ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Muslim Kaffah Versus Muslim STMJ

0

Advertisements

Oleh, Abdul Mutaqin

“SAYA sudah dua tahun taat menjalankan ibadah, tapi masih belum bisa lepas dari maksiat… Gimana Pak?”

Aslama-Yuslimu-Islaaman berarti tunduk, patuh, menyerah atau rela diatur. Orang yang tunduk, patuh, menyerah dan rela diatur oleh ketentuan Allah disebut muslim. Berarti, seorang muslim hanya patuh pada aturan Allah saja.

Berarti pula, seorang muslim tidak patut menundukkan totalitas kepatuhan hidupnya selain kepada Allah, kecuali sepanjang aturan itu bersesuaian dengan kehendak Allah atau dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Selain itu, never! Laa thoo’ata limakhluuqin fii ma’shiyati al-khaaliq.

“Saya adalah muslim” adalah pernyataan gampang dan paling umum diakui. Untuk membuktikan kebenaran pernyataan itu, cukuplah menunjukkan kartu indentitas yang mencatat kata Islam. Selesai.

Tetapi, “benarkah bahwa saya telah muslim sesuai catatan lauhul mahfuzh dan rekam jejak malaikat Rakib?” Ini menjadi lebih sulit dan secarik KTP itu tidak akan pernah bisa menjawabnya tuntas di dunia apalagi di akhirat.

Di mahkamah Allah nanti, KTP tidak bisa “berbicara”, meskipun camat yang menandatanganinya adalah pak haji bergelar profesor doktor lulusan luar negeri. Catatan dan rekaman Rakib dan ‘Atidlah yang akan menentukan apakah seseorang itu muslim atau bukan.

Di dunia, tidak sedikit orang yang lebih mengandalkan KTP dibanding akurasi catatan Rakib dan ‘Atid soal sebutan muslimnya. Tetapi di saat yang bersamaan, banyak KTP justeru mempermalukan identitas kemuslimannya saat ia meringkuk di penjara karena kasus kejahatan yang membelitnya.

Lalu, pada saat ia merasa merana di balik jeruji besi akibat ulahnya itu, barulah ia ingat Rakib dan ‘Atid, akrab dengan sajadah dan seketika itu pula ia melupakan KTP. Bersyukur ia masih bisa menata kepatuhannya pada Sang Pemberi Identias muslim kembali pada jalan yang lurus. Sungguh kufur apabila penjara bahkan bertambah menjadikannya lebih binal dari sebelumnya.

Perintah, anjuran dan larangan Allah adalah instrumen untuk mengukur seorang itu muslim atau bukan secara kasat mata. Selama perintah dan anjuran dikerjakan dan larangan itu dihindari dengan kesadaran atas iman kepada-Nya, maka pantaslah ia dinilai sebagai muslim.

Seorang muslim mu’min yang patuh menjadikan instrumen itu sebagai satu paket hidup; ibadah yes, maksiat no. Tidak patut ia mengambil ketaatan hanya pada sisi patuh pada perintah dan anjuran tetapi patuh pula pada hawa nafsu melanggar larangan-Nya alias ibadah yes, maksiat yes.

Apalagi abai pada perintah dan anjuran, patuh pada hawa nafsu melanggar larangan alias ibadah no, maksiat yes. Ada pula yang berkubang dalam zone of zero, memilih untuk menekan nafsu dari mengerjakan segala larangan tetapi abai pada segala perintah dan anjuran-Nya alias, maksiat no, ibadah noIbadah, yes, maksiat yes. Saat di masjid ia khusyu dengan takbir, ruku dan sujud lalu melangkah ke kedai khomer, mabuk dan meracau kehilangan akal.

Saat di ta’lim ia berceramah dengan sorban harum anggun di bahunya, lalu beringsut ke rumah bordil merayu, merajuk dan bergumul dalam selimut zina yang melenakan. Bisa jadi di waktu khusus ia bertalbiyyah, thawaf, sa’i dan wukuf dui ‘Arafah tetapi di bawah meja perkara pengadilan ia berselingkuh dengan praktek risywah dan jual beli perkara.

Barangkali pula ia rajin puasa, Senin-Kamisnya dawam tetapi gemar membungakan uang dan melipatgandakan harta benda dengan cara-cara menghisap. Atau ia gemar hadir di majlis-majlis dzikir dan ilmu, tetapi ringan tangan pada anak dan isteri, pelit, berlidah pahit dan suka mengadu domba. Di manakah efektifitas shalat, haji, tadarrus, puasa dan dzikirnya?

Ada apa sebenarnya? Allahu a’lam. Manusia tidak sanggup menyelami sisi batiniah sesamanya secara purna selain yang kasat mata zahirnya belaka.

Hal yang tetap harus ditumbuhkan, bahwa seorang muslim menjadi kuat karena keta’atannya pada Allah dan kekhusyu’annya dalam ibadah. Tetapi godaan agar seorang muslim tetap menjadi kuat dalam ketaatan dan ibadahnya datang bertubi-tubi dari depan, belakang dan dari arah samping kanan-kirinya.

Semakin kuat seorang muslim dalam ketaatan dan ibadahnya, semakin kuat godaan menimpanya. Tetapi semakin ikhlas dan istiqomah dalam ibadahnya itu, semakin dia kebal godaan seberapa besarpun godaan itu menghampirinya. Setan sang penggoda pun mengakui hal ini:

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,

kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka” (terjemah QS. Al Hijr [15] : 39-40)

Sekarang, maksiat banyak dipoles halus dan menjadi samar. Kemasannya mirip-mirip agama. Tampilannya bukan lagi hitam seperti hitamnya khomer, judi, zina, fitnah, membunuh, mencuri, korupsi atau berbagai wajah kezaliman manusia atas manusia.

Begitu samar dan halusnya, salah-salah, banyak di antara kita yang terjabak bahkan tanpa sadar terkagum-kagum lalu mengikuti tanpa reserve. Tahukah kita kemaksiatan model itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah kemaksiatan ilmu.

Kemaksiatan ilmu adalah penyelahgunaan kecerdasan untuk melawan Tuhan. Kitab suci kalam Tuhan sudah sampai kepada kita, misalnya bahwa diharamkan wanita muslimah dinikahkan dengan pria non-muslim.

Tetapi orang cerdas itu berani membalikkan hukum itu bahwa untuk konteks zaman sekarang pernikahan antar iman itu adalah halal demi kerukunan dan toleransi. Demi menyesuaikan konteks supaya Islam tidak ketinggalan zaman, begitu katanya. Atau keberanian salah seorang di antara mereka yang menumpahkan pemikiran bahwa lesbi, homoseksual dan pernikahan sesama jenis adalah halal, sebab di mata Tuhan orang dipandang mulia karena takwanya, bukan karena orientasi seksualnya.

Ada lagi mereka yang mengagumi pemikiran Barat sekuler dan menerimanya bulat-bulat tanpa kritik, tetapi getol mengktirik para ulama bahkan menghina para sahabat. Kemaksiatan dalam bentuk ini lebih buruk pengaruhnya dari sekedar mencuri seekor ayam, yang paling-paling bonyok digebukin orang sekampung lalu masuk penjara.

Bagaimana jika seseorang sudah terlanjur menjadi muslim STMJ, alias sholat terus, maksiat jalan? Yang pasti, memilih berhenti jadi muslim adalah keliru (na’udzubillaah). Tetapi terus menjalani lakon sebagai muslim STMJ juga tidak benar.

Yang benar, tanggalkan predikat itu, ganti dengan predikat muslim kaaffah. Meskipun untuk menuju ke arah sana, perlu waktu dan kesabaran yang tidak sedikit.

Beberapa hal yang mungkin dapat membantu jiwa keluar dari belitan maksiat dan supaya tetap pada ketaatan misalnya dengan bertobat. Taobat merupakan sarana dan fasiltas kemurahan Allah untuk manusia yang tidak mungkin sepi dari kesalahan. Dan Allah tidak pernah menutup pintu maaf untuk ummat yang rindu pada ampunan-Nya meskipun dosanya sundul ke langit. Percayalah, Allah bersama persangkaan hamba kepada-Nya, dan Allah bersamanya ketika dia mengingat-Nya.

Demi Allah, Allah sangat gembira menerima taubat seseorang, melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan kembali barangnya yang hilang di suatu tempat yang luas. Barangsiapa mendekat kepada-Nya sejengkal, maka Allah akan mendekat kepadanya sehasta. Apabila ia mendekat kepada-Nya sehasta, maka Allah akan mendekat kepadanya sedepa. Apabila ia datang kepada-Nya dengan berjalan, maka Allah akan datang kepadanya dengan berlari. Demikian seperti bunyi riwayat Imam Muslim dalam Sahihnya.

Kita hanya manusia biasa yang mencoba mengikuti manusia-manusia pilihan Tuhan. Lagi pula, manusia paling istimewa juga pernah menyatakan, bahwa sebaik-baik manusia bukanlah yang tidak pernah berbuat dosa, melainkan mereka yang bertaubat dan memperbaiki kesalahan dan dosa-dosanya. Karena itu, tidak ada manusia yang paling sombong selain orang yang selalu merasa benar dan tidak mau bertobat.

Pertobatan harus diiringi dengan penyesalan dan tekad kuat untuk tidak lagi mencicipi kesalahan yang sama dan berulang. Setelah itu, menghiasai diri dengan berbagai kebajikan yang dapat menghapus dan menutupi kesalahan yang lalu-lalu. Tentu, semua kebajikan itu benar-benar dilandasi dengan keikhlasan dan dilakukan dengan benar.

Jangan kira, tarikan magnet maksiat akan berhenti, bahkan bisa jadi semakin menggila. Maka langkah selanjutnya memasang ”alarm” ihsan untuk tetap mengingatkan kita bahwa ada Rakib dan ’Atid yang mengapit di kanan dan kiri. Meskipun mereka tidak nampak, in lam takun taraahu fainnahuu yarook.Mereka mengawasi, mengaudit setiap amal bahkan sekedar lintasan maksud di dalam benak.

Siapapun tidak bisa sendirian melawan kemauan nafsu yang berupaya menjauhkan dirinya dari Allah. Ia butuh teman, maka sebaiknya berkumpul dan bertemanlah dengan orang-orang soleh.

Orang-orang yang bisa menstimulasi berbuatan ma’ruf kepada sahabatnya. Dan mereka yang sabar tanpa pamrih mengingatkan kawulanya jika sudah mulai lagi bermain-main di bibir jurang kemaksiatan.

”Teman” yang paling konsisten memberikan kekuatan untuk tetap menjadi muslim kaaffah adalah Allah (ma’iyah). Dialah satu-satunya zat yang tidak bosan, tidak tidur, tidak lelah, tidak lalai dan tidak marah menuntun setiap manusia yang tengah terasing.

Dengan Do’a dan meminta ma’unah-Nya, adalah wasilah untuk tetap akrab pada-Nya dan setia dalam taat pada-Nya. Allahu a’lam.

Penulis adalah seorang guru dan pengarang buku Rehat Bersama Kyai Kocak

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline