ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Pernikahan Seorang Hafidz dan Pelajaran untuk Keluarga Kami

Foto: Bersama Islam
0
Oleh: Cut Rafiqa Majid

Ketika saya mendapat kabar pernikahan seorang hafidz Quran asal Aceh yang akan melangsungkan pernikahannya pada pagi hari ini, dan sang pengantin mengundang seluruh warga Aceh untuk turut menghadiri prosesi pernikahan nya. Kami sekeluarga salahsatu nya yang ikut hadir.

Setiap niat tentu disertai dengan maksud dan tujuan. Maka saya dan suami pun mempunyai tujuan kenapa turut hadir dalam pernikahan sang hafidz tersebut.

Ya, sejak sehari sebelum hari ini, kami sudah mengagendakan ke anak-anak bahwa hari itu kita akan menghadiri pernikahan sang hafidz Muzzamil. Anak-anak sudah familiar dengan sosok hafidz tersebut dan pasti nya mereka sangat antusias.

Pukul 4.25 bangun sahur lalu persiapan menuju ke masjid Oman yang jaraknya kurang lebih 10 menit dari rumah. Dalam mobil kami membuka bahasan singkat tentang keberkahan waktu subuh, saya membuka pembicaraan ke anak-anak.

“Liat nak kalau setiap hari seluruh umat muslim di dunia terutama laki-laki shalat subuhnya di masjid, maka akan takutlah kaum kafir sama orang islam.”

“Kenapa gitu, Mi?” kata Jihad.

Lalu abi nya menjawab

“Iya nak, karena kalau mau liat kekuatan umat muslim (red:laki-laki) liat berapa banyak orang (red:laki-laki) yang shalat subuh nya di masjid. Karena waktu subuh itu penuh keberkahan, Allah hamparkan rezeki dan waktu yang berkah, Maasya Allah.

Sepulang dari masjid, dalam perjalanan pulang saya membuka bahasan maksud dan tujuan mengajak anak-anak ke masjid menyaksikan pernikahan seorang hafidz muda.

Liat nak, bagaimana Allah memuliakan orang-orang yang menghafal quran. Di dunia Allah memuliakan dan kelak di akhirat Allah muliakan dan mampu memberi syafaat dan mahkota untuk umi dan abi nya. Itu juga harapan umi dan abi untuk abang dan adik-adik.

“Abi nangis tadi nak,” timpal abi nya.

“Abi nangis terharu, dan abi mendoakan anak-anak abi dan kita sekeluarga agar dalam penjagaan Allah سبحانه و تعالى . Abang harus jadi muslim yang kuat, pemuda yang tangguh, yang cinta dengan masjid, cinta Allah dan mengimani dan mengamalkan semua isi Al-Quran, seorang hafidz hidup nya akan berkah dan mulia nak, karena dakwah nya dengan qalamullah,” kata abi.

Kakak dan adek harus jadi hafidzhah, supaya nanti menjadi wanita dan calon ibu shaliha, bisa mengajarkan anak-anaknya nanti baca dan hafal quran, itulah sebaik-aik perhiasan dunia.

Terakhir, sungguh sangat indah nasihat pernikahan yang disampaikan oleh Ustad Fahkruddin Lamudi, LC. MA saat itu. Beliau temannya suami satu alumni gontor.

Bahwa perjalanan hidup sesungguhnya adalah setelah menikah. Hari ini masih merasakan indah nya menjadi pengantin baru, namun setelah nya baru mulai menjalankan kehidupan yang sebenarnya, mulailah melihat semua yang ada dalam diri pasangan kita, baik dan buruk nya semua terlihat, maka jangan kasih kesempatan kepada syaitan untuk merusak ikatan yang telah Allah halalkan ini dengan keburukan.

Maka itu saya berpesan kepada masing-masing pasangan, kalau nampak 1 kejelekan pada pasangan nya, maka liatlah seribu kebaikan nya, agar keharmonisan tetap terjaga hingga ke Syurga kelak. QS. At-Tharim ayat 6 yang di bacakan Muzzamil tadi menjadi pengingat bagi kedua mempelai bahwa Allah mengingatkan kita dengan sangat keras.

“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu dengan penjaga penjaganya malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap perintahNya kepada mereka dan selalu taat akan perintah Nya.

MaasyaAllah, sungguh hari ini anak anak banyak mendapat pelajaran, karena anak anak kami HS maka setiap moment, setiap tempat, setiap peristiwa, dan setiap kegiatan mesti harus dan wajib mendapat pelajaran bagi mereka untuk bekal mereka kemudian hari. Hari itu kami masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mendidik dan mengasuh anak-anak kami.

Namun tidak ada jaminan bagi kami akan seterusnya bisa mendidik dan mengasuh mereka, maka selagi Allah masih memberi kesempatan ini kepada kami sebisa mungkin kami pergunakan dengan baik, membersamai mereka anak anak kami,dengan harapan kelak mereka yang akan menjadi salahsatu asbab kami bisa menapaki kaki di syurga kelak, bagaimanapun kebahagian yang hakiki adalah Ketika kita sekeluarga bisa berkumpul di Syurga.

Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wal jama’a baina kuma fil khair untuk Muzzamil dan Sonia.
Rabbi habli minash shalihin

(Wahai Rabbku, berilah aku keturunan yang shalih. Qs:37:100).

Di tulis sebagai pengingat diri dan pembelajaran bagi kami sekeluarga.

loading...
loading...