ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Percik-Percik Keimanan

0

Advertisements

Oleh: Tasaro GK

(Penulis dan Pengasuh Kampung Boekoe, Gunung Geulis, Jatinangor)

 

SETELAH hari ini, Anda akan membaca perdebatan panjang. Perihal massa Muslim memutihkan Monumen Nasional yang berulang.

Akan ada tudingan bahwa massa yang berduyun-duyun dari berbagai kota itu bayaran. Setidak-tidaknya, mereka adalah orang-orang polos yang ditunggangi sebuah kepentingan.

“Ah, saya, kok, tidak yakin Abah benar-benar ikhlas dengan reuni 212,” kira-kira begitu kata seorang sahabat yang punya bangku dalam pikiran saya namun tak kunjung mampu memahami isinya.

“Jahat sekali pikiranmu,” seloroh saya menjawabnya.

Akan banyak kesalahpahaman. Akan berlimpah pergeseran makna perbincangan. Termasuk apa yang sedang saya sampaikan. Bisa jadi Anda akan memahaminya berbeda. Tak kunjung menemukan keberpihakan saya. Pada puncak mana saya mengibarkan bendera.

BACA JUGA: MUI Tegaskan Tiga Ukhuwah sebagai Pilar Penguatan NKRI

Tidak mengapa. Sebab, saya menulis bukan untuk menyenangkan sekelompok orang. Saya hanya bercerita cara saya memahami sesuatu. Jika itu berguna, siapa yang tahu?

Saya tidak pergi ke Monas. Tidak menjadi bagian massa putih yang begitu membahana meneriakkan takbir, pada tahun-tahun lalu, juga pada apa yang disebut reuni kali ini.

Namun, saya bisa memahami percik-percik keimanan yang menyalakan hati yang bergerak menderap menuju ke sana. Saya tidak terpikir untuk meragukan niat saudara-saudara saya.

Apa yang menggetarkan hati mereka. Apa yang menitikkan air mata mereka. Apa yang mengambang pada cita-cita masa depan mereka.

Itu bukan sekadar perkara siapa presiden Indonesia selanjutnya.

Jika Anda begitu sulit memahami konsep ini, tak mengapa. Tetapi, saya punya cerita.

Jika Anda pernah berkelompok pada kumpulan-kumpulan yang mempelajari Al Qur’an secara bersinambungan, Anda akan merasakan itu. Sebuah ikatan yang tak terlihat, ketika Anda menandai siapa orang-orang yang punya kegelisahan sama dengan Anda. Kelompok kajian, halaqah, liqa’,jamaah, apa pun namanya. Anda akan menerima sebuah hadiah yang Anda pun susah menerjemahkannya. Namanya ukhuwah. Sebuah ikatan persaudaraan sesama Muslim.

Konsep yang cukup dekat agar Anda mendapatkan sebuah gambaran adalah: persahabatan.

Bukankah kadang persahabatan lebih kuat ikatannya dibandikan pertalian darah? Anda merasakan kesamaan diri Anda dengan orang lain. Bukan satu, dua, atau lima, melainkan tak terhitung jumlahnya.

Tiba-tiba Anda memperoleh begitu banyak limpahan kebanggaan, kekuatan untuk bertahan, berjuang, dan menuju sebuah mimpi yang sama.

Energi itu pernah saya miliki, ketika usia saya jauh lebih muda dibanding hari ini. Di Jogja, dengan para akhi dan ukhti aktivis dakwah kampus. Ketika rambut saya masih melampaui bahu dan saya melipat dan menyembunyikannya di balik peci.

Saya bisa berhari-hari tidak pulang. Keseharian saya ada di kampus bersama mereka. Mendengarkan kajian, memutar film perjuangan Islam, shalat berjamaah, buka dan makan sahur bersama berkelana ke alam. Macam-macam. Mencintai dan membenci karena Allah. Bertemu dan berpisah karena Allah.

Maka saya betul-betul menangis tergugu sewaktu harus meninggalkan mereka menuju Bogor. Menjadi wartawan.

Sekali pernah, saya mengirim kaset berisi omongan saya sembari terisak saking rindunya dengan sahabat-sahabat saya di Jogja. Duh … itu sedikit memalukan. Sahabat-sahabat dalam ukhuwah.

Loading...

Kami anak-anak muda yang selalu percaya, Islam akan tegak sebagai sebuah cara hidup yang menyeluruh. Hidup di Bogor, tanpa sahabat yang bermimpi sama, oh … berat nian deritanya.

Saya mendatangi toko buku Fatahillah, di lantai dasar Mal Jambu Dua, setiap hari hanya untuk membaca buku-buku islami dan ikut mendengarkan kaset-kaset nasyid. Sebuah awal yang tak terduga, yang mengubah masa depan saya. Sewaktu saya mulai membaca buku Asma Nadia, Sakti Wibowo, Helvy Tiana Rosa, Maimun Herawati, Mutaqwiati, Izatul Jannah, Afifah Afra, dan nama-nama penulis Muslim lainnya. Keseharian yang kemudian memancing saya untuk mulai menulis cerita alih-alih berita.

Saya benar-benar rindu, dan cara meredamnya hanya itu.

Sampai kemudian, saya menemukan mereka. Kawan-kawan baru yang terpercik oleh semangat yang serupa. Saya mulai rajin datang sembari liputan ke wilayah Empang, Bogor. Kampung Arab, yang isinya para habib, turunan Pakistan, Afghanistan, bercampur dalam satu kawasan.

Obat kehilangan itu adalah sebuah komunitas baru. Saya lalu bergabung menjadi bagian dari organisasi remaja masjid se-Kota Bogor. Mengaji kepada ustad yang selalu saya cintai dan rindukan, bahkan setelah bertahun-tahun kemudian, kami bersimpang pilihan.

Lalu saya mulai terbiasa dengan aksi-aksi itu. Naik bus berderet-deret ke ibukota. Bahkan saya tidak pernah benar-benar mempersoalkan apa tema gerakannya. Saya merasa bahagia saja.

Berada di tengah lautan manusia dengan aroma jiwa yang sama. Aroma cita-cita agama. Aroma persaudaraan mereka yang bersyahadat dalam satu kalimat. Bertakbir, bernasyid di jalan-jalan ibukota.

Memutihkannya, lalu meninggalkan setiap sudutnya tanpa jejak keburukan. Tidak ada sampah yang tertinggal, tidak ada tanaman yang terinjak, tidak ada hati yang berderak.

Setidaknya, seingat saya, kami ketika itu tidak sedang menyerang siapa pun. Tidak dalam semangat mengalahkan siapa pun.

Ukhuwah itu, hanya bisa dirasakan, tidak akan berhasil saya ceritakan. Jadi, amat bisa dipahami jika Anda pun tidak bisa memahaminya dengan utuh. Bagaimana bisa Anda selalu mendahulukan sahabat Anda dan bukan kepentingan Anda. Sewaktu Anda berupaya bermanfaat baginya dan tidak terlalu peduli dengan kepentingan Anda.

Lalu ketika saya mesti meninggalkan Bogor, dan sudah lebih dewasa dalam menyikapi perpisahan, saya berpamitan dengan saudara-saudara ukhuwah saya. Kami berpelukan dan saling menguatkan.

Itu genap 15 tahun lalu dan sejak hari itu, dengan mereka saya belum lagi bertemu.

Saya memulai petualangan baru di Bandung, dan kehausan ukhuwah itu terus mendera. Saya menemukannya dalam sekelompok anak-anak muda yang satu atau dua tahun lebih muda dibanding saya. Kami bertemu sepekan sekali. Mengaji, curhat, menyalakan kembali cita-cita kami. Saya pun bekerja di sebuah penerbit yang pula mengikat seluruh karyawannya dalam ikatan keislaman, tak sekadar usaha yang mengejar keuntungan.

Maka, takbir yang lantang adalah bagian dari hari-hari itu. Beberapa belas tahun lalu, saya memandang kehidupan dengan cara yang sama dengan orang-orang yang saya kenal. Kami berkumpul di Lapangan Gasibu dalam takbir dan nasyid yang membahana. Itu tidak pernah terasa

mengancam, seperti sebagian telinga memaknainya sekarang.

Saya bahagia. Ikatan karena iman itu begitu memberi saya harapan. Memudahkan air mata berlinangan.

Anda yang sejak awal membaca dengan curiga, mungkin mengira ini bagian tulisan ketika saya lalu mengatakan kepada Anda, semua itu hanya masa lalu. Sebab, hari ini saya memandangnya dengan cara berbeda. Hari ini saya tidak lagi merasakan percikan-percikan luar biasa.

Jika Anda berpikir begitu, mungkin memang perlu waktu lebih lama untuk memahami pikiran saya.

Sebab, saya akan selalu merasakannya. Bahkan, ketika bibir mengecup Hajar Aswad pun hal itu menjadi doanya. Hal yang sedikit berbeda hanyalah, saya menjaga percikan itu pada hal-hal yang berbeda.

Ketika Anda shalat lima waktu di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, mungkin itu sensasi yang paling mendekati. Anda bertemu dengan ribuan orang setiap saat. Wajah-wajah yang tidak pernah sama.

Berbahasa berbeda. Namun, memberi Anda kehangatan yang serupa: ukhuwah.

Anda pun akan terkondisikan menjadi pribadi yang penuh cinta. Anda akan memperoleh kebaikan- kebaikan kecil yang tak terduga. Begitu juga, Anda akan berupaya memberikan hal terbaik dalam diri Anda. Memberikan makanan, menyeduh teh hangat, membagikan plastik pembungkus sandal, mengucap salam, memberikan senyuman, menuntun orang tua.

Anda akan menangis tanpa sebab yang terlihat. Sebab, Anda begitu bahagia.

Maka, Sobat. Anda yang berbeda ataupun sependapat dengan saya, atau tidak keduanya,

kehangatan inilah yang dirasakan sebagian besar kawan, kenalan, saudara Anda yang terus ingin kembali dan kembali lagi berkumpul dalam lautan putih dalam takbir, doa, dan cinta yang sama, salah satunya di Monas, Jakarta.

Anda boleh berdebat perihal kemungkinan ada yang menunggangi, menyusupi, menitipkan agenda politik mereka, berusaha untuk menang, mendapat simpati, mendulang suara pada agenda reuni ini.

BACA JUGA: Wantim MUI Harap Umat Tidak Sebarkan Ujaran Kebencian dan Eratkan Ukhuwah Islamiyah Jelang Pilpres

Pertanyaannya kemudian adalah, jika memang demikian, apa masalahnya?

Kalau hal yang Anda gelisahkan adalah kampanye terselubung, adakah kegiatan yang melibatkan para politikus, dalam bentuk apa saja, betul-betul bebas dari usaha memperoleh simpati? Menabung peluang suara?

Pada kontes pemilihan presiden, seorang petahana, sebagaimana telah terjadi di seluruh belahan dunia, diuntungkan karena kedudukannya. Ia tak menyalahi aturan main ketika segala kegiatan sebagai presiden berdampak pula pada citranya sebagai kandidat pemimpin pada pemilu selanjutnya.

Lalu kesempatan apa yang bisa dimiliki penantangnya?

Selain bahwa kecurigaan itu masih perlu pembuktian, tidak ada salahnya jika memang demikian, selama tak ada aturan yang dilanggar. Pada setiap kampanye dan pemasaran dalam bidang apa pun, sejak semula harus ditentukan siapa konsumennya. Jika Anda penulis maka Anda mesti menargetkan, siapa calon pembaca Anda.

Ketika Anda memilih sebuah buku, bukan berarti Anda mesti membenci buku yang lain. Sebab, manfaat buku yang Anda pilih tidak ditentukan oleh kualitas buku yang Anda tinggalkan.

Maka, saya sangat menyakini, ribuan orang, mungkin jutaan, yang berkumpul di Monas sangat tahu apa yang mereka inginkan.

Jika pun, yang terbetik dalam hati mereka adalah sebuah perubahan kepemimpinan nasional, itu sekadar ikhtiar. Saya masih ada dalam keyakinan, setiap mukmin mesti habis-habisan berusaha, sedangkan perihal hasil kepada Allah mereka menyerahkannya.

Maka usaha yang bermula dari sebuah ‘ijtihad’ bukanlah sebuah kepolosan, tidaklah digerakkan oleh ketidaktahuan. Sebab, mereka percaya, yakin betul-betul, sebuah pilihan mesti dilakukan, sebuah perjuangan harus dilakukan. Sebuah posisi keislaman dalam keindonesiaan. Hidup dalam keyakinan Islam yang menyeluruh tanpa melewati pagar kebangsaan.

Mungkin saya, juga Anda, memiliki cara sendiri, pendekatan dalam mencintai negeri ini sembari tetap mendekap idealisme diri. Lakukan saja. Buktikan kemuliaannya tanpa perlu merendahkan mereka yang berbeda.

Seorang kawan yang berbeda berbicara. “Abah ini kalau menulis arahnya selalu mengajak orang untuk memahami orang lain yang berbeda dengan Abah. Tidak pernah sebaliknya. Padahal dalam banyak hal orang yang coba Abah pahami malah curiga kepada Abah. Bilang Abah ambigu, tidak punya sikap, abu-abu, munafik.”

Kepada dia saya menjawabnya,”Saya hanya bisa melakukan apa yang menjadi bagian saya tetapi tidak bisa memaksa orang lain mengusahakan bagian mereka.” []

Kirim OPINI Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri. Isi di luar tanggung jawab redaksi.

Artikel Terkait :

loading...
loading...

Sponsored

Maaf Anda Sedang Offline