ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Ramalan dalam Islam, Bagaimana?

0

Advertisements

RAMALAN adalah salah satu hal yang banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan. Entah itu hanya sekadar coba-coba atau sekadar ingin tahu tentang ramalan terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Ramalan banyak macamnya, seperti ramalan zodiak, jodoh, masa depan, pekerjaan dan sebagainya. Mungkin bagi kalangan awam percaya pada ramalan adalah hal yang biasa.

Salah satu ramalan yang dapat diambil contoh adalah ramalan tentang kelahiran. Ramalan ini biasa dilakukan oleh para astrolog dengan melihat letak dan konfigurasi bintang-bintang di langit. Misalnya, bila letak gugusan bintang Bima Sakti di arah A lalu kebetulan ada seorang bayi lahir tepat pada malam ketika bintang itu terbit, maka diramalkan bayi itu akan menjadi orang terkenal setelah besar nanti.

Apabila kita perhatikan tentang ramalan, akan terlihat bahwa si peramal mencoba atau seolah-olah mengetahui hal-hal ghaib. Seakan ia mampu membaca dan menentukan nasib seseorang.

Dengan dasar ini, si peramal berani memerintah dan melarang ‘pasiennya’ untuk berbuat sesuatu. Bahkan ia sering menakut-nakutinya meskipun akhirnya memberi kabar gembira atau hiburan dengan kata-kata manis.

Bagi orang yang senang akan rubrik zodiak atau yang suka membaca buku-buku astrologi (ramalan-ramalan bohong), memang terkadang ramalan itu cocok dengan keadaan yang di alami. Namun yang menjadi permasalahan, darimana pikiran peramal itu mencuat? Bagaimana pandangan Islam terhadap masalah ini?

Dalam hal ini, ramalan adalah salah satu hal ghaib yang diterka-terka oleh sesama manusia. Padahal sebenarnya hanya Allah yang tahu tentang perkara-perkara ghaib ini. Allah berfirman,

“(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seseorang pun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (Malaikat) di muka bumi dan di belakangnya,” (QS. Al-Jin: 26-27).

Maka dari itu, siapa saja yang mengaku mengetahui perkara atau ilmu ghaib selain orang yang dikecualikan sebagaimana ayat di atas, maka ia bisa termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendustakan ayat Allah.

Hal tersebut juga dapat membawa seorang manusia ke dalam perbuatan syirik yang tidak bisa diampuni dosanya. Baik mengetahuinya dengan perantaraan membaca garis-garis tangan, di dalam gelas, perdukunan, sihir, dan ilmu perbintangan atau selain itu. Jadi percaya kepada ramalan juga bisa menjerumuskan seorang hamba pada kekafiran. []

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline