ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Sarjanaku, Menaikkan Harga Mahar

Foto: Lamaran Nikah
0 607

Oleh: Diarisma Wibowo 
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Ketua umum Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK).

 

Siapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan. Kehidupan dunia menyeret kami untuk hidup dengan gaya yang mewah. Para buruh pabrik, kuli bangunan, sampai pengais sampah. Mereka adalah kaum pribumi yang tidak memiliki pandangan. Penempatan nyata yang harus kami telan pahit-pahit, bahwa jika tanpa pangkat, aku hanyalah rakyat biasa.

Ibuku hanyalah buruh cuci. Ayahku cuma penanam padi. Nasi sebakul, harus cukup untuk beberapa hari. Aku adalah mimpi yang sedang mereka bangun. Merajut lara di negeri orang, sekadar mencari hidup dengan pandangan. Tak ada yang aku kagumi, tentang mimpi-mimpi ini. Tentang harapan-harapan kini dan tentang cerita-cerita nanti.

Sampai nanti aku hebat, tempatku hanyalah di sana. Ibu rumah tangga yang penuh cinta, lalu anak-anak yang kelak aku titah. Perjalanan yang dulu aku tempuh dengan darah, kini berakhir di dapur rumah. Apalah arti sebuah sarjana, Sedang hakikatku hanyalah perempuan yang kelak dipersunting orang. Percuma, pada uang yang sudah aku hamburkan. Pada harapan yang dulu mereka impikan.

Sarjanaku hanyalah penanda harga mahar. Semakin tinggi aku berseragam, semakin tinggi pula hargaku di pasaran. Untuk apa pengembaraan bertahun-tahun aku pinang, untuk apa perbekalanku habis terbuang, jika pada akhirnya, tempatku hanyalah di rumah orang. Tapi apalah daya kita, aku hidup pada tahun yang penuh dengan pandang. Semakin tinggi tempat yang aku pegang, semakin hebat pula mereka yang akan datang. []

Comments
Loading...