ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Nasib Lansia Zaman Now

Foto: Google Image
0

Melyza Fitri PS, M.Si
(Alumni Program Pascasarjana UNSRI)

 

AHAD (03/12) ada yang tak biasa di jalan yang saya tempuh ketika hendak ke acara tadarusan, meski “si merah” dipacu dengan kecepatan yang tak biasa bagi hijaber. Pandangan saya teralihkan oleh papan ucapan yang besar nan berwarna-warni, ucapan selamat atas peresmian panti penitipan lansia. Sontak perasaan mengganjal dan sedih menyelimuti sepanjang perjalanan. Terlintas senyuman dan kesedihan yang terkadang tergurat diwajah ke dua orangtua saya. Suasana baper (istilah anak zaman now) semakin menjadi ketika teringat postingan salah teman di sosmed mengenai nasib lansia zaman now.

Idealnya seorang yang telah memasuki masa lanjut usia (lansia) tidak lagi disibukkan dengan hal yang memberatkan baik secara pikiran maupun tenaga. Tidak sedikit dari mereka yang dimasa tua masih melakukan pekerjaan berat demi sesuap nasi. Tak hanya itu, faktor ekonomi dan eksistensi telah menimbulkan fenomena “anak nenek” di zaman now. Suatu keadaan dimana orang tua zaman now menitipkan anaknya untuk diasuh oleh nenek dan kakeknya ketika mereka bekerja. Meski sang nenek menikmati kebersamaan dengan cucunya, namun secara emosional menjauhkan anak dari kehangatan ibunya.

Penerapan sistem ekonomi liberal menjadi biang keladi atas hadirnya fenomena ini, sistem dimana harta segelintir orang (kapital, red) setara dengan harta seluruh rakyat Indonesia. Sistem ekonomi liberal yang dipayungi oleh Kapitalisme telah menarik perempuan untuk ikut berpartisipasi keluar rumah (bekerja, red) demi mencukupi kebutuhan keluarga. Menitipkan anak kepada sang nenek, merupakan keputusan terberat bagi para ibu pekerja. Ini mereka lakukan demi keamanan sang anak ditengah maraknya penganiyaan anak oleh baby sitter.

Para lansia yang hidup berkecukupan juga tak lepas dari masalah. Kehangatan dari sang anak terasa kian memudar akibat kesibukan yang dijalaninya. Tak sedikit yang akhirnya memilih menitipkan para lansia ini ke panti, agar mereka diperhatikan dan dapat berinteraksi dengan sesamanya merupaan alasan utama para orang tua zaman now menitipkan para lansia.

Para orang tua yang lanjut usia ini seharusnya menjadi sarana orang tua zaman now meraih pahala yang berlipat ganda. Terus berbakti di usia senja mereka, memberikan pelajaran akan luasnya kesabaran ketika mereka merawat kita hingga dewasa.

Tidak ada salahnya, kita kembali membuka pedoman hidup (Al-Qur’an, red) mengenai apa yang telah Allah perintahkan kepada kita terhadap orang tua diusia lanjut. Allah SWT telah berfirman:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”
(TQS. Al-Isra’ 17: Ayat 23-24).

Ada baiknya kita juga memetik pelajaran dari Uwais Al-Qarni. Seorang pemuda yang namanya terkenal dilangit tetapi tidak dibumi, pasalnya ditengah keterbatasan fisik karena penyakit yang dialaminya, tak menyurutkan langkahnya untuk berbakti kepada ibunya agar mendapat ridhonya. Bahkan Rasulullah bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu dia memandang kepada Imam Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab dan bersabda, “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Sungguh kesempatan yang harusnya tak diabaikan dan terlewatkan untuk merawat orang tua yang telah lansia, terlebih lagi telah ada motivasi ruhiyyah. Semoga kita dapat menjadi Uwais Al-Qarni zaman now. []

 

OPINI ini adalah kiriman pembaca Islampos. Isi dari OPINI di luar tanggung jawab redaksi Islampos. Kirim OPINI Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri.

 

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun
loading...
loading...