islampos
Media islam generasi baru

Nikah Itu Indahnya 10 Persen, Sisanya Perjuangan

Foto: Google
0

JIKA kamu adalah seorang pejuang, berani berkomitmen, bersedia mengalahkan ego pribadi, terbiasa menghadapi kesulitan, insyallah pernikahan adalah hal yang biasa-biasa saja untukmu. Biasa-biasa dalam artian tidak akan terlalu mengejutkan.

Akan tetapi kalau kamu tipe yang manja, selalu ‘disuapin’, nggak pernah merasa apa yang namanya susah, tidak pernah bisa mengalah, sifat keras, mungkin akan kecewa sama yang namanya pernikahan.

Kenapa? Karena hakikatnya pernikahan itu adalah perjuangan, mungkin indahnya cuma 10% saja, itu pun di bulan-bulan pertama.

Tapi bagi para pejuang, menikah itu bisa 100% indah loh. Apa saja yang bakalan diperjuangkan dalam pernikahan?

1.Perjuangan untuk menundukkan pandangan

Di antara milyaran laki-laki tampan dan perempuan cantik, kamu sudah harus puas dengan satu yang telah menjadi pilihanmu.

Tutup mata, alias tundukan pandangan setelah menikah dari makhluk rupawan yang lain, itu salah satu perjuangan yang rasanya hanya bisa dilakukan oleh orang yang berani komitmen dan tentunya punya iman.

Apalagi dalam Islam, tidak dikenal tuh perselingkuhan. Ketahuan berzina setelah menikah, hukumannya rajam sampai mati.

2. Perjuangan untuk mengalah demi menang

Dalam sebuah pernikahan, kemenangan baru tercapai kalau ada salah satu pihak yang bersedia mengalah. Bisakah kamu dan pasangan bergantian merendahkan ego sendiri agar tercapai kelanggengan dalam pernikahan?

Atau, yang harus mengalah selalu pasanganmu? Kamu takkan pernah mau mengalahkan ego pribadi? Kalau begitu, cepat atau lambat pernikahanmu bisa runtuh.

Dengan siapa pun kamu menikah, sesayang apapun pasangan terhadapmu, perjuangan perlu dilakukan bersama-sama, bukan hanya sebelah pihak terus-menerus.

3. Perjuangan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga

Setelah menikah, maukah berbagi kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga? Atau, kamu tidak mau tahu? Pokoknya tugas suami memenuhi apapun yang kamu butuhkan.

Bagaimana kalau suatu waktu suami mengalami hal yang tak diharapkan? Bangkrut, sakit parah, atau di-PHK? Kamu langsung mengundurkan diri sebagai istri dan mencari suami baru?

Teruslah begitu sampai kondisi terbalik, kamu lah yang mengalami sakit parah atau kebangkrutan ekonomi, siapa yang mau berjuang untukmu?

5. Perjuangan mengasuh anak

Kalau melihat anak lucu-lucu dan ngegemesin. Bagaimana kalau mengurus anakmu sendiri? Siapkah kurang tidur? Kurang waktu istirahat?

Nyatanya, memiliki anak di tahun-tahun awalnya adalah perjuangan. Indah bagi yang pandai bersyukur, namun berat bagi yang pandai mengeluh.

6. Perjuangan menghadapi masalah keluarga besar

Menikah berarti mempersatukan dua keluarga, semakin beragam orang. Semakin aneh-aneh karakternya. Tentu diperlukan perjuangan untuk menghadapinya.

Memangnya mudah bersabar mendengarkan komentar pedas mertua dan ipar tentang diri kita? Semuanya tergantung sikap dan mental kita sendiri. Sekali lagi, seorang bermental pejuang akan bisa menikmati segala persoalan ini dan menganggap biasa saja. Masalahnya bagi yang menganggap menikah hanya soal yang manis-manis saja, kira-kira siapkah dengan kenyataan yang akan dihadapi?

Karena menikah itu sama seperti kuliah, kerja, dan kehidupan kita lainnya, penuh dengan ujian dan perjuangan. Maka tidak perlu takut menikah, persiapkan diri dan mental untuk menghadapinya, maka insyallah kamu akan bisa merasakan kelezatan pernikahan dari segala kesulitan yang menerpa. []

 

Sumber: Annida

 

loading...
loading...