ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Polemik Full Day School, Wasekjen MUI: Pendidikan Seharusnya Memanusiakan Manusia

Foto: Ari/Islampos
0

JAKARTA—Wacana full day school atau Kebijakan lima hari sekolah yang diatur Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah, melahirkan polemik. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak agar lima hari sekolah dikaji ulang sebab akan berdampak kepada madrasah atau pesantren di daerah.

Saat ditemui Islampos disela-sela kegiatan Sidang Rapat Koordinasi Penguatan Fungsi Agama dalam Pembangunan Nasional, Jum’at (11/08/2017) Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat DR. H. Amirsyah Tambunan menjelaskan terkait polemik Full day School.

“Ya, yang pertama kita harus lebih konsen terkait konten ‘Pendidikan Berkarakter’, terlepas dari perdebatan Full Day School yang saya rasa kurang produktif, dan juga terkait lima hari sekolah tersebut saya rasa cenderung ada aspek politik,” ujarnya

“Seharusnya muatan konten aspek pendidikan berkarakter ini harus mampu melahirkan solusi dalam masalah yang sedang dihadapi oleh umat dan bangsa kini,” jelasnya

Amirsyah menambahkan, apa saja polemik dan permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini diantaranya yakni pendidikan berkarakter, belum mampu memanusiakan manusia secara utuh.

“Yang dimaksudkan dengan memanusiakan manusia secara utuh adalah harus mampu mempunyai karakter yang kuat yang disesuaikan dengan Imtaq, Iptek, mempunyai soft skill kepribadian yang kuat dan tangguh serta Mempunyai Hard Skill pengembangan diri dan keterampilan mengelola sumber daya alam.”

Amirsyah melanjutkan, bahwa pendidikan karakter merupakan Bagaimana menekankan keteladanan,  aspek contoh kepada semua pihak, nah yang menjadi salah satu faktor yang membuat belum terlaksananya Pendidikan berkarakter adalah minimnya aspek keteladanan.’

Nah salah satu caranya adalah dengan taktis strategis yang lebih bermuatan, jelasnya, bagaimana caranya mengembakan sumber daya manusia tersebut.

“Yang terpenting bukan banyaknya hari untuk belajar, melainkan seberapa efektifkah pembelajaran sehingga Anak-anak dapat mengembangkan potensinya untuk mengembangkan dan meningkatkan sumber daya manusia yang lebih baik,” tutup Amirsyah. []

Reporter: Ari Cahya Pujianto.

loading...
loading...