islampos
Media islam generasi baru

Setelah Melihat Shalat, Atheis Korea ini Masuk Islam

Foto: Muslim AS
0
ACEH— Park Kwan Kwok (34) duduk bersila di depan ustaz Fakrudin Lamudin di Masjid Syeikh Abdurrauf di Gampong Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Kamis, Beberapa waktu lalu usai salat Isya.

Dengan menggunakan baju dan peci putih. Park langsung mengucapkan dua kalimat syahadat yang dipandu oleh ustaz Fakrudin Lamudin. Proses ini turut disaksikan oleh sejumlah tokoh masyarakat Gampong setempat.

Pria asal Korea Selatan ini kemudian menggantikan namanya menjadi Abdurrauf yang memiliki arti hamba Allah yang ramah. Abdurrauf, baru enam bulan tinggal di Aceh sebagai pekerja sosial bergerak di bidang kesehatan. Saat ini ada 30 sekolah di Banda Aceh dan Aceh Besar sedang mempromosikan kesehatan.

Abdurrauf mengaku sebelumnya penganut atheis, atau tidak percaya adanya Tuhan sang pencipta alam dan segala isinya. Namun kemudian dia luluh saat berada di Aceh, melihat ayah angkatnya Marzuki setiap saat sujud ketika menunaikan ibadah salat 5 waktu.

Saat itulah, hatinya terketuk hendak mencari tahu apa yang sedang dikerjakan oleh ayah angkatnya. Lantas, Abdurrauf mempertanyakan aktivitas yang dilakukan, salah satunya selalu dia adalah sujud. Lalu Marzuki pun menjelaskan bahwa dirinya sedang menyembah Allah, sang pencipta langit dan bumi dan segala isinya, termasuk manusia.

“Beliau sering lihat saya salat. Bertanya kenapa di saat tertentu bapak sujud. Zuhur sujud, Ashar sujud. Saya katakan, saya sedang menyembah Allah,” kata Marzuki.

Beberapa hari kemudian, Abdurrauf pun mengutarakan niatnya untuk memeluk agama yang dianut oleh ayah angkatnya. Dia telah mengutarakan keinginan memeluk Islam sejak 3 minggu yang lalu.

“Beliau bertanya kepada saya boleh gak saya masuk Islam. Saya jawab sangat boleh sekali,” jelasnya.

Sejak saat itulah Marzuki beserta rekan-rekannya mengajarkan Abdurrauf ilmu-ilmu agama Islam, terutama tata cara menunaikan salat 5 waktu yang menjadi tiang agama Islam.
Abdurrauf punya rencana akan pulang ke Korea Selatan dan memboyong anak dan istrinya ke Aceh untuk memeluk Islam. Meskipun sudah berada di Aceh enam bulan lebih, Abdurrauf belum bisa berbahasa Indonesia, hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa Korea Selatan dan bahasa Jepang.[]

 

Sumber: Merdeka

 

loading...
loading...