Nak, Inilah Makna Idul Fitri yang Sesungguhnya

0

 

Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman, ahmad.yusuf.abdurrohman@gmail.com

SEORANG anak, sedang mengobrol dengan ayahnya ketika hari Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi.

“Ayah, apakah hari raya Idul Fitri itu?” tanyanya dengan wajah polos dan lugunya.

“Apakah Idul Fitri itu, setiap orang harus punya pakaian baru, sendal baru, dan segala sesuatu yang baru?” lanjutnya dengan masih menampakkan wajah polosnya khas anak-anak.

BACA JUGA: Mengapa Harus Ada Takbir di Penghujung Ramadhan?

Menghadapi pertanyaan yang menyerbu dirinya, sang Ayah hanya menghela napas panjang. Seraya menyunggingkan senyuman manis di wajahnya. Ditatapnya dengan lekat, wajah anak lelaki semata wayangnya itu.

“Ketahuilah, Anakku. Banyak orang yang salah dalam mengartikan hari raya yang sesungguhnya,” jawab sang ayah dengan masih tetap tersenyum.

“Mengapa bisa begitu, Ayah?” Kini, anaknya semakin bingung.

“Begini, Nak. Kebanyakan orang menganggap Ied itu berdasarkan penampilan saja. Padahal, makna ied yang sesungguhnya lebih dari itu, Anakku” jelas sang Ayah.

“Ketahuilah, Anakku. Ibnu Rajab pernah berkata, ‘(Kebahagiaan) Ied, bukanlah untuk siapa saja yang memakai baju baru. Tapi (kebahagiaan) ied itu diperuntukkan bagi siapa saja yang bertambah ketaatannya.

(Kebahagiaan) Ied, bukanlah untuk siapa saja yang memperindah pakaian dan kendaraan nya, akan tetapi (kebahagiaan) ied itu bagi siapa saja yang diampuni dosa-dosanya.

Pada malam ied terpisahkanlah hamba-hamba yang terbebas (dari neraka) dan mendapatkan ampunan (dari hamba-hamba yang tidak mendapatkan keutamaan ini).

Maka, siapa saja yang mendapatkan keutamaan ini maka baginya (kebahagiaan) pada hari ied, dan siapa saja yang tidak mendapatkannya maka dia tertolak dengan jauh (dari kebahagiaan pada hari ied).’ [1]

Anakku, Itulah makna Ied yang sesungguhnya,” ucap sang Ayah mengakhiri penjelasannya.

BACA JUGA: Ini Hukum-hukum Seputar Idul Fitri yang Wajib Anda Ketahui

Anak kecil itu pun mengangguk menghayati penjelasan dari ayahnya. []

***
Referensi:

[1] Dikutip dari kitab Latho’iful Ma’arif halaman 227.

***

Salatiga, 3 Syawal 1436 H

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline