ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Rupiah Anjlok, Menko Ekonomi: Enggak Ada Bahayanya

0

Advertisements

JAKARTA—Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution meminta masyarakat tidak panik, mengingat rupiah yang anjlok ke titik terendahnya. Bahkan Darmin menganggap kejadian ini bukan sebagai bahaya. Sebab, ada sisi positif dari nilai tukar tersebut untuk ekspor Indonesia.

“Jangan menganggap kurs itu kalau masih perubahan 50 rupiah 100 rupiah itu bahaya, enggak ada bahayanya di situ. Cina bahkan sengaja melemahkan mata uangnya,” kata Darmin di Jakarta, Ahad (22/7/2018).

BACA JUGA: Seratus Rupiah Bisa Jadi Apa?

Darmin menceritakan bahwa di Cina, kebijakan moneternya dengan membiarkan mata uangnya terus melemah agar barang diekspor lebih murah sehingga dapat bersaing.

“Begitu mata uang dia terus melemah dia enggak mau intervensi, nah negara-negara di sekitar dia ikut melemah juga,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah telah menembus level terendah sejak awal tahun ini. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, nilai tukar rupiah berada di level Rp14.520 per dolar AS pada perdagangan terakhir Jumat, (20/7/2018).

BACA JUGA: Terkait Melemahnya Nilai Tukar Rupiah, Prabowo: Indonesia sedang Tekor karena Banyaknya Hutang

Beda halnya dengan Rizal Ramli, Mantan Menko Perekonomian era Gus Dur ini menyebut harga kebutuhan pokok di Indonesia lebih tinggi dibanding harga produk sejenis di tingkat internasional.

“Kan enggak masuk akal, harga-harga di Indonesia dua kali (lebih mahal) daripada di luar negeri, padahal rakyatnya miskin. Misalnya harga gula dua kali dari harga internasional, harga daging dua kali, harga bawang putih dua kali, harga segala macam dua kalinya,” jelas Rizal di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat kemarin.

RR, begitu ia disapa, beranggapan, hal ini terjadi karena kebutuhan pokok telah dihadirkan melalui impor dan naasnya justru dikuasai oleh kartel bisnis yang menentukan kuota impor. []

SUMBER: AKTUAL

Artikel Terkait :

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline