Poligami

0

Oleh: Daud Farma

 

ANAK kampung yang nikah muda itu luar biasa. Mereka berani nikah muda agar tidak melakukan zina. Lelakinya juga bertanggung jawab. Dia pekerja yang ulet. Seberat dan sesusah apapun pekerjaannya, selagi masih halal, ia lakukan demi menafkahi anak dan istrinya. Sehingga tidak ada lagi waktunya untuk selingkuh, mencari istri kedua. Kenapa? Karena tak ada waktu dan tak mampu. Satu saja banting tulang! Apalagi dua? Bisa jadi pecah kepala.

Namun, kekhawatiran pun mulai muncul ketika sudah mulai sedikit kaya, sudah bisa berleha-leha, waktu kosong pun ada. Mulailah suami cari bini kedua. (Versi orang pertama).

Berbeda dengan modal dengkul ataupun modal gombal. Sanggupnya cuma sampai pacaran saja. Setelah ia temukan manisnya, ia menghilang tanpa jejak. Nikah? Dirinya saja tak mampu ia beri makan apalagi harus menafkahi orang lain? Kata: tak tahu tanggup jawab! Cocok untuknya. (Versi orang kedua).

Related Posts
1 of 12

Lain ceritanya dengan lelaki kaya, segala sesuatunya ada padanya. Lengkap. Duitnya banyak. Istrinya? Satu. Tapi cantik. Setahun pertama berkeluarga, rumah tangga tentram dan bahagia. Tahun kedua, suami pun bosan dengan gaya hidup monoton. Waktu kosong banyak. Tak perlu sibuk banting tulang mencari rezeki. Tak bekerja setahun pun masih bisa bemewah-mewahan. Apalagi hanya sekadar makan? Mobil paling mahal pun bisa ia beli, masa membeli mahar untuk istri satu lagi tidak bisa? Akhirnya mulailah ia bertingkah. Tak lama istrinya dua. (Versi orang ketiga).

Berbeda lagi dengan yang datang melamar modal pas-pasan. Dilihat dari muka? Dia lumanyan ganteng. Dilihat dari penampilan? Dia sederhana. Kata kaya jauh untuknya. Dilihat dari agama dan family? Mantab. Dari segi akhlak? Semua orang yang tahu tentangnya bilang ia berakhlak baik.

Dia pun diterima oleh ayah si perempuan untuk jadi mantunya. Menikah. (Versi orang keempat) Apakah ia berpoligami?

*Urusan poligami kembali pada kesepakatan dua pihak: suami dan istri. Bagaimana pun suaminya, pasti mau kalau dibolehkan istri untuk nikah lagi. Apalagi kalau ia mampu? Tapi kan tidak semua istri sanggup dimadu. Jadi diskusikanlah baik-baik. []

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline