SHALAT adalah tiang agama yang akan pertama kali dihisab di akhirat kelak. Namun, realita hari ini menunjukkan banyak Muslim melaksanakan shalat dengan tergesa-gesa. Seolah-olah shalat hanyalah kewajiban yang perlu diselesaikan secepat mungkin tanpa rasa khusyuk dan penghormatan kepada Allah ﷻ.
1. Rasulullah Melarang Shalat Seperti Burung Mematuk
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana mencuri dalam shalat, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.”
(HR. Ahmad dan Thabrani)
Beliau juga mengibaratkan shalat yang cepat seperti burung yang mematuk tanah, hanya menempel sebentar lalu bangkit kembali tanpa ketenangan. Tindakan ini membuat shalat menjadi sia-sia dan tidak diterima oleh Allah karena meninggalkan rukun penting, yaitu tuma’ninah (tenang dan berhenti sejenak pada setiap gerakan).
BACA JUGA: Apa Hukum Shalat tapi Tidak Paham Arti Bacaannya?
2. Shalat adalah Komunikasi dengan Allah
Jika kita berbicara dengan orang tua atau atasan saja harus penuh hormat, apalagi ketika menghadap Allah ﷻ. Shalat adalah waktu kita mengadu, memohon ampun, dan meminta pertolongan. Jika dilakukan dengan tergesa-gesa, bagaimana hati akan hadir? Bagaimana makna ayat-ayat Al-Qur’an dalam shalat akan terasa menyejukkan jiwa?
3. Cepat dalam Shalat adalah Tanda Kurang Khusyuk
Shalat yang cepat biasanya menunjukkan hati sedang lalai atau terburu-buru oleh urusan dunia. Padahal, dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14)
Jika shalat tidak menghadirkan ingatan kepada Allah, maka tujuan shalat tidak tercapai. Oleh karena itu, biasakan menenangkan hati dan pikiran sebelum takbiratul ihram, agar shalat dilakukan dengan perlahan dan penuh penghayatan.
4. Nikmatilah Setiap Bacaan dan Gerakan
Setiap bacaan dalam shalat memiliki makna mendalam. Al-Fatihah adalah doa agung yang memuji Allah dan meminta petunjuk-Nya. Ketika ruku’, kita merendahkan diri dengan membaca:
“Subhana Rabbiyal ‘Azim.”
(Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung)
Saat sujud, kita berada pada posisi paling rendah untuk menunjukkan penghambaan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud, maka perbanyaklah doa.”
(HR. Muslim)
Jika dilakukan terlalu cepat, kita kehilangan momen terindah dalam ibadah.
5. Shalat yang Benar Mencegah Maksiat
Allah berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”
(QS. Al-Ankabut: 45)
Namun, jika shalat dilakukan tanpa tuma’ninah, bagaimana bisa menjadi benteng dari kemaksiatan? Shalat yang sah dan khusyuk akan menumbuhkan rasa malu berbuat dosa karena kita merasa diawasi Allah setiap waktu.
BACA JUGA: Mengapa Kita Harus Shalat Hajat Minimal Sekali Seumur Hidup?
Penutup: Jadikan Shalat sebagai Waktu Tersibuk dengan Allah
Banyak ulama berkata, “Jika ingin tahu bagaimana kedudukanmu di sisi Allah, lihatlah bagaimana kedudukan Allah dalam shalatmu.” Apabila kita melaksanakan shalat dengan cepat, berarti kita sedang meremehkan pertemuan dengan-Nya. Mulailah memperbaiki shalat dengan menghadirkan hati, membaca dengan perlahan, dan menenangkan diri pada setiap gerakan. Itulah tanda kecintaan kita kepada Allah ﷻ.
“Berbahagialah orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.”
(QS. Al-Mu’minun: 1-2) []






