Pemuda, Diaspora, dan Indonesia 2045

0

Oleh: Ahmad Zacky Makarim
Wakil Direktur Islamic Economic Forum for Indonesia’s Development, Kuala Lumpur, Malaysia

I believe, Be a Creator, Be an Innovator, Jayalah Indonesiaku, adalah sebagian harapan dan keyakinan yang diucapkan oleh para diaspora yang berada di luar negeri baik yang menempuh studi maupun yang berkarier di berbagai belahan dunia. Kalimat tersebut muncul dalam sebuah video singkat yang ditampilkan pada acara “Menuju Konferensi Visi Indonesia 2045” yang diselenggarakan oleh Indonesia Diaspora Network Global pada Sabtu, 14 Juli 2018 di Hotel Melia, Kuala Lumpur, Malaysia.

Acara yang dihadiri oleh mantan Dubes RI untuk AS, Dr. Dino Patti Djalal dan Prof. Dwia Aries Tina selaku Ketua Forum Rektor Indonesia banyak memberikan inspirasi untuk kita semua untuk menyiapkan generasi emas di tahun mendatang.

Mengapa Indonesia 2045?

Kalau kita tarik kembali sejarah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, maka tahun 2045 Indonesia akan genap berumur 100 tahun. Bukan tanpa alasan, ini adalah soal momentum, momentum dimana 1 abad Indonesia digadang-gadang menjadi negara yang berkembang pesat alias mengalami masa emasnya. Dan sekarang, di tahun 2018 maka tersisa 27 tahun lagi untuk sampai pada tahun 2045!

27 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk kita berleha-leha dan bersantai-santai menikmati kehidupan kita sekarang. Segala usaha dan kerja keras yang kita lakukan itulah yang akan menentukan masa depan kita. Maka visi Indonesia 2045 merupakan gagasan mulia lagi luhur yang lahir dari para orang tua yang ingin mengharapkan generasi anak-cucunya akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Di dalam Masterplan yang dirancang oleh Kementrian PPN/Bappenas tentang keadaan Indonesia di tahun 2045 digambarkan bahwa di tahun tersebut jumlah penduduk Indonesia sekitar 318,7 Juta penduduk dan diproyeksikan menempati urutan ke-lima dalam 10 negara penduduk terbesar tahun 2045. Dus, skenario tinggi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berada di level 6,4% pertumbuhan PDB dengan USD 28,934 PDB perkapita di 2045 dan Indonesia akan berada di nomor 4 peringkat PDB dunia setelah China, AS, dan India.

Juga, Potensi pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi juga akan meningkat, terlihat dari Gross Expenditure on R&D (GERD) menjadi 1,5-2,0% PDB tahun 2045 dari yang sebelumnya hanya 0,08% di tahun 2013. Kedepannya, Pemerintah juga mencanangkan Indonesia untuk menjadi salah satu pusat pengembangan IPTEK di kawasan Asia dan Dunia terutama dalam Ilmu kemaritiman, Biodiversitas, Teknologi Material, dan Pusat Studi Kebencanaan dan Mitigasi Bencana.

Tantangan Indonesia

Dengan melihat potensi yang dimiliki Indonesia baik saat ini maupun proyeksi kedepan, rasanya tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Nyatanya, sebagian diantara kita seolah-olah masih terbesit kerisauan dan menyangsikan bahwa bangsa ini akan menjadi bangsa yang maju baik secara materiil maupun moril. Sinyal elemen ini bukan tanpa alasan, berbagai rentetan peristiwa yang terjadi hingga hari ini menimbulkan kegalauan bagi para pemerhati bangsa ini khususnya generasi muda.

Masih segar dalam ingatan kita muncul sebuah istilah ‘generasi tik-tok’ yang disematkan kepada anak-anak belasan tahun ketika mereka membuat video dubbing yang disertai dengan efek emoji atau stiker lainnya. Sayangnya, penyalahgunaan aplikasi ini akhirnya menimbulkan efek yang eskalatif dan massif sampai-sampai Kemenkominfo harus turun tangan dalam menangani hal ini.

Belum lagi maraknya tontonan yang kontraproduktif dan kurang edukatif untuk para generasi muda zaman sekarang. Tayangan yang tidak sepatutnya dipertontokan untuk usia belasan tahun akhirnya menjadi bahan hiburan untuk mengisi waktu luang sehari-hari. Buntut lainnya adalah mereka akan mudah menirukan candaaan dan perilaku yang semestinya tidak dilakukan di usianya. Pengaruh ini akhirnya memberikan efek negatif bagi para orang tua untuk bisa ekstra dalam mengawasi anak-anaknya.

Bahkan dalam acara konferensi tersebut, masih banyak diantara para penanya yang mengeluhkan kasus korupsi di daerahnya yang berlarut-larut hingga tidak adanya niat untuk pulang ke kampung halaman lantaran merasa belum dihargai gagasannya.

Related Posts
1 of 4

Sangat disayangkan ihwal ini terjadi di negara yang menjunjung tinggi nilai dan norma dalam kehidupan sehari-hari. Padahal kita mengharapkan para generasi muda untuk bisa melanjutkan perjuangan para orang tua kita. Realita demikian bukan berarti membuat kita pesimis, bagi kami itu adalah sebuah tantangan yang perlu kita cari jalan keluarnya. Ingatlah bahwa masa depan masih cerah dan kita mempunyai kesempatan untuk menorehkan prestasi bagi bangsa ini.

90 tahun lalu

Pemuda sejatinya adalah penentu masa depan bangsa ini. Maju tidaknya bangsa ini tergantung dari generasi mudanya karena merekalah yang akan mewariskan dan melanjutkan perjuangan dari para founding fathers negeri ini. Presiden Soekarno pun pernah mengatakan “Beri aku sepuluh pemuda maka akan ku guncangkan dunia”. Maknanya, Pemuda adalah salah satu komponen penting untuk bisa menjadi agen perubahan.

Pemuda dalam hal ini jangan hanya dimaknai sebagai orang yang usianya muda saja. Karena sejatinya pemuda adalah orang yang jiwanya tidak pernah tua, pikirannya yang luas, dan mimpinya besar untuk bangsa ini. Dan ihwal ini terbukti dalam sejarah 90 tahun lalu, tepatnya pada 28 Oktober 1928 ketika para pemuda berkumpul di satu lapangan untuk bisa mengikrarkan persatuan dan kesatuan kolektif.

Dan jika kita menengok kembali peristiwa kebelakang, munculnya Sarekat Dagang Islam, Boemi Putra, Indische Partij, dan Boedi Oetomo adalah rentetan peristiwa sejarah dimana pemuda menjadi garda terdepan dalam melakukan kebangkitan bangsa meskipun dikala itu mereka semua belum mengenal kata ‘Indonesia’. Lalu apa yang membuat mereka bisa bersatu? Tidak lain ialah konsep, visi, dan pola pikir yang berada di satu rel yang sama yaitu membebaskan diri dari belenggu penjajahan.

Untuk Indonesia yang lebih baik

Berbagai kejadian dan peristiwa yang terjadi di masa lalu menyimpan banyak kenangan untuk kita bersama, Rasa suka dan duka, sedih maupun senang telah menjadi cerita yang tidak akan pernah kembali. Namun, hal ini bukan untuk kita ratapi berlarut-larut karena yang paling terpenting ialah hikmah dan pelajaran apa yang bisa diambil untuk kedepan.

Saat ini, separuh abad lebih Indonesia merdeka tetapi masih banyak anak-anak pelosok negeri yang belum mendapatkan pendidikan yang layak, kemiskinan masih merajalela, terkikisnya sopan santun dan tata krama hingga persoalan korupsi yang belum rampung. Artinya, kita semua perlu introspeksi, merefleksi dan mencarikan solusi.

Badai pastilah berlalu, segalanya akan berubah seiring dengan perubahan zaman. Lalu apa yang perlu kita lakukan untuk bisa merubah ini? yakni dengan mimpi dan semangat. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang diapit oleh 2 benua dan 2 samudera. Lebih dari 200 juta penduduk yang memiliki keberagaman dari sisi suku, ras, agama, budaya, dan bahasa. Belum lagi kekayaan alam yang melimpah dari Sabang sampai Merauke membuat Indonesia banyak dilirik oleh negara lain.

Indonesia di masa yang akan datang akan membutuhkan kontribusi dari kita para anak muda untuk bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Bagi kami para perantauan, mungkin diri kami belum bisa berkontribusi secara fisik tetapi gagasan demi gagasan, ide demi ide, inspirasi demi inspirasi selalu muncul dalam setiap diskusi di tempat kami merantau untuk menjadi bekal kami ketika pulang ke tanah air tercinta.

Terakhir, “Pesawat terbang memang sanggup menerbangkan badan kita ke negeri yang jauh, tapi ia takkan pernah berhasil membawa pergi hati dan pikiran dari Indonesia. Sejauh apapun badan pergi, hatinya, pikirannya selalu tertinggal di Indonesia.” (Anies Baswedan, 2013).

Salam pemuda! Salam diaspora! Untuk Indonesia yang lebih baik. []

IIUM, Kuala Lumpur, 18 Juli 2018.

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline