Muslimah SosMed Baperan?

Foto: Pixabay
0 58

Oleh: Ramadani Ann Al-Qohirohiyyah
[email protected]

ADA yang tanya, “Kapan nikah?”

Baper sampe meleleh saya, Bang!

Lantas direkomendasikan, “Eh, teman abang single loh, mau?”

Baper lanjutan, siapa dia siapa saya; merasa belum kenal.

“Daripada nyuruh-nyuruh orang, gimana kalau nikah sama kau aja bang?”

Membatin sendiri, antara kesal dan bete, meskipun kalimatnya hanya asal bicara; tidak ada keseriusan sedikit pun. Beberapa saat kemudian, si abang mak comblang penebar angin baper tadi mengirim pesan, “Oke, abang yang akan datang menemui walimu di rumah ya! Minta alamatnya, plisss?”

Deg!

Mendadak serangan jantung, kayak ada petir di siang bolong.

Masih shock; tensi rendah, dan lebay arrrrrgh lebay. Hehe. Mana mungkin baru patah hati langsung nerima cinta baru? Ngedumel sendiri di pojokan sambil ngupil. Keesokan hari yang sungguh tak terduga, Messenger si Abang masuk, nah loh kok hati ini mulai dag-dig-dug ya?

“Jadi, mana alamatmu, Dek?”

“Emmm, gak punya alamat, Bang!”

Pakai jurus kebalikan ala wanita sejak abad pertama bumi ini menetas.

Padahal mau tapi berlagak ogah; sekadar nguji keleus xixixi.

“Abang serius ini, ayok mana?”

“Ini juga serius, Bang! Gak punya alamat, saya musafir!”

“Musafir apa?”

“Ya, musafirlah!”

“Musafir dari hati yang gagal move on?”

“Hahaa.”

Selera humor si Babang cukup klasik, sepertinya kalau diusik terus, bakal jadi teman yang asik, siapa tahu khilaf jadi cinta sejati, yang akan setia menemani, hingga kelak kita tua nanti.

Seminggu kemudian si abang pergi, dan tak kembali (cieee lagu). Mulai tumbuh bibit-bibit rindu, rasa tak bernama, yang jelas seperti kenyamanan; penerimaan baru setelah penolakan dari orang sebelumnya.

Mati satu tumbuh seribu; dikurangi 999.

Stalking dimulai, seketika jemari tangan tumbuh kudis teramat gatal; dinamai kudis kepo, sebab berhasrat mengacak profil, cari info siapa teman-temannya, apakah dia orang yang baik atau baik banget, terlebih lagi memastikan lelaki itu wajib maco bukan maho, soalnya entar jadi kalah gemulai binti bohay bo’.

Baca status, cek komentar dan balasan komentar, hadalaah, baperlah dunia akhirat. Sejak cemburu pertama; sejak itulah aku jatuh hati padamu, Bang. Seketika otak memutar ingatan tentang keinginannya melamar diri ini, tiba-tiba merasa jadi pemilik tunggal si babang tersebut, ya salam! Parah sumpah lo.

Galau sendiri, menebak-nebak apa yang akan terjadi, cemburu menguras bak mandi *eh wc, kesumat pada wanita lain; ingat namanya, kezzeeel tingkat mala-ikat. Padahal menurut sudut pandang orang waras lainnya, “itu komentar standar sih,” ternyata aku yang LEBAY, wuuuu.

Akhirnya, berkat resonansi; dia pun kembali menghiasi mimpi.

“Jadi, kapan kamu siap, Dek?”

“Hahh?” (*bicara dalam hati)

Seperti melihat pesannya di kolom pemberitahuan, mungkin hanya ilusi, “aku mah apa atuh, remahan bubuk rengginang di kaleng khongwan yang kauabaikan, hikzzz.” Kumat deh jin-nya.

“Mereka fans Madrid kita fans Barcelona, mereka sudah married kita masih merana.” Tulisnya di pesan masuk.

“Glek.” (*nelan ludah 2 ons)

Demi sempaknya squidward tentakel dari kota bikini batem, itu beneran pesan dari dia, si babang huwaaaaa … puja kerang ajaib, ulululululuuuu *eh, squidward emangnya pake sempak ya?

“Kamu lagi apa? Kok pesanku di-read aja?”

“Emm, seempak!”

“Apa?”

“Aisssh, refleks; musibah, maaf … maaf ya, lagi nonton nih,”

“Kamu nonton apa? Kok bahas sempak?”

“Spongebob, hehe.”

Sepertinya dia malu, aku yang terbiasa ceplas-ceplos, jadi ikutan malu, untunglah sama-sama menjaga kemaluan, karena malu adalah bagian dari iman, dan iman itu bagian dari hidupku.

“Maukah kamu mencintai Allah bersamaku?” tulisnya lagi.

“Glek.” (*nelan ludah 2 ons lagi)

Mulai aktifin radar curiga level mala-ikat; terdeteksi rangkaian kata super modus dari planet lebay di galaksi otak kekinian.

“Aku orang ke berapa yang kamu tawarin begituan, Bang?”

“Baru kamu.”

“Oh, mau nambah lagi.”

“Eh?”

“Aku gak suka digituin, Bang!”

“Saya pecinta wanita, bukan pengoleksi istri, Dek!”

“Tuh, ituuuu … lihat komen-komenanmu sama banyak cewek?”

“Oh, itu sekadar silaturahmi aja, kita kan makhluk sosial.”

Bujug buneng, kelepasan emosi, dasar otak wanita emang, itu hanya akan menunjukkan kecemburuan level maksimum, ugh! Mana jaim-nya woy, jaim doooong grrrrrrrrr #perangbatin wkwk

Akhirnya pasang trik terakhir memikat hati calon belahan jiwa ini, bukan dengan memberinya kesempatan untuk mendekat.

Tapi sengaja menjauh; karena sejatinya itu nafsu, yang kita sangka adalah cinta.

Lepaskanlah, semoga hati lebih tenang. Dan semoga kewarasan kembali merangkul hidupku, haha. []

loading...
loading...