DHgate.com
0

Oleh: Rosadi Alibasa

ANAKKU si pintar dan si bodoh. Betapa beratnya jadi orang tua yang memiliki anak yang otaknya pas-pasan.  Beban yang dipikul anak untuk lulus di Ujian Akhir Nasional merambat ke pundak orang tua. Segala cara di tempuh. Ikut bimbingan belajar, ikut les di sekolah dan ekstrakuler lainnya. Meski segala daya upaya dikerahkan, al hasil si anak tetap berada di urutan paling akhir. Anak bodoh anak malang.

Kebaikan dan kerajinan si anak bodoh tidak lah cukup menolong kelulusan. Karena kelulusan adalah hak standar Menteri Pendidikan. Tanggunglah sendiri beban sosial di lingkunganmu karena anakku pintar tak sebodoh anakmu. Lebih baik menderita hari ini dari pada kemudian. Karena Ujian Nasional hari ini lebih penting untuk hari esok kamu.

Betapa senangnya memiliki anak pintar. Bisa membangga banggakan kepada yang lainnya. Karena anakku sudah bisa begini dan begitu. Sementara anak orang lain belum bisa apa-apa. Tanggunglah sendiri bebanmu karena kamu punya anak bodoh.

Bodoh dan pintar. Kita tidak mengerti ternyata kebodohan dan kepintaran anak remaja sekarang hanya diukur dengan Ujian Akhir Nasional.

Proses sekarang tidak lah penting, karena hasil adalah tujuan akhir. Allah SWT lebih menilai proses dalam kehidupan kita daripada hasil. Tapi manusia dengan keangkuhannya menilai hasil lebihlah penting dari hanya sekedar proses. Dalam dunia pendidikan kita saat ini ada ketidak jelasan mau dibawa kemana anak-anak kita ini. Mau dibawa ke idealisme keangkuhan manusia? Yang sering lupa akan Tuhannya?

Seorang bijak  dalam hidupku berkata, berbisik dan berteriak. Bawa anakmu ke Masjid dan suruh belajar ngaji. Rajin ke masjid belajar ngaji masuk surga. Dalam Al-Quran apa yang kurang? Ilmu pengetahuan, materi, ilmu sosial, teknologi dan lain-lain semua lengkap. Mengapa cari di tempat lain?

Anakku, aku tahu mungkin suatu hari dalam kehidupan ini nanti kamu akan bertanya mengapa? Carilah jawabannya dalam relung hatimu. Karena jawaban itu tidak bisa aku kategorikan dalam pilihan ganda a, b, c dan d yang bisa kamu pilih dengan cara menghitung kancing bajumu. Tapi carilah dan terangkanlah dengan baik supaya kamu lebih memahami proses daripada hanya sekadar hasil.

Kejahatan itu sering berkedokkan kepintaran. Kebaikan itu sering berkedokkan kebodohan. Jadilah kamu baik dan pintar! []

loading...
loading...