ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Ngapain Ibu Bawa Begituan ke Masjid?

Foto: Alsati About
0

Oleh: Ernydar Irfan

MALAM menunjukan jam 3 ketika kami beserta rombongan tiba di kota madinah. Rindu bertahajud di masjid Nabawi tak tertahan lagi. Setelah koper masuk ke kamar, bersegera membersihkan diri dan bersiap berangkat ke masjid yang hanya beberapa langkah dari hotel. Setelah berwudhu, memakai mukena, memasukan alquran dan ID travel ke dalam tas kecil.

Aku bergegas keluar kamar, tapi rasanya ada yang tertinggal. Lalu aku kembali ke kamar. Ah gak ada, mau bawa apa ya? Karena bingung tangan menyambar minyak angin.

“Bawa ah, biar seger.” Keluar pintu, balik lagi. Kayak ada yang ketinggalan. Apa yaa? Ah, gak ada kok rasanya. Bawa obat anti masuk angin saset aja ah. Lalu keluar pintu lagi. Lagi-lagi merasa ada yang kurang. Altaf mulai protes.

“Mbu cepetan… ngapain bulak-balik melulu,” katanya kebingungan.

“Ntar dek, sekali lagi mbu kayak ada yang belum lengkap. Apa ya?” kataku masih bingung, sambil melangkah lagi ke dalam, lalu mengambil Magnesium oil.

“Udah ah, bismillah. Berangkat aja deh,” kataku.

Kami ber-empat dengan suami dan dua anak laki-lakiku bergegas keluar. Mulai banyak orang berjalan ke masjid. Aku jumpa mba winda petugas trevel dan akhirnya kami berdua memisahkan diri sambil berlari kecil dengan penuh semangat berharap dapat tempat yang nyaman untuk beribadah. Di depan pintu, kami ditolak askar masuk.

“La…la… pintu lain…ibu, full…” demikian ujarnya.

Kami pun lari ke pintu berikutnya. Disana kami ditolak dengan jawaban yang sama.

“Ah, mba Win kita kalah cepat ya sampai pada penuh,” kataku.

“Ayo kita ke pintu berikutnya…” ajakku.

Dan, kami ditolak dengan cara yang sama. Sedih rasanya. Adzan pertama berkumandang. Air mata hampir jatuh.

“Ya Allah… ampuni dosaku jangan persulit aku ya Allah. Aku begitu merindu,” kataku dalam hati.

Mbaaa Win, kita coba satu pintu ujung terakhir mba. Mudah-mudahan masih bisa. Kami setengah berlari. Dan alhamdulillah dipintu itu orang sedang antri masuk. spontan kami berucap alhamdulillah dengan riang. Ayo mba cepetan biar kebagian kataku.

Baru saja beberapa langkah berjalan, tiba-tiba, “Bruuuuuuuukkkk…” sesosok tubuh roboh tak sadarkan diri tepat menimpa ujung kakiku. Suasana mendadak panik, kami berusaha mengangkat memindahkannya ketempat yang nyaman.

Wanita usia senja, kaku dengan tubuh dingin dan mulut mengeluarkan busa. Setelah di posisi cukup nyaman, kami berusaha menyadarkannya, seluruh tubuhnya dingin bagai es. Bibirnya memutih. Bergegas kubuka tasku. Kami tempelkan minyak wangi ke hidungnya. Tetap tidak ada respon. Kugosokan sekujur tubuhnya dengan minyak angin hingga telapak kaki untuk menghangatkan tubuhnya. Sejadahku kujadikan selimut agar dinginnya berkurang.

Somebody please bring me some zamzam water please,” kugunakan bahasa inggris karena semua yang mengerumuni bukanlah orang indonesia, sedang ibu yang tidak sadarkan diri ini jemaah Indonesia dari Kalimantan dan seorang diri.

Tak berapa lama air zam-zam datang, lalu kubersihkan busa di mulutnya dengan tissu, lalu membasahi sapu tangan dengan air zamzam mengusap wajahnya. Masih tak kunjung ada respon. Mulai makin berdatangan orang indonesia, aku minta mereka hubungi no travel yang tercantum di kartu identitas sambil terus berusaha menyadarkan beliau. Akhirnya aku keluarkan magnesium oil. Bismillah. kusemprotkan di ubun-ubun, leher belakang sampai punggung, leher depan sampai dada. Wajahnya sedikit meringis dan matanya jatuh di tepi kiri kanannya sedang orang di sekeliling terus beristighfar dan membacakan ayat-ayat Al Quran.

“Ada respon,” kataku.

“Tolong bantu hangatkan tubuhnya,” kataku pada orang indonesia yang lain, sedang aku meratakan Magnesium oil yang aku semprotkan.

Dan akhirnya matanya perlahan membuka walau tatapannya kosong. Kubasahi bibirnya dengan air zamzam.

“Bisa telan bu? saya masukin air zamzam sedikit-sedikit biar seger yaa bu,” kataku.

Tatapannya masih kosong, tapi dia mengikuti perintahku. Teringat ada obat anti masuk angin dalam tas, kubuka tas lalu ku masukan sedikit demisedikit ke mulutnya. Tidak berapa lama, tubuhnya perlahan menghangat, pipinya tidak sekuning tadi dan tatapan matanya pun mulai memberikan reaksi. Alhamdulillah, kami begitu senang.

Akhirnya jamaah yang menelepon travelnya berhasil dihubungi, dan askar datang membantu tepat ketika adzan subuh berkumandang. Akhirnya akupun tetap Allah belum izinkan bertahajud di dalam masjid nabawi, kami shalat di pelataran karena kondisi tidak lagi memungkinkan untuk pindah. Selesai shalat, ibu itu sudah dibawa ke RS. Kubereskan barang-barangku yang berserak.

“Mba win, lihat deh. Ngapain coba aku ke masjid bawa-bawa ini?” kataku sambil memasukan minyak angin, obat anti masuk angin yang berserak, magnesium oil dan sajadah.

“Iya ya bu, ngapain ya ibu bawa-bawa begituan ke masjid,” katanya sambil tersenyum, “Ternyata malah berguna ya bu.”

Setelah shalat kami masuk ke masjid sekadar mengaji hingga waktu dhuha, dan kembali ke hotel setelah shalat. Di hotel, berbincang dengan teman-teman yang berangkatnya mepet adzan subuh, dan mereka bisa masuk ke dalam masjid tanpa penolakan seperti apa yang kami alami. Tapi sebuah pelajaran besar yang kuambil, begitulah cara Allah bekerja menggerakan skenario kehidupan, tidak semua yang terjadi memerlukan alasan penuh logika, apalagi berdasarkan prasangka, karena sesungguhnya ada rencana besar Allah dibalik semua.

Apakah ibu tadi tertolong karena apa yang kubawa dan ku lakukan? Tidak sama sekali. Ibu itu tertolong dengan skenario Allah memakai tangan yang diamanahkan kepadaku. Tidak terbersit apapun ketika merasa ada yang tertinggal hingga bulak balik keluar masuk kamar hotel tanpa tujuan jelas. Yang terbersit adalah hati mulai berprasangka, kenapa Allah sulitkan aku masuk ke masjid nabawi. Dan Allah menyentilku dan mengingatkan… berhentilah berprasangka… tugasmu di dunia menjalankan skenarioKU… bersyukur, berdoa, berbaik sangka dan berjalan di jalanKU.

Sebuah pelajaran bahwa gak ada pantas-pantasnya kita ngerasa sombong karena ngerasa sudah melakukan kebaikan, karena sejatinya sebuah kebaikan bukan semata-mata karena kita, melainkan karena Allah memakai tangan yang Allah titipkan pada kita, untuk meneruskan kebaikan. Merasa bangga karena bisa memberi, bisa menolong, bisa membuat kebaikan di mata manusia? Hati-hati dengan hati.

Sedang keburukan adalah murni karena kekotoran hati dan pikiran kita karena Allah mengamanahkan segala apa yang ada di tubuh kita untuk melakukan kebaikan. Gak percaya? Buktinya gak ada satupun perintah Allah baik di Alquran maupun di hadits yang memerintahkan kebathilan. Maka seharusnya kita malu ketika menggunakan titipan dariNya untuk perkara yang buruk. []

 

loading...
loading...