ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Sebanyak 14 Orang Tewas pada Insiden Tenggelamnya Perahu Pengungsi Rohingya

Foto: Nahar Net
0

BANGLADESH—Sejumlah 14 orang tewas dan puluhan orang lainnya hilang setelah perahu pengungsi Rohingya dilaporkan tenggelam, pada Senin (9/10/2017) kemarin.

Sebagian korban tewas adalah anak-anak. Dilaporkan perahu kelebihan beban dan terbalik di laut pada Minggu (8/10/2017) kemarin.

Pihak berwenang di Bangladesh mengatakan perahu nahas itu membawa 60 sampai 100 orang saat tersebut terbalik dan tenggelam di laut lepas. Sejumlah 11 mayat anak-anak, dua wanita dan seorang pria ditemukan terdampar di pulau Shah Porir Dwip di Bangladesh.

Penjaga perbatasan hanya berhasil menyelamatkan 13 orang dari laut, namun nasib penumpang lain masih tidak diketahui.

Alif Jukhar, pengungsi Rohingya yang telah lama tinggal di Bangladesh, kehilangan sembilan saudara dalam bencana tersebut termasuk ibu dan ayahnya.

“Kemarin saya berbicara dengan orangtua saya di telepon dan mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka akan tiba di Shah Porir Dwip ,” katanya kepada AFP.

Lebih dari setengah juta pengungsi Rohingya telah meninggalkan Myanmar sejak serangan milisi terhadap posko polisi pada 25 Agustus. Serangan itu memicu aksi balasan dari militer yang brutal terhadap minoritas Muslim, yang menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat menyebabkan pembersihan etnis.

Sekitar 150 orang tenggelam dalam usaha untuk melakukan perjalanan di perahu nelayan kecil dan reyot yang menurut para pengawal pantai sangat tidak memadai untuk gelombang laut keras.

Seorang penumpang perahu yang selamat, Sayed Hossain, menangis saat melihat mayat anak laki-lakinya. Bayi berusia dua tahun itu pun dibawa ke pemakaman setempat.

“Kami berangkat sekitar pukul 6 sore. Kami tidak punya pilihan selain meninggalkan desa kami,” katanya, menceritakan bagaimana kapal yang kelebihan muatan itu terbalik saat menabrak karang dan tenggelam dalam ombak ganas.

“Mereka (pasukan keamanan) telah membatasi gerakan kita. Banyak yang kelaparan karena kami bahkan tidak bisa berbelanja atau membeli makanan,” pungkasnya. []

loading...
loading...