islampos
Media islam generasi baru

Nurani yang Habis Terbakar di Bekasi

Foto: Liputan6
0

Oleh: Oktavia Nurul Hikmah

Pengajar, Alumni Fak. Ekonomi dan Bisnis Unair, hikmah2020@gmail.com

 

SELASA, (1/Agustus/2017), ibunda Muhammad Alzahra tak memiliki firasat apapun saat tangannya dicium sang anak yang hendak pamit bekerja. Tak lupa, doa dimintakan kepada sang ibu agar dimudahkan serta dibarakahkan rizkinya. Maka serasa tersambar petir ketika mendapati anaknya pulang tak bernyawa dalam kondisi yang memilukan.

Muhammad Alzahra alias Zoya (30) adalah korban pembakaran oleh massa yang menuduhnya sebagai pencuri amplifier. Kejadian bermula saat sore itu Zoya yang bekerja sebagai tukang servis amplifier, mampir di Musala Al-Hidayah di Kecamatan Babelan, Bekasi, Jawa Barat, untuk melaksanakan sholat Ashar.

Amplifier yang ada di motor diturunkan dan dibawanya masuk ke dalam mushola agar tidak hilang. Seusai shalat, diikatkannya kembali amplifier yang dibawanya tadi ke atas motor. Naas, pada saat yang sama marbot musala mendapati amplifier musala hilang. Demi melihat Zoya yang sedang mengikatkan amplifier di atas motor, tak ayal lantanglah tuduhan maling tertuju padanya. Zoya kaget, dan secara otomatis berlari karena teriakan itu mengundang orang-orang mengejarnya.

Zoya sempat tercebur ke sungai dalam pengejaran itu. Namun, massa kian beringas. Zoya mendapat amuk massa yang berujung pada penyiraman bensin yang kemudian disulut api. Zoya meninggal di tempat dengan luka bakar 80%.

Hingga kini, penyelidikan masih terus dilakukan oleh polisi untuk mendalami fakta sesungguhnya. Benarkah telah terjadi tindak pencurian atau hanya amuk massa yang salah sasaran? Terlepas dari tindak pencurian itu sendiri, tindakan main hakim sendiri tak bisa dibiarkan begitu saja. Islam pun telah menetapkan asas praduga tak bersalah dalam perkara hukum.

Andai manusia diberi sesuai tuntutan mereka, niscaya orang menuntut harta dan darah suatu kaum. Akan tetapi, menghadirkan bukti itu menjadi kewajiban penuntut, sementara sumpah bagi yang mengingkari (HR al-Baihaqi).

Hadits di atas merupakan ketentuan syariat yang jelas, bahwa seseorang tidak boleh mendapat tuntutan, terkecuali ada bukti kuat dari pihak penuntut atau pengakuan dari tertuntut. Maka, memberikan hukuman sebelum ada pembuktian atau pengakuan dari si tertuduh tidak dibenarkan dalam hukum Islam. Terlebih lagi hukuman yang diberikan sangat tidak manusiawi. Padahal hadits Rasulullah telah menjelaskan hal ini.

“Rasulullah SAW pernah mengutus kami dalam suatu pasukan. Beliau berkata, ‘Jika kalian menemukan Fulan dan Fulan—beliau menyebutkan dua nama orang Quraisy—maka bakarlah keduanya dengan api.’ Kemudian Rasulullah SAW meralat hal itu ketika kami hendak berangkat, ‘Sesungguhnya aku telah memerintahkan kalian agar membakar Fulan dan Fulan. Sungguh tidak ada yang boleh mengazab dengan api kecuali Allah.'” (HR Bukhari)

Penghukuman tanpa bukti yang kuat dengan hukum bakar sesungguhnya telah menyalahi dua ketentuan syariat sebagaimana yang dijelaskan di atas. Selain itu, fenomena ini juga menyingkap kondisi mental masyarakat yang sakit.

Saat ini, begitu mudah ditemukan tindakan tak berperikemanusiaan yang dipicu oleh perkara yang remeh. Beban kehidupan yang kian berat melahirkan kondisi masyarakat yang emosional, mudah terprovokasi serta hilang nurani.

Ketidakpercayaan terhadap aparat hukum pun memicu masyarakat main hakim sendiri. Gagalnya negara memberikan rasa aman serta jaminan keadilan hukum yang tidak terbukti menjadikan masyarakat beringas, merasa berhak untuk melakukan tindak hukum tanpa melalui prosedural hukum yang benar.

Tragedi  Zoya harus menjadi momen muhasabah bagi semua pihak. Negara harus menyadari kewajibannya sebagai pengurus urusan umat. Pendidikan berbasih aqidah, kesehatan dan jaminan keamanan merupakan hak umat yang harus dipenuhi penguasa. Niscaya akan terwujud masyarakat yang sehat fisik maupun psikis.

Aparat hukum pun harus mampu membuktikan bahwa hukum masih memiliki kekuatan di negara ini, tidak tajam ke bawah tumpul ke atas sebagaimana yang diyakini masyarakat saat ini.

Berikutnya juga harus menjadi momen muhasabah bagi setiap yang beriman, bahwa kesemrawutan hukum di negara ini sesungguhnya merupakan konsekuensi dari dicampakkannya hukum Allah. Ketika suatu negeri telah terus terang mengabaikan hukum Allah dan menjadikan akal manusia sebagai sumber hukum, maka Allah akan mencabut keberkahan dan menurunkan siksa.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96). []

loading...
loading...