islampos
Media islam generasi baru

Pameran Replika Pedang Hingga Sandal Rasulullah digelar di NTB

Foto: Replika Sendal Rasulullah
0

MATARAM — Pameran replika benda-benda peninggalan Rasulullah dan para sahabatnya di Islamic Center NTB memacu pengunjung lebih mendalami kisah hidup Rasulullah. Pengunjung jadi bisa membayangkan bagaimana perjuangan Rasulullah menegakkan Islam.

Pameran replika benda-benda peninggalan Rasulullah dan para sahabat mulai dibuka sejak awal pekan ini hingga jelang akhir Ramadhan. Ruang pameran di Ballroom Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB dibuka sejak pagi hingga menjelang maghrib.

Replika benda peninggalan Rasul yang ditampilkan antara lain pedang tongkat, pedang Al-Matsur, pedang Al-Qadib, busur panah bambu Al-Safra, dan sandal. Ada juga replika pedang-pedang peninggalan para sahabat seperti pedang Dhu Al-Faqar milik Abu Bakar Siddik, pedang Al-Qal’i milik Umar bin Khattab, pedang Al-Hatf milik Utsman bin Affan, dan pedang Dzulfiqar milik Ali bin Abi Thalib.

Salah seorang pengunjung pameran, Putri Eriza mengaku info pameran replika benda peninggalan Rasulullah dan para sahabat dari temannya dan poster-poster yang bertebaran. Apalagi, Gubernur NTB juga sudah mengatakan Islamic Center akan dihidupkan dengan berbagai kegiatan terlebih dengan adanya Pesona Khazanah Ramadhan.

Putri mengaku, sebelum melihat replika di pameran ini, ia hanya membayangkan benda-benda yang Rasulullah gunakan. ”Setelah lihat ini, masya Allah, ternyata Rasulullah kuat dan luar biasa karena pedangnya saja besar,” kata Erisa.

Dengan suara bergetar dan mata mulai berkaca-kaca, Putri mengatakan replika ini makin menujukkan bagaimana perjuangan Rasulullah menegakkan Islam. Buatnya, jadi terbayang pula seperti apa kehidupan Rasulullah.

Ia berharap masyarakat yang melihat pameran replika ini makin bisa melihat kembali perjuangan Rasulullah yang luar biasa sehingga makin tahu sejarah Rasulullah dan para sahabat. Dengan itu, mereka jadi terus mau belajar dan mengenal Rasulullah.

Kepada penyelenggaran, Putri menyarankan agar pameran dibuat ramah perempuan dan bila memungkinkan perempuan dan lelaki dipisah, misalnya pisah pintu masuk atau alurnya. ”Karena kalau buat beberapa perempuan agak canggung masuk ke ruangan yang ramai laki-laki,” kata Putri.

Di pedang juga baiknya selain diberi keterangan pedang milik siapa, bisa ditambahkan informasi pedang digunakan pada perang apa. Sehingga lebih informatif bagi pengunjung. Selain itu, bau lembab ruangan juga semoga bisa diatasi agar pengunjung lebih nyaman.

Ia mengaku tahu pameran ini dari tantenya. Karena baru pertama kali di NTB, ia merasa pameran ini bermanfaat.[]

 

Sumber: Republika

loading...
loading...