Pesantren Tanara, KH Ma’ruf Amin, dan Jejak Syaikh Nawawi di Mekah

0 159

ADA keterkaitan antara Pesantren Tanara, KH. Ma’ruf Amin, dan jejak keturunan beliau Syekh Nawawi di Mekah. Inilah penjelasannya.

“Apa beda orang Banten sekarang dan dahulu ketika tinggal di Mekah?’’ kata seorang petugas pelayanaan jamaah haji, Arsyad Hidayat, kepada pemilik Kedai Bakso Si Doel, Suwanda, di Bakhutmah, Mekah.

Yang diajaknya bicara tak bisa menjawab. Berulang kali Suwanda berusaha keras berpikir, tapi jawaban tetap tak muncul di otaknya.

“Kalau pengin tahu, dulu orang Banten ke Masjidil Haram kebanyakan untuk ngaji dan berhaji, sekarang untuk jualan bakso,’’ kata Arsyad.

Mendengar jawaban itu, Suwanda hanya bisa nyengir kuda saja. Sindirian itu begitu telak masuk ke hatinya.

Memang, bila datang ke Masjidil Haram di luar musim haji, setiap sore di masjid itu selalu dijumpai kerumunan orang yang mengaji atau mendengarkan ceramah. Mereka terbagi-bagi dalam beberapa ‘halakah’. Seorang guru berdiri di sebuah kursi, para muridnya mendengarkan ceramah.

Namun, pemandangan itu menghilang seiring dengan kedatangan rombongan haji.

Padahal, model mengajar seperti itulah yang sebenarnya menjadi sisa pengajaran model Islam masa lalu, sebelum kini di Mekah dan Madinah didirikan universitas.

“Tapi, salah satu guru mengajar di Haram (Masjidil Haram) adalah almarhum Syekh Nawawi al-Bantani. Dia orang dari Tanara, Banten,’’ kata Suwanda balik menyerang tak mau kalah.

Arsyad kini menimpalinya dengan senyuman. Master UIN Jakarta dan lulusan Al-Azhar ini pun membenarkannya.

“Salah satu cucu Syekh Nawawi, ya KH Ma’ruf Amin (Ketua Syuriah NU -red),’’ katanya.

Pernyataan Suwanda dan Arsyad, dalam perbicangan di sela penyelenggaran haji 2011 itu, sejalan dengan pendapat sosiolog Belanda, Martin van Bruinessen. Dia menyatakan, semasa hidupnya Syekh Nawawi merupakan tokoh utama ulama Mekah.

Namun, sebelum itu, harap pula diketahui, selain menjadi rujukan keilmuan, para ulama di Mekah juga dipakai sarana legitimasi oleh penguasa dunia Islam. Seperti yang pernah dilakukan oleh Pangeran Rangsang atau Sultan Agung pada 1640-an dan juga sebelumnya pada 1630-an oleh Sultan Ab’ul-Mafakhir, raja Banten keempat.

Khusus untuk Raja Banten keempat itu, dia malah tak hanya mengirimkan utusan guna meminta pengakuan sebagai sultan. Ab’ul-Mafakhir juga meminta kepada Syarif (penguasa) Mekah penjelasan mengenai isi berbagai kitab agama. Bahkan, ia pun meminta didatangkan ahli fikih dari Mekah un-tuk memberikan pengajaran agama di Banten.

Tingginya gairah intelektual di Mekah, khususnya mengenai terhormatnya posisi intelektual Nawawi, juga terekam dalam catatan Snouck Hurgronje. Dia menyebut Nawawi orang yang paling alim dan rendah hati dari nusantara. Karena kepintarannya, pemerintahan Ottoman Turki memperbolehkan dia mengajar dan menjadi imam Masjidil Haram.

Kemasyhuran Nawawi yang wafat sekitar tahun 1897 itu sampai kini masih banyak jejaknya. Hampir semua kitabnya hingga kini masih dipelajari di pesantren, salah satunya kitab tentang aqidah (tauhid), syarah dari karya Syekh Ahmad Marzuqy Aqidah al-Awwam dengan judul Nuruzh-Zhalam.

Berbeda dengan ulama Nusantara sebelumnya, Nawawi menulis kitabnya dalam bahasa Arab. Tidak kurang dari lima puluh kitab yang dia tulis, 22 kitab masih beredar, dan 11 kitabnya termasuk 100 kitab yang paling banyak digunakan di pesantren.

“Semua kiai zaman sekarang menganggapnya sebagai nenek moyang intelektual mereka,’’ tulis Martin Van Bruinessen.

Suwanda pun tahu akan posisi terhormat Nawawi itu. Dia pun sudah mendengar beredarnya mitos bahwa jasad ulama ini masih utuh ketika makamnya akan dibongkar untuk pembangunan jalan. Namun, dia menyatakan mitos itu muncul karena ada rasa penghormatan kepada dia.

“Kata orang Sykeh Nawawi perawakannya kecil, tapi para ulama yang di Mekah ini segan kepadamya. Jadi, kalau ada cerita aneh tentang dia, itu mitos saja,” ujarnya.

Sebab, kata dia, jangankan ulama, kata dia, makam raja tak ada yang tahu persis sebab hanya ditandai dengan batu. Setelah dua tahun, kadang makam dibongkar, kemudian tulang belulangnya disingkirkan untuk diganti penghuni lain.

Apa pun itu, selang seabad kemudian yang muncul memang sedikit berlainan. Dahulu ada Nawawi yang punya nama besar sebagai intelektual dengan ratusan kitab. Namun, kini ada Suwanda yang punya warung bakso dengan ratusan pelanggan di saat musim haji tiba. Zaman memang sudah berubah.

Nah, ketika hari-hari ini sosok Cicit Syekh Nawawi, KH Ma’ruf Amin, melambung dan sangat terkenal, maka jelas dan sekaligus nyata sebagai sebuah hal yang sama sekali tidak mengherankan.

Seekor macan memang melahirkan macan! []

Sumber: ihram.co.id

loading...
loading...