ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Seorang Sopir yang Kritis

Foto: Wisata Bandung
0 4.871

Oleh: Rohmat Saputra, jeparahanif@gmail.com

 

 

“EH mas, kalo ngelakuin kayak gitu mending turun aja sekarang,” tegas sopir kepada dua penumpang di belakang.

Suaranya sedikit emosional. Meski dua penumpang itu harus dihormati karena memakai jasa online, tapi bukan berarti mereka bebas berbuat semaunya.

Didapati dua penumpang laki itu bercumbu. Ternyata mereka sepasang homo. Naudzhubillah.

Sang sopir patut diberi apresiasi atas keberanian menegur langsung sepasang gay itu. Sebab jarang ada sopir menegur keras perbuatan yang jelas-jelas maksiat.

Tak lama dari situ, mobilnya terserempet mobil truk. Body mobil bagian depan peot dan lecet. Kemudian sang sopir menyalahkan dua penumpangnya.

“Ini gara-gara mas berdua ngelakuin kayak tadi. Makanya mobil saya jadi keserempet,” ujarnya penuh emosi.

Sopir ini paham, kalau maksiat dapat berpengaruh pada kehidupan orang-orang yang ada disekitar. Bisa membahayakan siapa saja yang berada dekat pada pelaku maksiat. Itulah dampak maksiat. Balasannya kontan tak perlu menunggu lama.

Pernah seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah menyebutkan dalam kitab Jawaabul Kafi, bahwa salah satu akibat buruk dari maksiat akan menimpa makhluk; Manusia, hewan dan tumbuhan.

Semoga saja banyak sopir-sopir online yang berani seperti sopir ini. Tidak takut kehilangan penumpang meski menegur keras penumpangnya yang bermaksiat. Karena rejeki dari Allah, bukan dari penumpang. Penumpang hanya sebagai perantara saja.

Hari ini banyak yang segan menegur maksiat yang terang-terang dilakukan karena khawatir rejeki jadi macet, atau malu dilihat orang. Padahal bila pelakunya diperingatkan, itu sama saja menyelamatkan dirinya dan orang disekitar itu dari keburukan yang akan menimpa.

Kita pun bisa tiru sifat kritis dan keberanian sopir seperti ini. Tak harus menjadi ustadz atau penceramah untuk menasehati orang. Cukup kita paham Islam dan mengamalkan apa telah kita tahu, kemudian menyampaikan apa yang tidak sesuai dari ilmu yang kita pelajari. []

Comments
Loading...