islampos
Media islam generasi baru

Perbaiki Problem Ekonomi, Ini Caranya

Foto: Very Fund
0

JIKA berbicara mengenai permasalahan ekonomi, tentu banyak orang yang merasakannya. Terlebih, permasalahan ekonomi ini begitu sensitif. Banyak keluarga yang terpecah hanya karena ekonomi yang bermasalah. Oleh sebab itu, alangkah lebih baik kita mengatasi segala permasalahan ekonomi. Agar perekonomian keluarga bisa berjalan dengan baik. Tapi, bagaimana caranya?

Dalam konsultasisyariah.com dijelaskan bahwa untuk memperbaiki kehidupan kita dalam masalah ekonomi maka tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada agama Dzat Yang Maha Memberi Rezeki, yang perbendaharaan langit dan bumi menjadi milik-Nya. Di antara bentuk kembali kepada agama Allah adalah:

Pertama, seorang muslim hendaklah meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa rezeki sudah ditulis dan ditentukan oleh Allah. Tidak akan bertambah dan tidak akan berkurang. Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah telah menulis takdir-takdir untuk ciptaan-Nya 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi,” (HR. Muslim, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash).

Lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi sudah ditulis takdir kita, di antaranya sudah ditulis rezekinya. Si fulan selama hidupnya akan memakan beras berapa ton, meminum air berapa ribu liter, kekayaan sekian semuanya sudah Allah tulis di lauhil Mahfudz.

Kemudian dalam hadis Ibnu Mas’ud, Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa ketika janin dalam perut berumur 120 hari atau 4 bulan kurang lebih, “Maka malaikat meniupkan ruh kepada janin tersebut, dan diperintah untuk menulis 4 perkara, rezekinya, ajalnya, amalannya, dia termasuk penduduk neraka yang celaka atau penduduk surga yang bahagia,” (HR. Muslim).

Demikianlah seorang bayi sebelum lahir sudah ditulis rezekinya oleh malaikat dengan perintah dari Allah. Dan apa yang ditulis malaikat tersebut tidak menyimpang dari apa yang sudah tertuang di Al-lauhil Mahfudz. Kemudian apa yang tertulis tersebut pasti akan terjadi. Tidak akan ada seorang pun yang bisa merubahnya. Seseorang tidak bisa merebut rezeki orang lain, dan tidak bisa direbut rezekinya. Masing-masing sudah memiliki rezeki yang sudah ditentukan.

Kedua, mengambil sebab rezeki dengan bekerja dan berusaha. Allah yang telah menulis rezeki kita Dia pulalah yang telah memerintah manusia untuk berusaha dan bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagaimana dalam firman-Nya, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Dan Rasulullah ﷺ juga memberikan motivasi kepada kita untuk berusaha dan tidak bergantung kepada orang lain. Sebagaimana dalam hadis Abu Hurairah, “Sungguh salah seorang dari kalian mencari kayu bakar dan memikulnya di atas punggungnya itu lebih baik daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik memberi atau tidak memberi,” (Muttafaqun ‘alaihi).

Dan bukan berarti kalau kita berusaha kemudian kita tergolong orang yang tidak bertawakkal kepada Allah. Bahkan ini termasuk kesempurnaan ketawakkalan seorang mukmin kepada Allah.

Dari Umar bin Al-Khaththab Radhiallahu ‘Anhu beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya kalian benar-benar bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung-burung, pergi pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang,” (HR. At-Tirmidzy dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany).

Dalam hadis ini Rasulullah ﷺ mengisyaratkan bahwa termasuk tawakkal kepada Allah adalah berusaha. Karena burung-burung mereka bertawakkal kepada Allah dan keluar dari sarangnya untuk mencari makan.

Demikian pula ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, aku ikat unta ini kemudian bertawakkal atau aku lepaskan kemudian aku bertawakkal?” Maka beliau menjawab, “Ikatlah kemudian bertawakkal,” (HR. At-Tirmidzy dari Anas bin Malik, dan dihasankan Syeikh Al-Albany). []

loading...
loading...