Setelah Pensiun dari NBA, Hakeem Olajuwon Putuskan Jadi Da’i

Foto: ClutchPoints
0 123

DI suatu malam pada tahun 2000, Hakeem Olajuwon mendengarkan sebuah bacaan ayat Al-Quran dari kaset. Didengar-dengarkan, ternyata, lantunan bacaan itu semakin menarik hatinya. Hakeem kemudian mencari tahu dan mencoba memelajarinya. Suatu hari, di sebuah kamar hotel di Miami, Hakeem dengan khusyuk membaca ayat-ayat Alquran. “Sebenarnya saya malu, sebab suara saya terdengar sumbang dan tinggi,” katanya. “Tapi, itu bukan masalah. Ketika mulut Anda sudah melafalkannya, Anda akan merasakan betapa indahnya kandungan bahasa Al-Quran.”

Dengan Kitab suci tersebut, Olajuwon merasakan sedang berkomunikasi dengan Allah. Itulah yang membuatnya makin dekat dengan Allah SWT, Bahkan, sejak saat itu, ia pun menambahkan sebuah huruf di depan namanya. Yakni, dari Akeem, menjadi Hakeem. Sebuah nama yang diambil dari salah satu Asmaul Husna, yang berarti seorang penegak hukum.

Sejak menyatakan diri mendalami Islam, Hakeem benar-benar menjalankannya dengan penuh perhatian. Tidak heran jika kemudian orang pun mengenal Hakeem sebagai pribadi Muslim yang taat. Bahkan, ia selalu membawa kompas yang bisa menunjukkan arah kiblat di arena basket saat ia akan bertanding atau sedang latihan; ia tak pernah lupa memasang alarm pengingat waktu shalat setiap harinya; ia membaca Alquran di pesawat; dan ia mengunjungi masjid di setiap kota yang disinggahinya kala bertanding, terutama untuk shalat Jumat.

Tidak ketinggalan pula, ia menyisihkan 20 persen dari gajinya bermain basket untuk kaum miskin. “Allah datang pada kita, dan surga tidaklah murah,” ujarnya.

Pada bulan Ramadhan, Olajuwon tak pernah batal berpuasa, bahkan ketika ia bertanding untuk klubnya, kecuali ia sakit. Puasa sama sekali tidak memengaruhi permainannya di lapangan. “Tenaga saya sangat kuat, bahkan meledak. Ketika waktu berbuka tiba, air minum terasa sangat nikmat,” katanya.

Basket sebagai pilihan karir

Hakeem Olajuwon berasal dari Nigeria. Orangtuanya adalah keluarga kelas menengah yang lumayan sukses di Lagos, namun sayang kesuksesannya tersebut tidak diimbangi dengan pendidikan agama yang cukup. Walau ia muslim sejak lahir, tapi ia kurang mendapatkan pelajaran agama. Kedatangannya ke Amerika pada awalnya adalah untuk melanjutkan studi selepas menamatkan SMA. Ia memilih studi di Universitas Houston. Saat berkuliah di Universitas Houston, ia menyalurkan hobi dan bakatnya, yaitu bermain basket. Ia tergabung dalam tim bola basket kampus dan berhasil membawa perguruan tinggi ini menjuarai pertandingan antarkampus di Amerika sebanyak dua kali.

Selepas menamatkan pendidikan sekolah menengah atas (SMA), Olajuwon memutuskan hijrah ke Amerika Serikat (AS) guna melanjutkan pendidikan di Universitas Houston. Saat berkuliah di Universitas Houston, ia tergabung dalam tim bola basket kampus, dan berhasil membawa perguruan tinggi ini menjuarai pertandingan antarkampus di Amerika sebanyak dua kali.

Seperti halnya saat tinggal di Lagos, ketika tinggal di Houston pun Olajuwon selalu berdekatan dengan masjid. Bahkan, ketika datang pertama kali ke negeri Paman Sam ini, suara azan dari masjid pula yang membuatnya jatuh cinta. Sejak saat itu, ia pun selalu menyempatkan datang ke berbagai seminar dan pengajian di sela waktu sibuknya. Semua itu ia lakukan untuk mempelajari Islam secara lebih mendalam.

Bagi Olajuwon, berkarier dalam bidang apa pun, harus mendedikasikan hidupnya untuk agama yang diyakini kebenarannya. Boleh jadi, karena alasan itu pula yang mendorong Olajuwon terpaksa menceraikan sang istri, Lita Spencer, yang pernah menjadi teman sekampusnya dan yang telah dikaruniai seorang puteri bernama Abisola.

Pada tahun 1995, ia menikah lagi dengan Dalia Asafi. Dari pernikahan keduanya ini, ia memiliki tiga orang puteri: Asafi, Rahma, dan Aisha. Olajuwon selalu mendidik keempat puterinya untuk menjadi Muslimah yang taat.

Meski menyandang dua status minoritas di Amerika-sebagai warga berkulit hitam dan Muslim, namun Olajuwon mengaku hidup damai dalam Islam. “Allah berfirman dalam Alquran agar kita tak saling menghinakan sesama. Islam tidak memandang warna kulit dan status. Jika saya pergi ke masjid, meski seorang pebasket yang kaya dan terkenal, tetap saja saya merasa minder kalau bertemu imam. Ia lebih baik dariku. Ini soal pengetahuan,” paparnya.

Di era 1990 hingga awal 2000-an, nama Hakeem Olajuwon begitu memukau publik Amerika Serikat (AS), khususnya bagi penggemar basket NBA. Pasalnya, sosok dengan tinggi badan 213 sentimeter itu berhasil menampilkan permainan indah dan menawan. Tak heran, bila namanya selalu disejajarkan dengan pebasket andal NBA lainnya, seperti Abdul Kareem Jabbar dan Michael Jordan.

Bahkan, klub Houston Rockets yang dibelanya sejak tahun 1984, berhasil dibawanya untuk meraih gelar juara di tahun 1994 dan 1995. Dan, Olajuwon sendiri dinobatkan sebagai pemain terbaik NBA di tahun 1994. Pada musim kompetisi berikutnya, ia pun selalu menjadi langganan untuk masuk di tim NBA All Stars.

Karena kebolehannya dalam menunjukkan aksi yang memukau, Olajuwon termasuk salah satu dari lima pemain tengah legendaris NBA, bersama dengan Bill Russell, Wilt Chamberlain, Kareem Abdul-Jabbar, dan Shaquille O’Neal. Selama bermain di ajang NBA (1984-2002), ia tercatat pernah memperkuat dua klub berbeda, yaitu Houston Rockets dan Toronto Raptors. Pada tahun 2003, Olajuwon menyatakan pensiun dari dunia yang telah membesarkan namanya itu. []

loading...
loading...