islampos
Media islam generasi baru

“Puncak” antara Suami dan Istri

Foto: Hipwee
0

MUHAMMAD bin Zakariya menambahkan, “Barangsiapa yang tidak berhubungan dalam waktu lama, kekuatan organ tubuhnya akan melemah, syarafnya akan menegang dan pembuluh darahnya akan tersumbat. Saya juga melihat orang yang sengaja tidak melakukan hubungan dengan niat membujang, tubuhnya menjadi dingin dan wajahnya muram.”

Ibnu Qayyim lain lagi. Ulama besar Islam ini mengatakan bahwa di antara manfaat berhubungan dalam pernikahan, adalah terjaganya pandangan mata dan kesucian diri serta hati dari perbuatan haram. Hubungan juga bermanfaat terhadap kesehatan psikis pelakunya, melalui kenikmatan tiada tara yang dihasilkannya.

Puncak kenikmatan berhubungan tersebut dinamakan orgasme atau faragh dalam bahasa Arab. Meski tidak semua hubungan pasti berujung faragh, tetapi upaya optimal pencapaian faragh yang adil hukumnya wajib. Yang dimaksud faragh yang adil adalah orgasme yang bisa dirasakan oleh kedua belah pihak, yakni suami dan istri.

Mengapa wajib? Karena faragh bersama merupakan salah satu unsur penting dalam mencapai tujuan pernikahan yakni sakinah, mawaddah dan rahmah. Ketidakpuasan salah satu pihak dalam hubungan, jika dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan akan mendatangkan madharat yang lebih besar, yakni perselingkuhan. Maka, sesuai dengan prinsip dasar islam, la dharara wa la dhirar (tidak berbahaya dan membahayakan), segala upaya mencegah hal-hal yang membahayakan pernikahan yang sah hukumnya juga wajib.

Namun, kepuasan yang wajib diupayakan dalam berhubungan adalah kepuasan yang berada dalam batas kewajaran manusia, adat dan agama. Tidak dibenarkan menggunakan dalih meraih kepuasan untuk melakukan praktik-praktik seks menyimpang, seperti sodomi (liwath) yang secara medis telah terbukti berbahaya. Atau penggunaan kekerasaan dalam aktivitas seks (mashokisme), baik secara fisik maupun mental,.

Maka, sesuai dengan kaidah ushul fiqih “ma la yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajibun” (sesuatu yang menjadi syarat kesempurnaan perkara wajib, hukumnya juga wajib), mengenal dan mempelajari unsur-unsur yang bisa mengantarkan berhubungan kepada faragh juga hukumnya wajib. Bagi kaum laki-laki, tanda tercapainya faragh sangat jelas yakni ketika jima’ sudah mencapai fase ejakulasi atau keluar mani.

Namun tidak demikian halnya dengan kaum hawa yang kebanyakan bertipe “terlambat panas”, atau –bahkan— tidak mudah panas. Untuk itulah diperlukan berbagai strategi mempercepatnya.

Sebenarnya, faragh bukan hanya sekadar inti dari sebuah hubungan seksual, namun juga memiliki fungsi penting bagi kesehatan. Alfrde Kinsey, seorang psikolog melakukan penelitian tentang kehidupan seksual pria dan wanita di tahun 1950-an, yang membuatnya jadi terkenal saat itu.

Dalam salah satu laporan yang dirilis, Kinsey menyebut seks terbukti mampu mengurangi stress. Bagi kebanyakan orang yang menikmati seks dan faragh secara teratur lebih membuat mereka tak agresif dan tak melakukan tindak kekerasan dari pada individu yang kurang.

Studi yang dilakukan bertahun-tahun kemudian menunjukan bahwa frekuensi hubungan seksual dan faragh memperkecil tingkat kematian pada pria dan wanita. Sebagai tambahan, seks juga mengurangi resiko penyakit jantung pada kaum wanita. Faragh juga membantu tubuh kita memerangi segala macam infeksi. Dan inilah alasan kenapa pasangan yang melakukan hubungan seksual secara aktif jauh dari penyakit.

Studi lain mengungkapkan kalau frekuensi ejakulasi mampu mengurangi resiko menakutkan dari kanker prostat. Studi ini juga menerangkan kalau bukan hanya resiko kanker prostat yang berkurang, tapi ferkuensi faragh juga mampu mencegah rasa sakit waktu buang air kecil pada para pria di tahun-tahun senior mereka.

Sebenarnya, seks dan faragh merupakan sebuah cara bagi tubuh kita untuk melepaskan stress dan kecemasan yang menumpuk sepanjang hari sejalan dengan aktivitas yang padat. Terlepas dari adanya bukti ilmiah atau bukan, yang perlu Anda sadari hanyalah bagaimana cara bersantai dan merasa tenang setelah Anda memperoleh faragh dan Anda akan segera menyadari kalau tubuh Anda memang membutuhkan istirahat dari realitas. So? []

loading...
loading...