islampos
Media islam generasi baru

Relativisme dan Delusi Abu-abu

Foto: Devian Art
0

Oleh: Zidna Qoulan Tsaqila, zidnaqoulan@gmail.com
Mahasiswa Akuntansi Unpad 2016

“Jangan engkau memaksakan apa yang menurutmu benar kepada orang lain. Barangkali, apa yang engkau anggap benar tidak berlaku sama kepada orang lain. Setiap orang memiliki kacamata kebenaran sendiri-sendiri. Maka, bertoleransilah. Bukankah kita hidup di zaman yang toleran?”

Seringkali kita mendapat argumen itu ketika kita hendak membantu teman-teman kita yang menurut kita kurang tepat. Argumen itu mungkin membuat kita berpikir ulang atas aspek kebenaran yang awalnya kita yakini.

Semua Relatif. Kebenaran itu tergantung bagaima kacamata yang digunakan seseorang untuk melihat suatu fenomena. Ya. itulah relativisme. Relativisme merupakan pola pikir yang mengantarkan kita kepada ketiadaan kebenaran absolut. Antithesis dari absolutisme ini memang terdengar manis dan bijak, namun dibalik manisnya rangkaian kata itu terdapat kecacatan yang dapat menggiring pikiran ke dalam jurang delusi abu-abu.

Saya tidak akan mengupas relaltivisme secara diakronik. Akan cukup memakan waktu dan tenaga untuk mengupasnya dengan cara ini. Namun, saya akan mencoba mengaitakannya menggunakan kacamata islam.

Yang pertama kali perlu dipahami adalah Relativisme memiliki kecacatan logika didalamnya. Relativisme memiliki substansi pada ketiadaan kebenaran absolut. Relativisme memandang bahwa kebenaran itu relatif dari sudut pandang seseorang. Namun, substansi ini juga yang menggugurkan substansi Relativisme itu sendiri. Untuk lebih jelas, mari kita tinjau sebuah contoh berikut.

Seseorang relatifis berkata, “Jangan engkau memaksakan apa yang menurutmu benar kepada orang lain.” Kalimat ini memiliki dua makna. Yang pertama, kalimat ini melarang pendengar untuk memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Yang kedua, kalimat ini secara tidak langsung memaksakan pendapat yang bersangkutan kepada pendengar. Bukankah ini lucu? Memaksakan pendapat untuk tidak memaksakan pendapat? Bukankah ini bertentangan dengan substansi Relativisme itu sendiri yang berprinsip bahwa kebenaran itu relatif?

Relativisme membawa seseorang dalam kemelut delusi abu-abu yang menentang adanya eksistensi hitam-putih sebuah fenomena. Ya. Delusi. Sebuah pernyaatan tanpa fakta karena pada kenyataanya Hitam dan Putih itu selalu ada. Dalam kacamata kenegaraan, hitam-putih termanifestasi konstitusi. Konstitusi inilah yang membingkai suatu perkara dalam warna hitam atau putih. Adapun hal-hal yang tidak atau belum tertuang dalam konstitusi itu memang abu-abu, namun hal yang abu-abu ini tidak mengindikasikan ketiadaan hitam dan putih.

Sekarang, mari kita lihat dalam sudut pandang Islam.

Relativisme sangatlah bertentangan dengan konsep dasar islam. Islam sebagaimana negara, memiliki konstitusi yang membigkai suatu perkara dalam hitam atau putih. Hitam-putih ini kemudian dibungkus dalam konsep Halal dan Haram.

Sebagaimana diriwayatkan dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ…

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat…”

Hadist diatas memberikan kita keterangan yang jelas mengenai hitam dan putih suatu perkara. Hitam termanifestasi dalam kerangka Haram sebagaimana Putih termanifestasi dalam kerangka Halal. Adapun tindakan yang tidak termasuk keduanya, akan masuk ke dalam zona abu-abu dalam bingkai Syubhat. Islam mengakui adanya Halal dan Haram dan walaupun terdapat perkara Syubhat, perkara abu-abu ini tidak bersifat meniadakan perkara yang jelas-jelas Hitam atau Putih.

Terdapat suatu hal yang perlu dicermati ketika membahas konsep Halal dan Haram. Halal dan Haram tidaklah konsep mengenai hukum apa yang masuk ke dalam perut manusia saja, namun lebih jauh dari itu. Mencuri itu Haram sedangkan berbagi dengan sesama itu Halal. Berzina itu haram sedangkanmenikah itu Halal. Mencelakakan seseorang itu Haram sedangkan menolong seseorang itu Halal. Halal dan Haram menjadi fundamen dari segala aktivitas manusia mulai adri bangun hingga terlelap kembali.

Lalu, apa kaitanya dengan Relativisme? Dan apakah ini berdampak buruk bagi Islam?

Seperti yang sebelumnya disebutkan, Relativisme membimbing manusia dalam kemelut delusi abu-abu. Relativisme tidak menggap adanya Halal dan Haram, karena Halal dan Haramnya sebuah perkara itu tergantung dari sudut pandang yang bersangkutan. Lebih jauh, Relativisme ini kemudian memunculkan golongan baru yang menentang adanya hukum-hukum ilahi. Kaum LGBT, kaum Agnostik, kaum Atheis tidak lain merupakan hasil lebih jauh dari jebakan relatifis ini. Bukankah ini menjadi masalah besar?

Pikiran-pikiran relatif ini sering menghantui para aktivis dakwah yang masih belia. Permainan kata yang manis dari para relatifis ini seringkali menimbulkan keraguan dalam benak aktivis untuk mampu membimbing seseorang ke dalam jalan yang benar. Lalu, apa yang perlu dilakukan? Mudah saja, jauhi pola pikir relativisme ini karena pola pikir ini akan selalu membawa pada delusi abu-abu kehidupan. []

loading...
loading...