ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Palestina, Sejarah Panjang Negeri Anbiya (1)

Foto: Ashraf Ezzat
0

Palestina dan Para Nabi

TIDAK banyak peninggalan arkeologis yang dapat ditelusuri sebelum zaman batu dan perunggu wilayah ini kecuali satu kota tertua di dunia yaitu Jericho (8.000 tahun SM) yang menyaksikan kehidupan tranformatif dari beternak kepada kehidupan tani. Pada tahun 2500 SM orang-orang Amorite dan Kan’an (dari jazirah Arab) mulai berimigrasi ke sini. Nomenklatur Palestina awalnya disebut sebagai Ardh Kan’an (Bumi Kan’an) berubah menjadi P.L.S.T yang berasal dari sebutan untuk beberapa orang pelaut Arab yang kemudian menjadi Philistines (Palestine).

Panji tauhid pertama kali turun di bumi Kan’an ini oleh nabi Ibrahim A.S pada tahun 1900 SM. Dakwah nabi yang dijuluki ‘bapaknya para nabi’ disambut secara antusias. Ia terus berdakwah tanpa banyak rintangan hingga wafat menjemputnya di kota yang disebut dengan namanya “Al-Khalil”. Dakwah tawhid ini dilanjutkan oleh anak-anak nabi Ibrahim yang juga menjadi nabi yaitu Ismail di Mekkah, Ishaq (Isaac) dan anaknya Ya’qub (Jacob) yang dijuluki dengan sebutan ‘Israel’ di Palestina.

Nabi Ya’qub punya dua belas anak yang secara populer disebut dengan Banu Israel. Mereka lalu berimigrasi ke Mesir. Namun kekejaman Raja Fir’aun membuat mereka banyak terzalimi hingga Allah SWT mengutus nabi Musa A.S. untuk menyelamatkan mereka ke negeri suci Palestina. Namun setelah itu mereka menolak masuk ke Palestina karena terdapat bangsa Arab yang perkasa dengan firman Allah SWT di surat al-Maidah ayat 22 : “Mereka berkata : Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekai-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”

Nabi Musa tidak dapat mewujudkan impiannya memasuki Palestina hingga meninggal dunia. Setelah diazab atas ketidak-taatan kepada nabi mereka, Yahudi tersesat selama 40 tahun tersesat di gurun Sinai. Dan akhirnya mereka diselamatkan oleh nabi Usha’ bin Noon di tahun 1190 SM memasuki Palestina. Namun sayang, kerusakan dan dekadensi di tengah generasi Israel moral merebak selama 150 tahun hingga datang raja Talut (Saul) yang dapat mengalahkan banyak musuh.

Kerajaan Israel

Di tengah kepemimpinan raja ini tidak banyak perubahan dalam aspek tauhid sampai datang Nabi Daud (David) yang dianugerahi kerajaan tahun 1004 SM. Ia menguasai wilayah ini kecuali daerah pesisir dan berhasil memindahkan ibukota ke Jerusalem (995 SM). Anak nabi Daud dan penerusnya adalah nabi Sulaiman (Solomon) dianugerahi kerajaan kuat dan prestisius. Kekuasaannya antara tahun 963-923 SM menyaksikan kemajuan dan kemakmuran spektakuler di Palestina. Dan sebelum datangnya Islam, masa 80 tahun kekuasaan Daud dan Sulaiman menandakan zaman keemasan tauhid.

Namun setelah itu kerajaan terpecah dua menjadi Kingdom of Israel di wilayah Utara Palestina selama 202 tahun (923-721 SM) dan Kingdom of Judea di Jerusalem selama 337 tahun (923-586 SM). Kerajaan pertama ini jatuh dan dihancurkan oleh bangsa Assyrian, dan bangsa Israel terusir ke Utara Suriah, Irak dan Persia. Sementara kerajaan kedua ditaklukkan oleh pimpinan Babilonia Nebukadnezar yang menghancurkan Jerusalem, sinagog Sulaiman dan memperbudak 40 ribu Yahudi (lihat Dr.Mohsen M.Saleh, the Palestinian Issue, its background and development up to 2000, Dar al-Fajr, KL).

Nasrani vs Yahudi

Ketika Nabi Isa A.S datang, nabi ini pun mendakwahi orang Yahudi. Tidak banyak yang taat kecuali sedikit sekali. Sampai akhirnya Yahudi berkonspirasi membunuh nabi Isa A.S. Para pengikut nabi Isa terus berdakwah, namun siksaan dan aniaya terus mereka alami. Ketika agama ini terus berkembang, Yahudi khawatir akan potensi ini hingga terjadi penangkapan besar-besaran. Namun ketika dimahkamahkan di Sadrin majelis hanya memutus cambuk mereka dan kaum Hawariyyun (penolong nabi Isa) pun kabur ke Samara, Qisariyah dan Antakiya (Suriah). Pimpinan penganut agama Nasrani ini Boutros dan Paul lari masuk ke Roma dengan mendirikan kelompok Nasrani di sana. Dua pimpinan Nasrani tersebut mengakhiri hidupnya dengan hukuman mati di bawah pimpinan Neuro tahun 64 M.

Setelah itu agama ini mulai diselewengkan, dipalsukan dan bercampuraduk dengan tradisi-tradisi local. Agama ini akhirnya dapat dengan mudah diterima oleh penduduk local sampai akhirnya Raja Romawi Constantine memeluk Nasrani tahun 320 M dan Kristen menjadi agama resmi Romawi.

BERSAMBUNG

loading...
loading...