islampos
Media islam generasi baru

Saracen, Bagaimana Kita Memakai Media Sosial Secara Cerdas

Foto: Abu Umar/Islampos
0

Oleh: Ari Sofiyanti
Mahasiswa Biologi Universitas Airlangga, Surabaya
ari.sofi.yanti-2014@fst.unair.ac.id

DUNIA maya dan media sosial memang menjadi wadah aspirasi dan opini dimana setiap orang bisa mengekspresikan pendapatnya secara bebas. Kita bisa bebas mengakses berita, menyebarkan isu hangat, dan memberikan komentar. Akan tetapi kita pun perlu berhati-hati dengan memfilter secara cerdas konten-koten di media sosial, karena maraknya isu-isu negatif yang disebarkan oleh kelompok cybercrime terorganisasi seperti kelompok Saracen.

Pada mulanya polisi menangkap Sri Rahayu atas tersangka penghinaan pada Presiden Jokowi pada 5 Agustus 2017 yang kemudian merembet pada penangkapan Jaspriadi karena melakukal ilegal akses pada akun facebook Sri Rahayu yang sudah di takedown oleh penyidik. Pemeriksaan terhadap Jaspriadi berbuntut pada fakta bahwa mereka terkait dengan Ropi Yatsman dan Muhammad Faisal Tanong yang merupakan satu kelompok sindikat Saracen.

Nama Saracen sendiri merujuk pada istilah penyebutan orang-orang yang memeluk islam oleh bangsa Romawi pada abad pertengahan. Sebagai muslim yang mengetahui fakta ini kita pasti berpikiran bahwa sindikat ini memiliki tujuan melecehkan islam dan kaum muslim.

Sindikat ini, seperti yang diberitakan merupakan kelompok yang memiliki 800.000 akun untuk menyebarkan ujaran kebencian, berita hoax, dan isu-isu SARA. Mereka menyebarkan hate speech sesuai pesanan pihak tertentu dan dalam proposalnya bisa ditarik tarif puluhan juta rupiah.

Belum jelas sampai saat ini siapa saja pemesan konten-konten tersebut, dari keterangan pihak polisi kesulitan menyelidiki siapa-siapa pemesan tersebut. Sungguh mengherankan bahwa polisi dengan mudah menyebut orang-orang yang terlibat dalam struktur organisasi Saracen seperti Eggy Sudjana dan Ampi Nurkamal Tanudjiwa, tetapi kesulitan mengungkapkan orang-orang “penting” yang pernah memesan konten negatif di Saracen ini.

Yang pasti mereka adalah orang-orang tertentu yang memiliki kekuasaan dan dana yang besar mengingat tarif bombastis yang telah ditetapkan oleh kelompok ini. Sindikat ini juga belum bisa dipastikan apakah mereka orang-orang pro pemerintah atau anti pemerintah karena konten yang mereka sebarkan bisa jadi apa saja tergantung topik dipasaran yang menjanjikan untuk dikapitalisasi.

Pengungkapan sindikat Saracen yang terkesan tiba-tiba dan kebetulan ini bukan tidak mungkin akan ditindaklanjuti dengan membentuk tim khusus untuk mengawasi pergerakan netizen di dunia cyber. Bisa jadi akan dikeluarkan peraturan agar rakyat tidak sembarangan mengkritik pemerintah. Tim khusus yang akan dibentuk akan memiliki banyak wewenang untuk mengawasi dinamika suara rakyat di dunia maya karena konten-konten yang tersebar di dunia maya pun telah terbukti memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan negeri kita.

Langkah-langkah semacam ini tentu dapat kita lihat sebagai langkah positif jika pemerintah memang bersungguh-sungguh mengawasi konten-konten yang buruk atau berita bohong bukan untuk membungkam aspirasi dan segala kritik rakyat yang membangun untuk mengontrol pemerintah agar tetap menjalankan kewajiban dengan semestinya.

Di dalam islam sendiri terdapat peraturan yang harus kita perhatikan dalam bermedia sosial. Orang yang menyebarkan berita bohong dan memfitnah telah dilaknat oleh Allah. Orang yang menghina agama Allah serta Rasulullah akan mendapatkan sanksi yang berat dan islam juga melarang menghina bahkan memanggil sesama muslim dengan panggilan yang jelek.

Sebagai muslim yang bertakwa tentu tidak akan melakukan dosa-dosa semacam ini, disamping membekali diri dengan ilmu islam sehingga tidak mudah terseret dalam arus fitnah yang menyebar. Negara juga dengan tegas mencegah dan mengawasi serta memberi sanksi segala tindakan menyebarkan fitnah dan hinaan terhadap islam.

Akan tetapi, islam bukan sama sekali meniadakan suara-suara rakyat yang ditujukan pada penguasa. Islam telah menganjurkan adanya kritik kepada penguasa jika mereka melakukan hal yang menyimpang dari aturan islam dengan penyampaian kritik yang baik. Rasulullah dan sahabat-sahabat Rasul serta pemimpin-pemimpin islam telah meneladankan sikap yang baik dalam menerima kritik dari rakyat dan hal ini yang seharusnya dicontoh oleh pemerintah beserta seluruh rakyat saat ini.

Wallahu a’lam. []

Kirim OPINI Anda sebagai mahasiswa lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri.

loading...
loading...